SOLO - Sebuah momen istimewa mewarnai pagelaran Ringgitan Anggara Kasih di Karaton Surakarta Hadiningrat, Senin malam (19/10/2026). Sri Susuhunan Pakubuwana XIV tampil memainkan wayang sebagai pembuka pertunjukan, sekaligus menghadirkan kembali pusaka wayang Kanjeng Kiai Jimat yang disebut sebagai peninggalan era Pakubuwono IV.
Pagelaran yang berlangsung di Kagungan Dalem Peringgitan Bangsal Parasdyа tersebut mengangkat lakon Dewa Ruci. Setelah PB XIV memainkan wayang pada bagian pembukaan, pertunjukan dilanjutkan oleh dalang utama, Dr. KPH Raditya Lintang Sasangka, M.Si., yang merupakan cucu Pakubuwono X. Dalang kondang Ki Purbo Asmoro turut hadir menyaksikan pagelaran tersebut.
Keterlibatan langsung PB XIV menjadi sorotan tersendiri dalam kegiatan budaya tersebut. Tidak hanya menyaksikan pertunjukan, raja turut mengambil bagian dalam tradisi pedalangan yang memiliki sejarah panjang di lingkungan Karaton Surakarta Hadiningrat.
Momen ini semakin bermakna dengan penggunaan Kanjeng Kiai Jimat, pusaka wayang yang menurut GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng merupakan peninggalan masa Pakubuwono IV dan memiliki koleksi hampir 700 tokoh wayang.
PB XIV Turun Langsung Memainkan Wayang
Sebelum pertunjukan utama dimulai, PB XIV terlebih dahulu memainkan wayang sebagai pembuka Ringgitan Anggara Kasih. Selanjutnya, Dr. KPH Raditya Lintang Sasangka, M.Si., melanjutkan pagelaran dengan lakon Dewa Ruci.
Keterlibatan langsung PB XIV memberikan dimensi tersendiri bagi pelestarian seni pedalangan di lingkungan karaton. Tradisi tidak hanya dihadirkan melalui pertunjukan, tetapi juga melalui keterlibatan langsung dalam praktik kebudayaan yang diwariskan lintas generasi.
Dalam kebudayaan Jawa, wayang merupakan media seni yang memadukan cerita, karakter, nilai moral, dan pandangan filosofis tentang kehidupan. Melalui tokoh-tokohnya, pewayangan menyampaikan berbagai ajaran tentang tanggung jawab, keberanian, kesetiaan, dan pencarian makna hidup.
Kehadiran Ki Purbo Asmoro yang menyaksikan pagelaran tersebut turut menambah perhatian terhadap kegiatan budaya ini. Namun, salah satu daya tarik utama malam itu adalah kembalinya pusaka wayang bersejarah ke ruang pertunjukan.
Kanjeng Kiai Jimat, Pusaka Wayang Peninggalan Pakubuwono IV
GKR Koes Moertiyah Wandansari atau Gusti Moeng, selaku Pengageng Sasana Wilapa dan Ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat, menjelaskan bahwa Kanjeng Kiai Jimat merupakan pusaka wayang yang memiliki nilai sejarah penting bagi karaton.
Menurut Gusti Moeng, pusaka tersebut merupakan peninggalan masa Pakubuwono IV dengan koleksi hampir 700 tokoh wayang. Kekayaan koleksi itu menjadi bagian dari warisan seni pedalangan yang tersimpan dalam sejarah Karaton Surakarta Hadiningrat.
Gusti Moeng juga mengungkapkan bahwa pusaka tersebut pernah dimainkan pada masa Pakubuwono XII, termasuk dalam pementasan di Sasana Handrawina. Ia mengingat dalang Ki Anom Suroto pernah memainkan wayang tersebut dalam pertunjukan terdahulu.
Gusti Moeng memperkirakan Kanjeng Kiai Jimat terakhir dipentaskan sekitar 1993. Apabila perkiraan tersebut tepat, penggunaan kembali pada Oktober 2026 menandai jeda sekitar 33 tahun. Tahun pementasan terakhir tersebut masih perlu dipastikan melalui dokumentasi atau catatan sejarah karaton.
Kembalinya pusaka tersebut ke panggung pedalangan menjadi pengingat bahwa pelestarian warisan budaya tidak cukup dilakukan melalui penyimpanan dan perawatan benda bersejarah. Tradisi penggunaan, pengetahuan tentang tokoh-tokoh wayang, serta keterampilan pedalangan juga perlu dijaga agar dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.
