BACASAJA.ID- Bakteri anthrax yang menyerang desa Sidomulyo Kecamatan Pagerwojo sudah mulai terkendali. 6 warga yang terindikasi terkena bakteri ini rerata sudah dalam kondisi yang baik.
Seperti Kepala Dusun Toro, Desa Sidomulyo, Kecamatan Pagerwojo, Agung Aris Saputra. Agung merupakan 1 dari 6 warga yang terindikasi terkena anthrax.
Di tangannya terdapat luka dengan bagian tengah menghitam. Lantaran lukanya ini, Agung untuk sementara waktu tak boleh mendekati ternak sapi miliknya. Sebab bakteri anthrax yang diderita bisa menular ke sapi miliknya.
Sementara bakteri ini tidak bisa menular dari manusia ke manusia. “Untuk berjaga-jaga, saya tidak berani dekat dengan binatang apa pun. Karena antraks butuh media hewan untuk menular,” terang Agung, saat ditemui di rumahnya, Selasa (8/6/2021).
Untuk sementara, belasan sapi miliknya dirawat oleh ayahnya. Agung menuturkan, lingkungan rumahnya bukanlah wilayah endemik anthrax. Namun pada 25 Mei lalu ada 1 anak sapi di lingkunga lain yang mati.
Di saat bersamaan, petugas dari balai Veteriner Jogjakarta tengah melakukan pemantauan di desanya. Lalu mereka mengautopsi bangkai anak sapi tersebut. Sebagai perangkat desa, Agung membantu proses tersebut.
“Sapi yang mati terbukti terindikasi antraks. Diduga saya tertular saat antraks saat membantu autopsi itu,” tambahnya.
Tiga hari kemudian muncul bonjolan kecil di tangan kanannya dan kian membesar seiring waktu. Lalu Agung mengalami demam, badannya meriang panas dingin. Pada benjolan itu lalu muncul luka dengan bagian tengah berwarna hitam yang mengeras.
“Pada saat itu petugas kesehatan sudah bersiaga, jadi saya diberi obat. Sekarang sudah membaik, tinggal menunggu sembuh lukanya,” tutur Agung.
Agung merupakan warga terakhir yang terindikasi Anthrax. 5 warga lainya kondisinya sudah membaik, tinggal menunggu lukanya sembuh total.
“Jadi tidak perlu khawatir, semua sudah terkendali. Warga juga sudah tenang,” ucap Agung.
Agung menuturkan, awal munculnya kabar sapi mati membuat warganya resah. Lalu muncul dugaan sapi mereka mati akibat disantet. Warga lega penyebab kematian sapi mereka sudah diketahui.
“Semua sudah beraktivitas seperti biasa. Petugas kesehatan juga sudah memberi penyuluhan, apa yang harus kami lakukan untuk mengendalikan antraks,” tandas Agung.
Setidaknya ada sekitar 26 sapi dan 3 kambing yang mati beruntun di Desa Sidomulyo. Dari pemeriksaan laboratorium, bangkai sapi terkahir yang mati terindikasi Anthrax.
Ada enam warga yang mengalami luka dengan ciri khas penyakit anthrax. Petugas sudah mengambil sampel luka mereka untuk diuji di laboratorium (Noyo/JP).
Editor : Redaksi