Alami Peningkatan, 8.080 Balita Di Surabaya Terjangkit Pneumonia

bacasaja.id
Ilustrasi Pneumonia

BACASAJA.ID - Penderita pneumonia atau yang lebih dikenal dengan radang paru-paru masih banyak ditemukan. Berdasar hasil temuan Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya tahun ini, jumlah warga yang terjangkit pun mengalami peningkatan. Terutama pada balita yang berusia 1 hingga 5 tahun.

Kepala Dinkes Surabaya Nanik Sukristina mengatakan, jumlah penderita pneumonia tahun ini mencapai 11.512 orang.

Dari angka tersebut, balita berumur 1 hingga 5 tahun mendominasi dengan angka 8.080 anak. Temuan pneumonia pada balita telah mencapai 89,6 persen dari target.

’’Jika berumur di atas 5 tahun, tidak ada target khusus,’’ ucapnya kemarin (15/9).

Nanik menerangkan, kenaikan temuan dibandingkan tahun lalu itu tak terlepas dari faktor pandemi Covid-19. Sebab, tahun ini skrining dapat dilakukan dengan lebih optimal sehingga pneumonia bisa terdeteksi lebih dini dan tak sampai pada kondisi pneumonia berat. Namun, dia tak memerinci jumlah peningkatan temuan pneumonia yang terjadi.

Menurut dia, kelompok usia balita lebih rentan terjangkit karena anak di fase itu mulai aktif dan berinteraksi dengan lebih banyak orang. Mereka rentan terinfeksi terutama jika berada di lingkungan yang kurang sehat. Serta, status gizi yang tidak sesuai dan status imunisasi yang belum lengkap.

’’Puskesmas Wiyung tertinggi mencapai 560 anak dan terendah ada di Puskesmas Gunung Anyar, yaitu hanya satu anak,’’ paparnya.

Penanganan medis yang diberikan melihat kondisi dan klasifikasi klinis setiap pasien. Namun, tata laksana pneumonia pada balita sudah sesuai dengan Pedoman Kementerian Kesehatan (Kemenkes) 2016. Tak hanya itu, 63 puskesmas Surabaya juga telah melaksanakan tata kelola sesuai pedoman tersebut.

’’Kalau dilihat dari kunjungan balita dengan gejala batuk dan kesulitan bernapas, jumlahnya mencapai 47.257 anak se-Surabaya,’’ ujar mantan sekretaris dinas sosial itu.

Terpisah, Kepala Puskesmas Sidosermo dr Arista Agung Santoso menjelaskan, pneumonia merupakan penyakit paru-paru yang dapat disebabkan infeksi virus, bakteri, hingga jamur.

Anak-anak lebih rentan terpapar karena kekebalan tubuh mereka tak sekuat orang dewasa. Namun, siapa pun bisa terkena karena penularannya tergolong cepat melalui pernapasan seperti Covid-19.

’’Bisa juga dipengaruhi kesehatan lingkungan di sekitarnya. Mulai polusi hingga asap rokok,’’ jelas dia.

Arista mengungkapkan, pneumonia sering kali menduduki peringkat I hingga III dari 10 penyakit dengan jumlah pasien terbanyak seperti diabetes dan hipertensi.

Gejala umumnya adalah masalah pernapasan seperti batuk, sesak, demam, hingga nyeri di seluruh tubuh. Pengobatan pneumonia pun harus menyesuaikan dengan penyebabnya.

’’Misalnya, kalau karena bakteri, bisa dikasih antibiotik. Tentunya setelah periksa ke dokter ya,’’ ujarnya.

Supaya anak-anak tak rentan terkena pneumonia, vaksinasi pneumococcal conjugate vaccine (PCV) diperlukan. Dosis yang diberikan sebanyak tiga kali, yakni saat balita berumur 2 bulan, 3 bulan, dan 12 bulan.

Arista mendengar bahwa vaksinasi PCV akan dilakukan secara nasional. Namun, dia belum mengetahui sudah sejauh mana prosesnya.

Jika tak kunjung diatasi, lanjut dia, pneumonia dikhawatirkan dapat mengakibatkan komplikasi berat yang berujung kematian.

’’Bisa muncul abses, cairan, hingga gagal napas di paru-paru,’’ terangnya.

WASPADAI PNEUMONIA PADA BALITA

– Sebanyak 8.080 dari 11.512 temuan adalah balita berusia 1 hingga 5 tahun.

– Penyebab pneumonia adalah bakteri, virus, atau jamur yang menular lewat pernapasan.

– Sejumlah intervensi bisa dilakukan. Mulai pemberian ASI eksklusif hingga pengurangan polusi udara dalam dan luar ruangan.

– Temuan tertinggi berada di Puskesmas Wiyung sebanyak 560 anak. Yang terendah berada di Puskesmas Gunung Anyar sebanyak 1 anak.

– 63 puskesmas telah melaksanakan tata kelola sesuai pedoman Kementerian Kesehatan 2016.

– Penanganan medis menyesuaikan klasifikasi dan kondisi klinis pasien. (JP)

 

 

Editor : Redaksi

Hukum
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru