SURABAYA- Fenomena pasar tumpah di Pasar Krukah, Kelurahan Ngagel Rejo kembali menjadi perbincangan. Namun di balik tudingan yang kerap diarahkan kepada pedagang kaki lima (PKL), ada fakta yang jarang diungkap: pasar ini “tumpah” bukan tanpa sebab.
Kondisi pasar yang kumuh, tidak terawat, dan dinilai sudah tidak layak menjadi pemicu utama. Banyak pedagang akhirnya memilih berjualan di luar area pasar demi menarik pembeli dan mendapatkan tempat yang lebih “hidup”. Ini bukan soal melanggar aturan semata, tetapi soal bertahan hidup di tengah keterbatasan fasilitas.
Baca juga: Belanja Infrastruktur di RAPBD Surabaya 2027 Capai Rp6,2 Triliun, Banggar Ungkap Alasannya
Pasar Krukah sendiri berada di antara RW 5, 8, dan 9, dengan mayoritas pedagang merupakan warga sekitar. Artinya, aktivitas ekonomi di sini sangat lokal dan langsung menopang kehidupan masyarakat setempat.
Anggota DPRD Kota Surabaya dari Fraksi PDI Perjuangan, Arjuna Rizki, menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa dilihat secara sepihak.
“Jangan hanya melihat PKL-nya yang keluar ke jalan, tapi lihat kenapa mereka keluar. Kalau kondisi pasar tidak layak, kumuh, dan tidak menarik pembeli, wajar mereka mencari ruang yang lebih hidup. Ini bukan semata pelanggaran, tapi refleksi dari kurangnya perhatian terhadap fasilitas pasar,” ujarnya.
Menurut Arjuna, pendekatan penertiban tanpa pembenahan justru berpotensi menimbulkan masalah baru. Pedagang bisa kehilangan penghasilan, sementara aktivitas ekonomi tidak benar-benar hilang—hanya berpindah tempat.
Baca juga: Izin Alkohol Kedaluwarsa dan Remaja Masuk Klub, DPRD Surabaya Desak RHU Ditindak Tegas
Ia mendorong Pemerintah Kota Surabaya untuk mengutamakan revitalisasi pasar sebagai solusi utama. Perbaikan infrastruktur, penataan zonasi, hingga pengelolaan kebersihan harus menjadi prioritas agar pedagang kembali masuk ke dalam pasar secara alami, bukan karena dipaksa.
“Kalau pasarnya layak, bersih, dan nyaman, pedagang tidak perlu disuruh—mereka akan kembali sendiri. Tugas pemerintah adalah menghadirkan tempat yang pantas untuk mereka mencari nafkah,” tambahnya.
Selain itu, Arjuna juga menekankan pentingnya pendekatan yang humanis terhadap PKL. Ia menilai bahwa pedagang bukan masalah, melainkan bagian dari solusi ekonomi rakyat.
Baca juga: Anas Karno Dorong Bunda Jelita Diperkuat, Administrasi Anak Disiapkan Sejak Kehamilan
Pasar Krukah, dalam pandangannya, memiliki potensi besar sebagai pasar lingkungan yang kuat karena berbasis warga sendiri. Dengan penataan yang tepat, pasar ini justru bisa menjadi contoh bagaimana ekonomi kerakyatan dan ketertiban kota bisa berjalan beriringan.
Pada akhirnya, polemik pasar tumpah di Pasar Krukah menyisakan satu pesan penting:
jangan buru-buru menertibkan, sebelum membenahi. (dim)
Editor : Redaksi