BACASAJA.ID — Generasi Muda Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (Genmuda ISRI) kembali menggelar Kursus Ideologi dan Wawasan Kebangsaan (IWAK) Seri #4 secara daring, Jumat (21/8/2026). Kegiatan tersebut mengangkat tema “Mengapa Kita Hidup Perlu Ideologi? Memahami Cara Pandang yang Membentuk Bangsa, Negara, dan Diri Kita”.
Diskusi menghadirkan peneliti BRIN Dr. Hastangka, S.Fil., M.Phil., serta budayawan dan tokoh Marhaenis Erros Djarot. Pembahasan berfokus pada peran ideologi dalam membentuk cara pandang, nilai, sikap, dan keputusan seseorang dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Hastangka menjelaskan ideologi tidak hanya berkaitan dengan politik atau kekuasaan, tetapi juga menyangkut cara manusia memahami realitas, menentukan nilai, membangun pengetahuan, serta mengambil keputusan.
Menurut Hastangka, ideologi dapat dilihat melalui tiga fondasi filsafat, yakni ontologis, aksiologis, dan epistemologis. Ketiganya saling berkaitan dalam membentuk cara pandang individu maupun kelompok.
Ia mengatakan ideologi juga dapat digunakan untuk mempertanyakan ketidakadilan dan melihat berbagai persoalan sosial. Dalam konteks Indonesia, pembahasan ideologi tidak terlepas dari sejarah perjuangan menghadapi imperialisme, kolonialisme, neo-imperialisme, dan neo-kolonialisme.
Hastangka juga menyoroti fenomena “ideologi mengambang” atau floating ideology, yaitu kondisi ketika seseorang kehilangan pijakan nilai sehingga mudah mengikuti perubahan tanpa memiliki arah dan sikap yang konsisten.
“Apakah ideologi yang mengambang itu murni kesalahan generasi muda, ataukah cermin dari kegagalan struktur sosial-politik dalam menawarkan narasi yang relevan dan meyakinkan bagi mereka?” kata Hastangka.
Ia menambahkan, jumlah generasi muda Indonesia yang besar perlu diikuti dengan kemampuan berpikir kritis dan pemahaman terhadap nilai kebangsaan. Berdasarkan catatan Ditjen Dukcapil Kemendagri per Juni 2026, jumlah Generasi Z berusia 14-29 tahun mencapai 75.369.876 jiwa atau sekitar 25,98 persen dari total 290,12 juta penduduk Indonesia.
Sementara itu, Erros Djarot membawa pembahasan pada Marhaenisme sebagai salah satu gagasan ideologi yang berkembang dalam sejarah pemikiran Bung Karno.
Erros menjelaskan Marhaenisme dapat dipahami melalui tiga kata kunci, yaitu merdeka, kemerdekaan, dan memerdekakan. Menurutnya, kemerdekaan tidak cukup dipahami sebagai status politik, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan masyarakat.
“Merdeka sudah didapatkan, kemerdekaan yang harus dipahami, dan memerdekakan sebagai tugas yang belum tuntas,” ujar Erros.
Ia menilai ideologi harus diterapkan dalam kehidupan nyata agar tidak berhenti sebagai gagasan atau slogan. Menurutnya, prinsip Marhaenisme perlu digunakan untuk membaca dan merespons persoalan yang dihadapi masyarakat.
Erros juga mengingatkan pentingnya memahami prinsip Trisakti, yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian secara budaya. Ia meminta Marhaenisme tidak hanya ditampilkan melalui simbol, jargon, atau atribut.
“Jangan menjadi pseudo-Marhaenisme. Jangan hanya simbol-simbol, jargon maupun atribut baju,” katanya.
Menurut Erros, nilai-nilai Marhaenisme harus mampu menjawab perubahan zaman, termasuk perkembangan teknologi, kehidupan masyarakat digital, serta berbagai persoalan sosial dan ekonomi.
Diskusi kemudian dilanjutkan dengan tanggapan peserta mengenai tantangan ideologi di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi. Sejumlah peserta membahas pengaruh rasionalisme teknologi, kondisi masyarakat, generasi sandwich, meritokrasi, kapitalisme, media digital, serta persoalan konkret yang dihadapi masyarakat.
Moderator Kursus IWAK Seri #4, Astria Kusmaria, menyampaikan bahwa pembahasan ideologi perlu dilanjutkan melalui diskusi dan penerapan dalam kehidupan nyata.
Ketua Umum Genmuda ISRI Diasma Swandaru mengatakan ideologi diperlukan bukan hanya sebagai identitas, tetapi juga sebagai sistem pengetahuan berbasis nilai yang dapat membantu seseorang memahami realitas, menentukan sikap, mengambil keputusan, dan mengarahkan tindakan.
Menurut Genmuda ISRI, pembahasan Marhaenisme perlu terus dikembangkan agar dapat digunakan untuk memahami perubahan zaman dan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Kursus IWAK Seri #4 menjadi bagian dari upaya Genmuda ISRI memperluas diskusi mengenai ideologi dan wawasan kebangsaan di kalangan generasi muda.**
Editor : Redaksi