Lonjakan Kasus Usai Lebaran, Tekankan Testing dan Tracing di Madura

bacasaja.id
Screening yang ada di pintu keluar Jembatan Suramadu arah Madura ke Kota Surabaya

BACASAJA.ID – Dua minggu usai libur lebaran, kasus Covid-19 di Madura melonjak tajam. Hal itu ditunjukkan dengan membludaknya jumlah pasien Covid-19 di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bangkalan sehingga harus dirujuk ke rumah sakit di Surabaya.

Ketua Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga Prof. dr. Maria Lucia Inge Lusida, Sp.MK., M.Kes., PhD., pada Senin 7 Juni 2021 menyampaikan, bahwa ditemukan varian baru dari sampel tes di ITD. Dua varian baru itu adalah B1.1.7 dan B1.351.

Baca juga: Warga Barata Jaya Surabaya Tolak Toko Miras Spiritshaus, Ancam Gelar Aksi Demo

Menanggapi hal itu, epidemiolog UNAIR Dr. M. Atoillah Isfandiari, dr. M.Kes., mengatakan, bahwa sebenarnya sudah diperingatkan para pakar jauh sebelum libur lebaran.

Dia mengatakan, bahwa sejak Januari 2021, sudah disampaikankan bahwa ada kemungkinan varian-varian baru itu masuk ke Indonesia.

“Jadi sebenarnya apa yang ditemukan di ITD itu sebenarnya hanya mengkonfirmasi saja dari peringatan yang sudah diberikan,” jelas Ato sapaan akrabnya, pada Rabu ( 9/6/2021)

Dia mengungkapkan, adanya varian baru yang jauh lebih mudah menular tersebut dapat dipengaruhi oleh mobilitas, terutama antara wilayah Bangkalan dan Surabaya.

Dengan mobilitas tinggi dapat memberikan risiko penularan tinggi pula untuk kedua wilayah tersebut. Kemunculan varian baru diduga dibawa oleh Pekerja Migran Indonesia dari Luar Negeri yang mudik pada saat lebaran.

Baca juga: Umbul Dungo dan Tabuhan Gayeng Gayengan Sasi Suro, Keluarga Kenang Mbah Roekoen Rekso Mulyo Lewat Doa dan Budaya Jawa

Maka dari itu, sambungnya, testing menjadi langkah dasar untuk mengetahui dan melacak masyarakat yang terkonfirmasi positif Covid-19. Setelah dilakukan testing dapat dilakukan pembatasan sesuai dengan hasil testing tersebut.

“Yang penting ditesting dulu kalau ketemu yang positif diisolasi dan ditelusuri domisilinya. Maka daerah sekitar domisilinya itu yang diisolasi. Bisa jadi kalau dari testing itu ketemu positifnya merata dari berbagai kota di pulau Madura pada akhirnya bisa mengarah pada ke karantina wilayah pulau,” ungkapnya.

Menurutnya, kegiatan testing yang dilakukan di Jembatan Suramadu merupakan sedikit saja gambaran lonjakan Covid-19 dan sedikit upaya untuk meminimalisir persebaran di Surabaya.

Kegiatan tersebut, kata Ato, juga harus diimplementasikan untuk kegiatan mobilitas dalam kota untuk mendeteksi dan menggambarkan persebaran di Madura.

Baca juga: Pemkot Surabaya Tegaskan Kuliner Malam Kedungdoro-Genteng Sesuai SK, Fungsi Jalan Tetap Dijaga

Tidak hanya itu, perlu adanya kesadaran bagi masyarakat Surabaya yang telah melakukan perjalanan libur lebaran atau mobilitas ke Madura untuk melapor ke puskesmas bila ada keluhan kesehatan.

“Yang terpenting, untuk wilayah Madura sendiri jika ada kasus positif dilakukan tracing dalam seminggu ini sudah bertemu dengan siapa saja, termasuk saudara mereka yang mobilitas di Surabaya,” ucapnya.

Sehingga warga Madura yang ada di Surabaya dapat di-tracing lebih lanjut. “Kalau ingin efisien dan efektif, testing di Madura bagus dan ketemu positif maka dilanjutkan dengan tracing yang juga harus bagus. Misalnya dalam seminggu terakhir apakah pernah ada riwayat kontak dengan yang berkunjung dari luar pulau Madura termasuk dari Surabaya,” pungkas Ato. (byta)

Editor : Redaksi

Hukum
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru