SINETRON "MEDITASI HARAM": KETIKA SANG LURAH LEBIH MEMILIH PELESIR LEWAT KANTONG PREMAN

Reporter : Redaksi
Ilustrasi

SURABAYA, Bacasaja.id - Misteri kesaktian Pasar Tumpah Banyu Urip yang kebal dari segala macam surat sakti Balai Kota Surabaya akhirnya terbongkar! Usut punya usut, diamnya Lurah Dedy Ahmad Choiruddin—yang katanya masih ada hubungan "halo paman" dengan Walikota Eri Cahyadi—bukan karena beliau sedang mendalami ilmu kebatinan tingkat tinggi. Melainkan karena ada "jimat penangkal" berbentuk lembaran rupiah yang bikin amnesia birokrasi.

Dalam lakon komedi berkedok pelayanan publik ini, muncul nama Nurul Huda, petugas Bangtib Kelurahan yang mendadak alih profesi menjadi "kurir cinta" pengumpul upeti. Nurul diduga menjadi jembatan emas yang menghubungkan bos besar lapak liar berinisial MS dengan meja kerja Pak Lurah, bahkan infonya sampai merembes hangat ke tingkat Kecamatan. 

Baca juga: BPN Surabaya II Miliki Gedung Baru di Rungkut, Langsung Tancap Gas Pelayanan

Pantesan instruksi pembongkaran dari pusat selalu membeku bak es lilin di dalam kulkas mati!
Mari kita hitung kalkulator gaib milik MS dan kroninya:
346 pedagang ditarik "pajak aspal" Rp3.000 sampai Rp5.000 sehari.
Hasilnya? Uang receh terkumpul jadi Rp31 juta sampai Rp51,9 juta sebulan!
Ditambah "bonus" dari dua lokasi potong ayam sebesar Rp65 juta per bulan.
Total jenderal, ada sekitar Rp116 juta lebih uang haram yang menguap setiap bulan ke kantong pribadi, tanpa permisi ke kas daerah.

Sementara warga Surabaya disuruh bayar "pajak kemacetan" pakai modal sabar dan elus dada di jalanan, para oknum ini sibuk menghitung duit sambil ngopi santai.
Lucunya lagi, begitu borok ini ditulis oleh media, kubu sebelah langsung panik berjamaah. Bukannya bikin rilis klarifikasi yang elegan, mereka malah mengirim "pasukan otot" dari dua ormas besar untuk meneror wartawan. 

Baca juga: Parade SFF 2026 Sedot Ribuan Mata Pengunjung Tunjungan

Alih-alih bikin takut, aksi premanisme ini malah bikin publik makin paham. Oh, pantesan galak, jatah preman ekosistem punglinya lagi terancam toh?

Pena jurnalis tidak akan tumpul cuma karena gertakan ormas maupun bayangan preman. Sekarang tinggal kita tunggu saja, apakah Satpol PP pusat dan penegak hukum punya nyali untuk menyapu bersih komplotan "penyembah uang receh" ini, atau malah ikut-ikutan pura-pura bertapa? Kita lihat saja episode selanjutnya!

Baca juga: Liburan Sekolah Makin Seru, Anak-anak Antusias Ikuti Jelajah Edukatif Frisian Flag di Surabaya

(wied)

Editor : Redaksi

Hukum
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru