SURABAYA, Bacasaja.id - Laut Jawa kembali menelan cerita duka yang menyayat hati dan menyisakan lara mendalam. Muhammad Kholis, seorang pria yang mendedikasikan bertahun-tahun hidupnya demi misi kemanusiaan di Kota Pahlawan, kini telah tiada.
Jenazah almarhum, yang menjadi salah satu korban dari tragedi memilukan karamnya Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8, akhirnya ditemukan di hamparan perairan Laut Jawa.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kapal yang membawa asa 243 penumpang dengan rute Surabaya–Banjarmasin tersebut sempat mengalami kecelakaan hebat dan dinyatakan hilang kontak di tengah ganasnya ombak.
Di antara manifes penumpang itulah, terselip nama Muhammad Kholis—seorang pejuang nafkah yang tak pernah lelah demi keluarganya.
Kepergiannya kini menyisakan kepedihan yang menyayat hati, tidak hanya bagi keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga bagi rekan sejawat dan masyarakat yang pernah merasakan ketulusan jasanya.
Almarhum Muhammad Kholis dikenal luas sebagai sosok berhati emas.
Sebelum banting setir ke dunia ekspedisi truk boks demi menghidupi keluarganya, ia adalah mantan sopir ambulans kemanusiaan DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya. Selama masa baktinya hingga purna tugas, linangan air mata dan keputusasaan warga yang sakit atau berduka selalu ia sambut dengan kecepatan kemudi dan senyuman penenang.
Langkah kakinya di dunia ekspedisi—pekerjaan yang membawanya masuk ke manifes penumpang KM Virgo 8 tujuan Banjarmasin itu—merupakan ikhtiar mulianya sebagai seorang kepala keluarga. Di balik kemudi logistik itu, ada tanggung jawab besar untuk menafkahi seorang istri tercinta dan tiga buah hatinya yang kini harus kehilangan pilar utama mereka.
Perjalanan kerja tersebut rupanya menjadi rute terakhir yang ditempuh almarhum di dunia fana ini.
Kesaksian akan keluhuran budi almarhum mengalir deras dari mereka yang pernah berjuang bersama. Kinaryo Joyo, mantan Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Wiyung, tak mampu menyembunyikan rasa duka yang mendalam saat mengenang sosok almarhum.
"Dedikasi serta keikhlasan almarhum ditunjukkan sejak beliau masih menjadi sopir ambulans DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya. Beliau kerja ikhlas tanpa mengharap selembar imbalan pun," ujar Kinaryo sambil memandangi foto almarhum lewat ponsel jadulnya dengan nada penuh penghormatan.
Bagi Kinaryo dan rekan-rekan sejawatnya, Muhammad Kholis bukan sekadar rekan kerja, melainkan simbol ketulusan yang bergerak dalam senyap.
Kini, ruang-ruang ambulans yang dulu pernah ia kemudikan terasa makin sunyi.
Baca juga: Digitalisasi Parkir Tanjung Anom Surabaya Dongkrak Pendapatan hingga Rp80 Juta per Bulan
Rekan-rekan sejawat sangat merasa kehilangan dengan kepergian almarhum, sosok hangat yang selalu bisa diandalkan di garda depan kemanusiaan. Kabar duka ini membawa gelombang kesedihan yang tak terbendung di lingkungan tempat tinggal almarhum di Kota Surabaya, Jawa Timur.
Saat ini, jenazah almarhum sedang dalam proses pemulangan ke Surabaya. Kota Pahlawan kini bersiap menyambut kembali salah satu putra terbaiknya—bukan dengan sirine ambulans yang biasa ia bunyikan untuk menyelamatkan nyawa orang lain, melainkan dengan air mata, penghormatan terakhir, dan doa yang membubung tinggi ke langit, melepas sang pejuang kemanusiaan menuju tempat peristirahatannya yang abadi.
(Wied)
Editor : Redaksi