Tradisi Wayangan Sejak Era Pakubuwono IV Kembali Dihidupkan
Dr. KPH Raditya Lintang Sasangka, M.Si., selaku dalang utama Ringgitan Anggara Kasih, menjelaskan bahwa tradisi wayangan tersebut telah berlangsung sejak masa Pakubuwono IV dan kembali dihidupkan pada masa Pakubuwana XIV.
Sebagai cucu Pakubuwono X, Raditya berada dalam lingkungan tradisi yang memiliki hubungan panjang dengan sejarah Karaton Surakarta. Keterlibatannya sebagai dalang utama dalam pagelaran ini turut menjadi bagian dari kesinambungan seni pedalangan yang diwariskan lintas generasi.
Tradisi tersebut tidak hanya berkaitan dengan penyelenggaraan pertunjukan, tetapi juga dengan penerusan pengetahuan mengenai tokoh wayang, cerita, teknik pedalangan, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Melalui Ringgitan Anggara Kasih, tradisi wayangan kembali memperoleh ruang untuk dipraktikkan dan diperkenalkan kepada masyarakat. Penggunaan Kanjeng Kiai Jimat sekaligus menghubungkan pagelaran masa kini dengan jejak sejarah pedalangan di lingkungan karaton.
Dewa Ruci, Kisah Pencarian Hakikat Pengetahuan
Lakon Dewa Ruci yang dipentaskan malam itu mengangkat perjalanan Bima dalam mencari hakikat pengetahuan dan jati diri. Kisah ini dikenal dalam tradisi pewayangan Jawa sebagai cerita yang sarat dengan nilai kesungguhan, keberanian, keteguhan, dan pencarian makna kehidupan.
Perjalanan Bima menggambarkan bahwa pencarian pengetahuan tidak selalu berlangsung mudah. Ia harus menghadapi berbagai tantangan dan menjalani proses panjang untuk memahami hakikat yang dicari.
Dalam tradisi pewayangan, Dewa Ruci kerap dimaknai sebagai gambaran perjalanan batin manusia untuk mengenali dirinya sendiri dan memahami kehidupan secara lebih mendalam.
Nilai filosofis tersebut membuat lakon ini tetap relevan bagi masyarakat masa kini. Melalui cerita, karakter, dan simbol-simbol pewayangan, pesan kehidupan dapat disampaikan sekaligus menjadi ruang perenungan bagi penonton.
Penggunaan pusaka Kanjeng Kiai Jimat dalam pertunjukan tersebut mempertemukan nilai sejarah benda peninggalan dengan kekayaan cerita yang terus hidup dalam tradisi Jawa.
Menghidupkan Pusaka, Menjaga Warisan Leluhur
Pagelaran Ringgitan Anggara Kasih mempertemukan sejarah pusaka, keterampilan pedalangan, dan filosofi pewayangan dalam satu kegiatan budaya. Keterlibatan PB XIV, penggunaan Kanjeng Kiai Jimat, serta pementasan lakon Dewa Ruci menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi di lingkungan Karaton Surakarta Hadiningrat.
Pelestarian budaya membutuhkan lebih dari sekadar menjaga benda peninggalan. Diperlukan pula ruang pertunjukan, penerusan pengetahuan, serta keterlibatan generasi masa kini agar tradisi tetap dikenal dan dipahami.
Kanjeng Kiai Jimat menyimpan jejak perjalanan seni pedalangan Karaton Surakarta. Sementara itu, pertunjukan langsung memberikan ruang bagi warisan tersebut untuk kembali hadir dalam kehidupan budaya.
Momen PB XIV memainkan wayang sebagai pembuka menjadi bagian dari rangkaian upaya tersebut. Cerita kembali dimainkan, nilai-nilai budaya kembali disampaikan, dan pusaka bersejarah kembali hadir di panggung.
Pada akhirnya, nilai sebuah pusaka tidak hanya terletak pada usia atau jumlah koleksinya, tetapi juga pada pengetahuan, cerita, dan tradisi yang terus diwariskan.
Melalui Ringgitan Anggara Kasih, Karaton Surakarta Hadiningrat menghadirkan kembali warisan pedalangan dalam ruang kebudayaan masa kini, sekaligus membuka kesempatan bagi generasi berikutnya untuk mengenal dan meneruskan kekayaan budaya leluhur.
Tentang kegiatan
Ringgitan Anggara Kasih merupakan pagelaran seni pedalangan di lingkungan Karaton Surakarta Hadiningrat. Pagelaran pada Senin malam, 19 Oktober 2026, mengangkat lakon Dewa Ruci dan menghadirkan pusaka wayang Kanjeng Kiai Jimat. (*)
Editor : Redaksi