Ketua Banggar DPR Said Abdullah Minta Pemerintah Siapkan Mitigasi Tantangan Ekonomi 2025

author Redaksi

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah
Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah

i

JAKARTA – Ketua Badan Anggaran DPR RI Said Abdullah minta pemerintah menyiapkan upaya mitigasi tantangan ekonomi tahun 2025.

Said mengamini berbagai proyeksi ekonomi Indonesia tahun ini tak jauh berbeda dengan yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025.

Contohnya, Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 sebesar 5,1 persen, sementara Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) mematok angka 5,2 persen. Kedua angka itu tak jauh dari target APBN 2025 sebesar 5,2 persen.

Di sisi lain, Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memprediksi nilai tukar rupiah tahun 2025 sebesar Rp16.100 per dolar AS, sedangkan APBN mematok level Rp16.000 per dolar AS.

“Dari seluruh proyeksi lembaga kredibel terhadap ekonomi makro kita di tahun 2025, tampak tidak berbeda jauh dengan target target APBN 2025. Namun kita tidak boleh terlena atas angka angka proyeksi tersebut. Sebab proyeksi bisa saja berubah bila dinamika ekonomi nasional dan global berubah drastis,” ujar Said dilansir laman resmi PDIP Jatim, Jumat (3/1/2025).

Politisi PDI Perjuangan ini menyoroti, setidaknya ada empat tantangan utama bagi perekonomian Indonesia tahun ini.

Pertama, risiko perang tarif antara China, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Jika perang tarif ini makin menajam, Indonesia berisiko terkena spillover effect.

Negatifnya, ketidakpastian bisnis global makin tinggi, biaya ekspor bisa berpotensi makin tinggi. Namun, bila Indonesia bisa menggantikan produk produk impor yang dibutuhkan kedua negara, maka peluang ekspor Indonesia akan besar.

“Dengan demikian, pemerintah dan eksportir harus membaca situasi ini sebagai peluang emas ke depan,” tuturnya.

Perang tarif juga bisa berdampak terhadap depresiasi rupiah. Belajar dari pengalaman 2018, banyak pelaku pasar yang menyalakan tombol ‘risk on’, atau lebih mengandalkan dolar AS daripada mata uang lainnya.

Bila efek penguatan dolar AS berlangsung lama akibat perang tarif yang berkepanjangan, kata Said, Indonesia perlu memanfaatkan diplomasi perdagangan internasional untuk membuat tata perdagangan dunia lebih adil.

“Setidaknya tidak merugikan kepentingan nasional Indonesia. Sedangkan di dalam negeri BI, OJK dan pemerintah perlu mengatur lebih ketat lagi atas devisa hasil ekspor untuk kepentingan nasional,” jelas dia.

China pun, sebagai mitra dagang terbesar Indonesia, menunjukkan pelemahan. Said mendorong pemerintah untuk mencari alternatif sebagai pengganti ekspor ke China yang menurun.

Tantangan kedua yaitu menurunnya kelas menengah dan konsumsi rumah tangga.

Menurut Said, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bisa menjadi salah satu solusi, lantaran program ini mendorong peningkatan gizi anak sekaligus menggerakkan ekonomi UMKM sehingga memberikan dampak ganda ekonomi.

“Sektor UMKM akan menyerap produk-produk petani dan peternak. Apalagi sektor UMKM menopang tenaga kerja terbesar di Indonesia,” sebutnya.

Tantangan ketiga adalah indikasi deindustrialisasi. Kontribusi industri pengolahan nonmigas terhadap PDB menyusut dari 21,28 persen pada 2014 menjadi 18,67 persen pada 2023.

Namun, Said berpendapat peluang industri manufaktur Indonesia memiliki peluang besar kendati angka statistik menunjukkan penurunan.

Pemerintah bisa mendorong perluasan program hilirisasi yang saat ini masih terbatas di sektor nikel.

Bila hilirisasi bisa diperluas ke bahan tambang selain nikel, perkebunan, pertanian dan kehutanan, terutama yang menjadi kebutuhan rantai pasok global, Said meyakini risiko deindustrialisasi bisa dicegah, sekaligus mendorong pertumbuhan kelas menengah yang berpeluang menopang kebutuhan industri.

