SURABAYA – Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 harus menjadi momentum yang benar-benar dirasakan masyarakat Kota Surabaya. Bukan sekadar seremoni, tetapi menjadi titik evaluasi sekaligus pembenahan agar pelayanan publik semakin mudah, cepat, transparan, dan berpihak kepada warga.
Anggota Komisi B DPRD Kota Surabaya, Enny Minarsih, menilai dua layanan yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat, yakni perparkiran dan air bersih PDAM Surya Sembada, harus menjadi perhatian serius pemerintah.
“Harpelnas harus menjadi momentum yang terasa banget pelayanan terbaiknya bagi warga Surabaya. Jangan hanya slogan, tetapi masyarakat benar-benar merasakan kemudahan ketika mendapatkan pelayanan,” ujar Enny.
Parkir Harus Punya Tarif Resmi dan Transparan
Untuk sektor perparkiran, Enny mendorong adanya standar tarif satu pintu yang berlaku secara jelas dan mudah diketahui masyarakat.
Menurutnya, Pemkot Surabaya perlu membuat tarif resmi yang seragam sesuai ketentuan, kemudian memasang informasi tersebut di setiap titik parkir melalui papan tarif dan QR Code.
“Jadi setiap titik parkir ada tarif resminya. Kalau warga ingin memastikan, tinggal scan QR Code, langsung muncul informasi tarif yang berlaku. Ini akan membuat masyarakat lebih tenang dan mengurangi potensi kebingungan maupun perbedaan tarif di lapangan,” jelasnya.
Enny menilai transparansi tarif merupakan bagian penting dari pelayanan publik. Masyarakat yang menggunakan jasa parkir harus mengetahui secara pasti berapa biaya yang harus dibayarkan tanpa harus bertanya-tanya atau menghadapi informasi yang berbeda-beda.
“Jangan sampai sistemnya sudah digital, tetapi warga tetap bingung harus membayar berapa. Teknologi harus membuat semuanya lebih jelas dan transparan,” tegasnya.
PDAM Diminta Proaktif Beri Informasi Gangguan
Sementara untuk pelayanan PDAM Surya Sembada, Enny meminta pola pelayanan terhadap gangguan distribusi air diperbaiki. Menurutnya, pelanggan tidak seharusnya selalu menjadi pihak yang lebih dulu mengadu ketika terjadi gangguan.
Ia mendorong PDAM menerapkan sistem informasi gangguan secara proaktif kepada pelanggan yang terdampak.
“Kalau ada pipa pecah atau air mati, jangan menunggu warga lapor. Pelanggan yang terdampak harus mendapatkan notifikasi melalui WhatsApp atau SMS. Informasikan gangguannya apa, wilayah mana yang terdampak, dan kalau memungkinkan sertakan estimasi kapan perbaikannya selesai,” katanya.
Menurut Enny, langkah tersebut akan memberikan kepastian kepada pelanggan sekaligus mengurangi keresahan masyarakat.
“Warga tidak hanya butuh air mengalir. Ketika ada gangguan, mereka juga butuh kepastian. Kalau sejak awal sudah diinformasikan, warga bisa mengantisipasi kebutuhan airnya,” ujarnya.
Teknologi Harus Memudahkan Warga
Enny menegaskan, modernisasi pelayanan publik merupakan hal yang positif. Namun, penerapan teknologi jangan sampai hanya mengejar kecanggihan sistem tanpa mempertimbangkan kemudahan masyarakat sebagai pengguna layanan.
“Intinya, sistem boleh modern, tetapi ujungnya harus membuat hajat hidup warga lebih gampang, bukan malah ribet,” tegasnya.
Ia berharap semangat Hari Pelanggan Nasional tidak berhenti pada satu hari peringatan. Evaluasi terhadap kualitas pelayanan harus dilakukan secara berkelanjutan, terutama pada layanan yang setiap hari digunakan masyarakat.
“Ukuran pelayanan terbaik itu sederhana. Warga tidak dibuat bingung, tidak dibuat repot, mendapatkan informasi yang jelas, dan ketika ada masalah ada kepastian penyelesaiannya. Itu yang harus benar-benar dirasakan warga Surabaya,” pungkas Enny. (dim)
Editor : Redaksi