Peran Iprahumas Menangkal Isu Hoaks hingga Persiapannya di Era Society 5.0

bacasaja.id
NGAPEL - Ngobrol Ala Pranata Humas Eksis Live di Instagram bertajuk Edisi Spesial Ngobrol Bareng Kandidat Ketua Umum Iprahumas Periode 2022-2024. (ist)

BACASAJA.ID - Ikatan Pranata Humas Indonesia (Iprahumas) merupakan organisasi profesi yang mewadahi para Humas Pemerintah/GPR (Government Public Relation) di seluruh Indonesia. Organisasi ini memiliki konteks positif untuk menjadi mitra pemerintah dalam menyampaikan informasi kinerja dan beragam kebijakan pemerintah.

Selain itu juga memudahkan alih teknologi yang terkait dengan peningkatan komtensi, profesionalisme profesi serta mempercepat arus informasi dan komunikasi sesama profesi guna meningkatkan kesigapan dalam peningkatan daya saing global.

Oleh karena itu, dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk menjabat posisi strategis di dalam struktur organisasi Iprahumas yang produktif, terampil dan siap bersaing pada zaman yang serba digital ini.

Sejalan dengan masa kepengurusan organisasi Iprahumas periode 2019-2021 yang akan segera berakhir pada Desember 2021, Iprahumas telah menggelar acara NGAPEL yakni Ngobrol Ala Pranata Humas Eksis Live di Instagram.

NGAPEL itu bertajuk Edisi Spesial Ngobrol Bareng Kandidat Ketua Umum Iprahumas Periode 2022-2024 selama salah satu bentuk kampanye melalui kanal media sosial. Edisi III sebagai rangkaian terakhir dari dua edisi sebelumnya digelar pada Minggu (25/7/2021).

Melalui program Live di Instagram ini, 2 kandidat calon ketua umum berkesempatan berkampanye untuk menjelaskan visi, misi dan program kerja yang akan dilaksanakan pada periode selanjutnya jika terpilih sekaligus sebagai ajang tanya jawab bagi para kandidat dengan penonton yang menyaksikan.

Iprahumas pun telah melaksanakan NGAPEL selama tiga sesi dengan menampilkan 6 kandidat calon ketua umum.

Pada sesi III NGAPEL edisi spesial kali ini, Iprahumas mengundang dua kandidat calon ketua umum yaitu Winda Eka Putri (Pranata Humas Universitas Padjadjaran), dan Fachrudin Ali Achmad (Pranata Humas Kementerian Kesehatan) yang dipandu oleh Yeni Arta (Pranata Humas Kementerian Pertanian).

Sebelumnya di edisi pertama menghadirkan Rommy Perdana Putra (Pranata Humas Badan Standardisasi Nasional) dan Krisna Pandu Pradana (Pranata Humas Kementerian Keuangan) dan di edisi kedua menghadirkan Dyah Rachmawati Sugiyanto (Pranata Humas LIPI) dan Thoriq Ramadani (Pranata Humas Kementerian ESDM).

Dengan pengemasan yang asyik dan santai, obrolan kali ini membahas berbagai perkembangan humas, society 5.0, kompetensi humas, dan strategi dalam menangkal isu hoax yang sedang dihadapi oleh pemerintah.

Berbagai gagasan disampaikan oleh para kandidat calon kedua umum Iprahumas. Bagi Fachrudin Ali Achmad Pranata Humas Kementerian Kesehatan, Iprahumas memiliki potensi yang besar untuk ajang eksistensi para pranata humas, sehingga perlu dikreasikan menjadi lembaga yang dapat membuka diri untuk membudayakan kreativitas anggotanya.

Selain itu, untuk mengembangkan Iprahumas ke depannya juga membutuhkan kolaborasi dengan banyak pihak untuk berbagai progam yang akan dijalankan.

“Kita bisa berkolaborasi dan bekerja sama dengan lembaga atau organisasi lintas sektor untuk menyusun standar kompetensi humas dan penyelenggaraan kegiatan lain yang ada di Iprahumas," ujar Ali.

"Kita juga harus publikasikan berbagai informasi dengan bekerja sama bersama media massa, karena kita adalah ujung tombak untuk penyampaian informasi kepada publik. Sehingga harus kita tarik (media massa) untuk berhubungan dengan Iprahumas. Kita juga harus banyak membuat varian baru untuk menjangkau para stakeholders,” tambahnya.

Sedangkan untuk menangkal isu hoax di masa pandemi saat ini, sebagai seorang pranata humas, harus mampu dan berusaha untuk mendapatkan dukungan dan kepercayaan publik serta menciptakan reputasi yang baik.

“Bahkan kita di humas Kementerian Kesehatan, sudah mengeluarkan Standar Pedoman Komunikasi Publik. Sehingga kita saat ini sudah jauh lebih adaptif, apalagi dengan intensitas berita yang masuk ke media bersifat mendukung pemerintah," tutur Ali.

"Walaupun memang sampai saat ini kita belum bisa untuk memuaskan publik secara keseluruhan. Sehingga disinilah peran Iprahumas untuk menjembatani ‘missing link’ dengan menengahi dan memfasilitasi kepentingan pemerintah dan juga publik,” imbuhnya.

Sementara, berkaitan dengan perkembangan humas saat ini, Pranata Humas Universitas Padjadjaran, Winda Eka Putri menjelaskan bahwa kita harus mewujudkan organisasi kehumas yang berwawasan global, dan siap menuju era society 5.0.

Dalam mewujudkan hal tersebut, Winda juga mengenalkan prinsip ber-SINERGI yang merupakan singkatan dari berkolaborasi, berintegritas, dan bereputasi tinggi.

“Untuk menjalankan suatu organisasi agar sampai ke tujuan bersama, kita butuh peran pranata humas di seluruh Indonesia. Kita harus siap dan berakselerasi di era society 5.0. Kita juga harus sigap dan respon dalam mendiseminasikan berbagai informasi kepada masyarakat," papar Winda.

"Selain kita harus meningkatkan kompetensi dan soft skill kita, tentunya kita juga punya tanggung jawab terhadap profesi kita dan tentunya kepada masyarakat,” tambahnya.

Menanggapi persiapan menuju era society 5.0, Winda juga mengatakan bahwa kedepannya pranata humas akan lebih sering bekerja pada ‘The Art of  Making Narration’ sehingga pentingnya dalam membuat narasi yang sesuai dengan pengolahan big data yang ada.

Skill ini harus dimiliki oleh pranata humas masa kini untuk menyiapkan audiens mapping dan media social framing. Tentunya untuk bisa menambah kompetensi ini dapat dilakukan dengan cara pelatihan atau workshop.

Dengan demikian Iprahumas selain bisa menangkal isu hoax, bahkan bisa melakukan kerja sama dengan perusahan pengelola IT dan big data untuk mewujudkan pelatihan secara berseri kepada para anggotanya. Tentunya ini dapat meningkatkan kompetensi para pranata humas untuk mempersiapkan era society 5.0. (*/rg4)

Editor : Redaksi

Hukum
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru