Puan Maharani: Generasi Muda jangan Bosan Bicara Kebhinekaan dan Persatuan

bacasaja.id
Ketua DPR RI Puan Maharani.

BACASAJA.ID - Ketua DPR RI Puan Maharani mengajak generasi muda Indonesia saat ini untuk tidak henti-hentinya berbicara tentang kebhinekaan dan persatuan, yang semangatnya pertama kali dicetuskan dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Puan meminta spirit bertanah air, berbangsa dan berbahasa satu yaitu Indonesia, yang digelorakan para pemuda nusantara 93 tahun lalu, juga menjadi spirit kaum muda bangsa saat ini.

Baca juga: Puan Maharani Harap Idul Adha 2026 Jadi Momen Rajut Kepedulian Sosial

“Spirit api Sumpah Pemuda tidak boleh padam, bahkan tidak boleh meredup sedikit pun. Untuk itu, generasi muda penerus masa depan bangsa, jangan pernah bosan untuk berbicara tentang kebhinekaan dan persatuan,” kata Puan terkait peringatan 93 Tahun Sumpah Pemuda, dikutip Jumat (29/10/2021).

Menurut Puan, ketika bangsa ini berhenti bicara tentang kebhinekaan yang menjadi sumber kekuatan dalam persatuan, maka pada saat itulah tunas-tunas perpecahan mulai tumbuh.

“Sebaliknya saat kita terus merawat persatuan, maka Indonesia bisa akan terus maju,” tambah politisi PDI-Perjuangan ini.

Baca juga: Kasus Keracunan Massal, DPR Minta Evaluasi Total Program MBG!

Mantan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) ini mengingatkan bahwa keberagaman di Indonesia justru harus menjadi sumber kekuatan dan persatuan, bukan perpecahan.

“Kebhinekaan di Indonesia kita lihat sebagai berkah, bukan sumber sumpah serapah,” tegas Puan.

Perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR itu menambahkan, DPR sebagai representasi keterwakilan rakyat, akan jeli melihat setiap tantangan dalam upaya merawat persatuan Indonesia.

Baca juga: DPR Hapus Tunjangan Perumahan dan Moratorium Kunker, Puan: Semua Ketua Fraksi Sepakat

DPR juga akan menjadi garda utama penjaga api semangat nasionalisme dan persatuan, dengan terus konsisten menyuarakan aspirasi-aspirasi rakyat dari Sabang sampai Merauke.

“Sebab seperti kata Bung Karno, bahwa sejak awal kita ingin mendirikan suatu negara semua buat semua. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi semua buat semua. Kita mendirikan satu negara kebangsaan Indonesia,” tutup Puan. (PAR/RG4)

Editor : Redaksi

Hukum
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru