BACASAJA.ID - Peristiwa Bom Gereja di Kota Surabaya, tiga tahun yang lalu, yakni pada tanggal 13 Mei 2018, adalah salah satu peristiwa yang masih membekas dan menimbulkan trauma, khususnya pada korban.
Dark data resmi pihak Kepolisian Republik Indonesia menyebutkan, bahwa peristiwa peledakan bom di tiga gereja di Surabaya, yakni GKI, GPPS dan Santa Maria Tak Bercela menyebabkan 11 orang tewas dan 41 orang luka-luka.
Seperti, salah satu kisah dari Yesaya, salah satu satpam di GKI (Gereja Kristen Indonesia) di Jalan Diponegoro Kota Surabaya. Wajahnya masih tampak sedih saat diminta naik ke atas panggung kemarin.
Di hari peringatan tiga tahun bom gereja di Surabaya yang digelar oleh Forum Rumah Bersama Surabaya, ia terlihat berkaca-kaca ketika menceritakan kejadian pengeboman itu.
Saat itu, Yesaya mengaku sedang bertugas menjaga ibadah pagi di Gereja. Pukul 7.40 WIB, yang sedang berlangsung ibadah, serta hendak merayakan hari ibu internasional.
Tiba-tiba datang tiga perempuan bercadar dan dua anak-anak, mereka memasuki lingkungan gereja. Yeyasa sebtulnya juga sempat mencegah mereka masuk dengan bertanya tujuan mereka datang.
"Langkah mereka itu cepat menuju pintu gereja. Saya kemudian memegang tangan salah satu perempuan itu, lalu ada ledakan keras," kenang Yesaya, Senin (10/9/2021)
Kejadian itu rupanya masih membekas di benak Yesaya. Meski kejadian itu sudah tiga tahun berlalu. Ia masih berusaha menghilangakan ingatan itu.
“Saya sampai sekarang masih takut dengan perempuan bercadar,” katanya.
Meski demikian, Yesaya tidak memiliki dendam dengan para pelaku. Ia hanya berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Baik di Surabaya maupun di daerah lainnya. Bahkan ia justru merasa kasian dengan anak dari pelaku bom bunuh diri saat itu.
"Anak-anak itu hanya menangis meminta tolong. Namun saat itu ia tidak bisa melaukan apapun," ujarnya.
Yesaya merupakan salah satu korban dari pengeboman GKI. Akibat serangan itu, tangannya sempat patah, dan sampai sekarang kondisi tangannya masih belum sembuh.
“Pagian paha saya juga luka cukup besar. Kena serpihan bom. November mendatang saya periksa lagi. Semoga lekas pulih,” harapnya.
Senada dengan Yesaya, Rachmat Hardjono Tengadi, yang saat itu baru saja selesai bertugas di dalam gereja. Ketika sampai di pintu gereja, tiba-tiba saja ledakan pertama terjadi dan ia langsung tersungkur.
Kepalanya kembali menoleh ke arah sumber ledakan. Tidak lama kemudian ledakan kedua terjadi dan disusul ledakan ketiga, hingga dada bagian kirinya merasa panas. Ia kemudian memegang daerah yang panas itu. Ternyata terdapat luka akibat serpihan bom yang pertama.
“Sampai sekarang bekas lukanya masih ada,” ujar Rachmat sambli menunjukan bekas lukanya.
Sama dengan Yesaya, Rachmat juga masih enggan bertemu dengan perempuan memakai burkah hitam.
Sementara itu inisiator Forum Rumah Bersama (FRB) Ahmad Zainul Hamdi mengatakan, luka yang ditimbulkan pasca pengeboman memang sulit dihilangkan. Ia mengatakan penegboman itu seharusnya tidak terjadi, jika para pelaku tidak terpapar ajaran yang salah.
Inung sapaan akrab Ahmad mengatakan pengeboman atas nama agama tidak pernah dibenarkan. Oleh sebab itu FRB memperingati peristiwa pengeboman tersebut. Selain itu peringatan ini sebagai bentuk merekatkan kembali umat beragama.
“Pengboman itu bisa disebut tragedi kemanusiaan. Sehingga harus diperingati. Tahun depan akan kami peringati lagi. Agar kejadian seperti ini tidak terulang,” ungkapnya.
Sedangkan Ketua Panitia Acara Memperingati Tiga Tahun Peristiwa Bom Gereja Khosiah mengatakan ada 30 organisasi yang mengikuti acara ini.
Terdiri dari organisasi lintas agama. Dia menjelasakan bahwa ada tiga gereja yang dikunjungi. GKI, Gereja Pantekosta Pusat (GPPS) dan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela.
FRB juga membuat sebuah hastag. Yakni ‘#KamiTolakTerorisme’. Dalam rangka kebencian harus dihapuskan. Dan kebersamaan harus ditingkatkan. “Bagi korban kami sangat mengapresasi ya. dimana mereka masih trauma tapi sudah memaafkan. Berarti mereka sudah bersatu membangun persaudaraan,” tandasnya. (byta)
Editor : Redaksi