BACASAJA.ID - Bupati Tulungagung Maryoto Birowo, meresmikan pameran keris tosan aji dan bazar UMKM, Jum’at (4/3/22) malam.
Kegiatan ini digelar di rumah mantan Bupati Tulungagung, Syahri Mulyo di jalan Raya Ngantru.
Dalam sambutannya, Maryoto katakan kaum milenial bisa memahami seni dan makna filosofis dari keris.
“Pemuda harus mengerti arti dan makna filosofis dari keris, yang merupakan salah satu budaya orang Indonesia dan Jawa khususnya,” jelasnya.
Keris dalam masyarakat Jawa sering dianggap jimat, yang merupakan akronim dari Aji dan dirumat. Artinya barang berharga dan dirawat.
Jika dilihat, bilah keris mempunyai corak yang berbeda-beda. Pembentukan corak ini membutuhkan teknologi pengolahan logam yang cukup tinggi.
Namun di tangan empu atau pembuat keris, teknologi ini sudah dikenal, meski dengan alat yang lebih sederhana.
Sebelum membuat, mereka menjalani lelaku untuk mensucikan tubuh, pikiran dan hati.
“Leluhur dulu, kalau mebuat sebuah Keris harus bertapa brata terlebih dahulu, dan tidak serta merta membuat keris secara asal, perlu sebuah pertimbangan seperti penentuan hari, dan upacara tertentu dalam pembuatannya,” Jelas Maryoto.
Maryoto melanjutkan, salah satu upaya untuk melestarikan keris adalah dengan pameran.
Dengan pameran ini, bisa mengenalkan keunikan keris pada kaum milenial.
“Dengan adanya pameran keris, diharapkan masyarakat khususnya kaum milenial, lebih memperhatikan dan ikut melestarikan budaya,” pungkasnya.
Sementara itu Ketua panitia pameran tosan aji, Tura menjelaskan ada 20 keris yang dipamerkan.
Pameran keris ini diikuti oleh 12 pelapak dari berbagai kota.
“ Jadi Keris yang dibursakan itu dijual, dan setiap pelapak bebas membawa Keris berapapun,” katanya.
Tura melanjutkan, untuk acara pameran Keris, dimulai tanggal 4-6 Maret 2022, yang akan dipamerkan setiap jam 09.00 WIB – 22.00 WIB.
Sementara itu salah satu pebursa Keris asal Pekalongan, Suroso menjelaskan, pihaknya sudah sering ikut pameran dan bursa keris.
Menurut Suroso, tak ada harga pasti untuk sebuah keris. Keris dijual dengan sistem mahar, atau kesepakatan antara penjual dan pembeli.
“Dalam bahasa penjualan Keris itu mahar, dan Keris tidak dipatok harga, namun kesepakatan kedua belah pihak,” katanya.
Meski demikian, mahar keris terbilang cukup tinggi. Dari puluhan keris yang dibawanya, harganya antara 1-30 juta rupiah.
Keris termurah biasanya berusia muda dan mempunyai pamor yang pasaran, seperti pedaringan kebak atau polos.
Sedang keris berharga tinggi mempunyai usia yang tua dan mempunyai pamor langka seperti blarak cineret atau melati kebak.
“Dulu mahar yang pernah diterima, mulai Rp 1 juta hingga Rp 30 juta, seperti Keris jenis Blarak Cineret, dan Melati Kebak,” katanya.
Keris-keris ini diperoleh Suroso dari desa ke desa. Keris yang diperolehnya biasanya yang sudah tidak dirawat oleh pemilik lamanya.
Keris itu lalu dibersihkan agar terlihat terawat.
“Jadi leluhur saya memberikan warisan berupa pusaka, dan diajari untuk merawatnya, dengan cara mengoleskan minyak khusus sebulan sekali agar tidak karatan,” pungkasnya (JP/t.ag).
Editor : Redaksi