Tantangan terakhir terkait dengan investasi. Menurut dia, pembangunan infrastruktur yang masif dilakukan selama 10 tahun terakhir serta kehadiran UU Cipta Kerja dapat berdampak positif terhadap Incremental Output Rasio (ICOR).

Namun dua tahun berturut turut ICOR Indonesia tertahan di angka 6, dan tertinggi dibandingkan negara sebaya.

“Bila dikaitkan dengan laporan The Economist, tingginya ICOR Indonesia mengindikasikan masih tingginya praktik korupsi dan problem struktural, seperti tidak efisiennya birokrasi,” terang Said.

Maka, imbuhnya, pemerintah perlu membereskan persoalan korupsi serta memberikan pesan yang jelas kepada investor dan pelaku pasar tentang arah kebijakan perekonomian lima tahun ke depan.

“Dengan ICOR yang rendah maka produk ekspor Indonesia bisa berdaya saing di pasar global. Menurunnya tingkat korupsi juga menguatkan kepercayaan kepada pemerintah,” tutupnya. (PDIP)

Berita Terbaru

Siap Mengawal Aspirasi dan Tangani Karhutla, Kapolda Sulbar Cek Langsung Kesiapan Personel dan Sarpras

Siap Mengawal Aspirasi dan Tangani Karhutla, Kapolda Sulbar Cek Langsung Kesiapan Personel dan Sarpras

Senin, 19 Okt 2026 20:57 WIB

Senin, 19 Okt 2026 20:57 WIB

POLDA SULBAR- Kesiapan melindungi masyarakat dimulai dari personel yang terlatih dan peralatan yang siap digunakan. Semangat tersebut mendasari pengecekan…

Hadir Saat Warga Membutuhkan, Kapolda Sulbar Pastikan Kesiapan Pelayanan di Polresta Mamuju

Hadir Saat Warga Membutuhkan, Kapolda Sulbar Pastikan Kesiapan Pelayanan di Polresta Mamuju

Senin, 19 Okt 2026 20:55 WIB

Senin, 19 Okt 2026 20:55 WIB

MAMUJU – Setiap warga yang datang ke kantor polisi membawa harapan untuk didengar, dibantu, dan mendapatkan perlindungan. Harapan itulah yang menjadi semangat k…

Kapolda Sulbar dan Jajaran Pejabat Utama Turun Langsung Atur Lalu Lintas dan Sapa Masyarakat

Kapolda Sulbar dan Jajaran Pejabat Utama Turun Langsung Atur Lalu Lintas dan Sapa Masyarakat

Senin, 19 Okt 2026 15:02 WIB

Senin, 19 Okt 2026 15:02 WIB

POLDA SULBAR- Ada yang berbeda dari keramaian lalu lintas pagi di Kota Mamuju, Senin (19/10/26). Jika biasanya di setiap persimpangan jalan hanya terlihat…

Dispendik Surabaya Imbau SD-SMP Manfaatkan Destinasi Lokal untuk Outing Class

Dispendik Surabaya Imbau SD-SMP Manfaatkan Destinasi Lokal untuk Outing Class

Senin, 19 Okt 2026 14:58 WIB

Senin, 19 Okt 2026 14:58 WIB

SURABAYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengimbau sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) mengoptimalkan destinasi wisata edukasi dan ruang…

KPK: Pejabat BNPB Diduga Terima Suap Rp2,38 Miliar dan Emas 325 Gram

KPK: Pejabat BNPB Diduga Terima Suap Rp2,38 Miliar dan Emas 325 Gram

Senin, 19 Okt 2026 14:55 WIB

Senin, 19 Okt 2026 14:55 WIB

JAKARTA- KPK mengungkap dugaan penerimaan suap oleh pejabat BNPB terkait pengadaan yang menggunakan DSP kebencanaan. Suap tersebut diduga diterima dalam bentuk …

Hari Santri 2026, PKB Kota Surabaya Ajak Santri dan Santriwati Jaga Tradisi Pesantren dan Keutuhan Negeri

Hari Santri 2026, PKB Kota Surabaya Ajak Santri dan Santriwati Jaga Tradisi Pesantren dan Keutuhan Negeri

Senin, 19 Okt 2026 14:04 WIB

Senin, 19 Okt 2026 14:04 WIB

SURABAYA – Menjelang peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2026, Ketua DPC PKB Kota Surabaya Muhammad Faridz Afif atau Gus Afif mengajak seluruh s…