SURABAYA – Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya sekaligus Ketua Fraksi PSI, Josiah Michael, mendesak Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memastikan proyek pelebaran Jalan Wiyung-Menganti berjalan sesuai target dan selesai tepat waktu.
Menurut Josiah, proyek tersebut memiliki posisi strategis dalam mengurai kemacetan yang selama ini terjadi di jalur Menganti-Lakarsantri. Apalagi, kawasan Surabaya Barat terus berkembang seiring bertambahnya permukiman dan perumahan baru.
Baca juga: Air Surabaya Keruh dan Berbusa, DPRD Minta PAM Surya Sembada Bergerak Cepat
“Kami harap pengerjaan proyek ini bisa tepat waktu. Mengingat proyek ini sangat krusial untuk mengurai kemacetan yang terjadi di sepanjang Menganti-Lakarsantri. Di lokasi tersebut sudah banyak sekali berdiri perumahan dan menjadi akses utama menuju kawasan pemukiman di wilayah Menganti, Gresik,” tegas Josiah kepada media, Selasa (8/9/2026).
Politisi PSI itu tidak hanya menyoroti persoalan waktu pengerjaan. Ia meminta Pemkot memastikan kualitas pembangunan, termasuk konektivitas infrastruktur pendukung di sepanjang jalur tersebut.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah persoalan drainase. Menurutnya, pelebaran jalan harus dirancang beriringan dengan sistem pengendalian banjir agar pembangunan tidak justru menimbulkan persoalan baru ketika hujan deras.
“Persiapan infrastrukturnya ini harus bagus, jangan sampai dikerjakan asal-asalan dan harus terintegrasi dengan penanganan banjir. Kita ketahui di lokasi tersebut masih minim saluran, jadi kita harap saluran yang dibuat Pemkot ini bisa diprediksi untuk menampung luapan air hingga jangka panjang,” ujarnya.
Selain kualitas konstruksi dan drainase, Josiah juga memberikan perhatian khusus terhadap penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) selama proyek berlangsung.
Ia meminta Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) melakukan pengawasan ketat terhadap kontraktor pelaksana. Keselamatan pekerja dan masyarakat yang melintas di sekitar lokasi proyek, menurutnya, tidak boleh menjadi aspek yang dikesampingkan demi mengejar target pengerjaan.
“K3-nya ini harus benar-benar diperhatikan, terutama keselamatan bagi pengguna jalan dan pekerja. Kita sudah tidak mau lagi mendengar ada korban jiwa,” katanya.
Baca juga: Anggota DPRD Surabaya : Sistem Boleh Modern, Tapi Jangan Bikin Warga Makin Ribet
Josiah juga mengingatkan kontraktor agar memahami bahwa pengerjaan proyek pemerintah bukan sekadar mengejar penyelesaian fisik, tetapi juga menyangkut tanggung jawab terhadap keselamatan publik.
“Para kontraktor yang memenangkan lelang harus ditanamkan bahwa ini ada tanggung jawab moral dan tanggung jawab di akhirat nanti jika sampai ada korban, terutama korban jiwa,” tegasnya.
Berdasarkan data Pemkot Surabaya, pelebaran Jalan Wiyung-Menganti ditujukan untuk memperkuat kapasitas jaringan jalan, meningkatkan konektivitas antarkawasan, serta mendukung mobilitas masyarakat di kawasan Surabaya Barat.
Pekerjaan fisik tersebut membentang dari perempatan Jalan Babatan Unesa ke arah barat menuju kawasan Wisma Lidah Kulon.
Proyek ini dikerjakan dengan skema multiyears. Pada tahap awal 2025, pembangunan telah terealisasi sepanjang 350 meter.
Sementara pada periode 2026-2027, pekerjaan dilanjutkan dengan total panjang penanganan mencapai 1.900 meter. Khusus tahun 2026, target pengerjaan ditetapkan sepanjang 950 meter.
Dengan besarnya fungsi jalan tersebut bagi mobilitas warga, DPRD Surabaya meminta Pemkot tidak hanya mengejar target panjang jalan yang dibangun, tetapi juga memastikan kualitas, drainase, serta aspek keselamatan menjadi bagian integral dari proyek.
Dengan demikian, pelebaran Jalan Wiyung-Menganti diharapkan benar-benar menjadi solusi jangka panjang bagi persoalan kemacetan sekaligus mendukung perkembangan kawasan Surabaya Barat. (dim)
Editor : Redaksi