SURAKARTA – Karaton Surakarta Hadiningrat akan menggelar Wilujengan Nagari pada Jumat (3/7/2026) sore ini pukul 15.00 WIB di Sasana Handrawina Karaton Surakarta Hadiningrat, bertepatan dengan 17 Sura Tahun Jawa 1960. Tradisi doa bersama tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Karaton Surakarta Hadiningrat ke-290 menurut penanggalan Jawa atau ke-281 menurut hitungan Masehi.
Bagi Karaton Surakarta, 17 Sura bukan sekadar penanda pergantian tahun dalam kalender Jawa. Momentum ini memiliki makna batin yang kuat sebagai saat untuk meneguhkan rasa syukur, memanjatkan doa keselamatan, sekaligus merawat kesinambungan adat, nilai, dan warisan budaya yang telah hidup selama hampir tiga abad.
Wilujengan Nagari yang akan digelar sore nanti menjadi ruang spiritual dan kultural bagi keluarga besar Karaton, sentana, abdi dalem, dan masyarakat untuk bersama-sama memohon keselamatan bagi Karaton Surakarta Hadiningrat beserta kelestarian tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta Hadiningrat, GKR Koes Moertiyah Wandansari, M.Pd., yang akrab disapa Gusti Moeng, menuturkan bahwa peringatan Hari Jadi Karaton setiap 17 Sura merupakan momentum penting untuk merefleksikan perjalanan panjang Karaton sebagai pusat budaya, tata nilai, dan laku tradisi Jawa.
“Pada 17 Sura Tahun Jawa 1960 ini, Karaton Surakarta Hadiningrat genap berusia 290 tahun menurut hitungan Jawa atau 281 tahun menurut hitungan Masehi. Hari ini kami akan mengadakan Wilujengan Nagari Karaton Surakarta Hadiningrat di Sasana Handrawina pukul 15.00 WIB setelah salat Ashar,” ujar Gusti Moeng, Jumat pagi.
Menurut Gusti Moeng, antusiasme keluarga besar Karaton dan masyarakat untuk mengikuti Wilujengan Nagari tahun ini sangat besar. Hingga Jumat pagi, lebih dari 700 orang tercatat telah mendaftarkan diri untuk hadir dalam doa bersama tersebut.
Mereka berasal dari beragam unsur, mulai dari Sentana Dalem, Sentana Daerah Dalem, anggota Paguyuban Kawula Karaton Surakarta (PAKASA), sentana dan abdi dalem aktif di lingkungan Karaton, Putri Narpawandawa, Abdi Dalem Keparak, Abdi Dalem Garadan, Putra Wayah PB XII beserta istri, hingga sahabat keluarga besar Karaton Surakarta.
Besarnya antusiasme itu menunjukkan bahwa Karaton Surakarta masih menjadi simpul kebudayaan yang mempertemukan ikatan kekerabatan, laku spiritual, dan kesadaran bersama untuk menjaga warisan leluhur. Dalam konteks 17 Sura, Wilujengan Nagari tidak hanya dimaknai sebagai ritual seremonial tahunan, melainkan juga peneguhan batin agar Karaton tetap lestari sebagai rumah budaya Jawa.
“Semoga acara hari ini berjalan lancar dan mendapatkan rida Allah SWT. Di usia Karaton Surakarta Hadiningrat yang ke-281 tahun menurut hitungan Masehi, kami berharap Karaton tetap lestari, adat istiadatnya terjaga, dan warisan budayanya terus hidup,” tutur Gusti Moeng.
Peringatan Hari Jadi Karaton Surakarta setiap 17 Sura selama ini selalu memiliki makna khusus, tidak hanya bagi keluarga besar Karaton, tetapi juga masyarakat yang menaruh perhatian pada pelestarian budaya Jawa. Di tengah perubahan zaman, tradisi Wilujengan Nagari menjadi pengingat bahwa Karaton bukan semata bangunan sejarah, melainkan ruang hidup bagi nilai, doa, tata krama, dan ingatan budaya yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. (*)
Editor : Redaksi