SURABAYA, Bacasaja.id - Selamat datang di Surabaya, kota pahlawan yang kini punya atraksi baru, yakni wahana tebak-tebakan anatomi berhadiah cacat permanen garapan dr. Riza Zaenudin.
Di bawah naungan sumpah janji suci kedokteran yang mendadak terasa fiktif, sang oknum praktisi sukses menggelar pameran kerusakan fisik dan mental ekstrem pada wajah pasiennya sendiri.
Sebuah pencapaian estetika yang begitu "revolusioner" hingga mampu mengubah fungsi hidung dari alat pernapasan menjadi mesin penyedot tabungan senilai miliaran rupiah.
Mari kita bedah secara klinis dan sarkastis cetak biru penderitaan korban, yang diukir dengan ketelitian tanpa batas sejak awal tahun 2024.
Januari 2024 – Kulminasi Pahat Hidung Tanpa Izin
Kanvas Diserahkan
Korban dengan kepasrahan total menyerahkan hidungnya untuk "dipahat" oleh jemari dr. Riza. Z
Sihir Medis
Alih-alih mendapatkan struktur wajah proporsional, korban justru dihadiahi gerbang penderitaan tiada akhir.
Amnesia Rekam Medis
Sungguh kocak, pihak dokter mendadak terserang disorientasi waktu dan mengklaim operasi baru terjadi pada Maret 2024—sebuah trik sulap rekam medis yang kini ditantang korban untuk dibuka secara transparan, itu pun kalau mereka punya nyali.
Februari 2025 – Konsistensi dalam Kegagalan
Anomali Menakjubkan
Pasca-operasi, bentuk hidung korban bukannya menawan melainkan makin abstrak.
Evaluasi Nihil
Bukannya mundur dan merenung, dr. Riza tetap melanjutkan rangkaian penanganan lanjutan dengan hasil yang sangat konsisten: zonk dan membingungkan.
Oktober 2024 – Tumbal Daun Telinga dan Arsitektur Ekstrem
Eksperimen Radikal
Melihat hidung pasiennya kian kritis, dr. Riza beralih profesi menjadi arsitek brutal dengan memotong tulang rawan daun telinga korban untuk dicangkok ke hidung.
Penolakan Alami
Hasil dari operasi radikal ini? Plot twist luar biasa. Tubuh korban secara tegas menolak "karya seni" sang dokter, memicu keluhan parah yang berulang seolah organ tubuhnya ikut berteriak protes.
Agustus 2026
Diplomasi Uang Gaib Rp50 Juta
Somasi Dilayangkan
Lelah dijadikan kelinci percobaan, korban melayangkan somasi resmi.
Janji Manis Bermusyawarah
Pada 30 Agustus 2026, sang dokter dengan sangat "dermawan" berjanji mencarikan dokter pengganti yang kompeten dan menawarkan pesangon pelepasan (removal) sebesar Rp50 juta.
Status Uang Gaib
Sayangnya, janji itu menguap menjadi mitos. Korban menegaskan tidak pernah melihat, apalagi menerima uang yang mendadak berstatus gaib tersebut.
Dampak Komprehensif
Paket Komplit Hancurnya Fisik dan Psikis
Klinik Misterius
Proses mutilasi estetika ini ternyata tidak dilakukan di rumah sakit megah, melainkan secara bergerilya di kamar Apartemen Balle Hinggil dan Hotel Crown Surabaya, sukses memicu ancaman infeksi jaringan yang siap mengintai kapan saja.
TAGIHAN FANTASTIS
Untuk memperbaiki hidung yang telanjur cacat ini, dibutuhkan operasi rekonstruksi fungsional seharga Rp1,7 miliar hingga Rp2 miliar. Angka yang sangat rasional untuk membayar sebuah kecerobohan profesional, di luar biaya obat penenang trauma psikis yang tidak dijual di apotek mana pun.
TRAUMA PSIKIS ALIAS GONCANGAN JIWA
Korban kini dihadiahi kecemasan abadi setiap kali berkaca, menukar masa depan cerahnya dengan rutinitas minum obat dan keputusasaan ekstrem.
HUKUM BERGERAK, SANG DOKTER MEMILIH JALAN ASKETIS
Karena tenggat waktu damai dua minggu hanya dianggap angin lalu, kasus ini resmi mendarat di meja kepolisian. Kuasa hukum korban, Carissa Nanushka Kumala Dewi, S.H., dengan wibawa hukum yang dingin menyatakan bahwa jalur pidana terpaksa diambil karena diplomasi kekeluargaan hanya dijadikan ajang mengulur waktu tanpa iktikad baik.
Fokus penyidik saat ini sangat sederhana, yakni membongkar apakah dr. Riza telah menabrak batas kompetensi, perizinan, dan kewenangan klinis yang legal.
Sementara hukum mulai mengintai, dr. Riza justru memilih jurus pamungkas: bungkam seribu bahasa. Saat dikonfirmasi oleh awak media, demi asas cover both sides, saluran komunikasi sang dokter mendadak mati suri.
Tampaknya, bersembunyi dari kejaran pertanyaan wartawan jauh lebih mudah daripada memperbaiki hidung pasien yang sudah hancur.
Kita lihat saja, sampai kapan keheningan konspiratif di balik jas putih itu mampu menahan laju borgol hukum yang kian mendekat.
(Wied)
Editor : Redaksi