WONOGIRI – Usai melengkapi rangkaian upacara adat Jumenengan pada 5 September 2026, SISKS Pakubuwono XIV Hangabehi langsung menunjukkan kiprahnya di tengah masyarakat. Bukan sekadar menjalankan agenda seremonial, Raja Karaton Surakarta Hadiningrat itu turun memberikan perhatian terhadap persoalan nyata yang dihadapi warga.
Kali ini, PB XIV Hangabehi bersama Bupati Wonogiri Setyo Sukarno mendistribusikan bantuan 75 ribu liter air bersih kepada warga terdampak kekeringan di Lingkungan Gunung Kukusan, Kelurahan Giriwono, Kecamatan Wonogiri Kota, Jumat (11/9/2026).
Dalam kegiatan tersebut, PB XIV Hangabehi hadir bersama Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta Hadiningrat, GKR Koes Moertiyah Wandansari yang akrab disapa Gusti Moeng, adik kandung PB XIV GRAy Putri Purnaningrum, keponakan PB XIV BRA Lung Ayu, serta para sentono dalem dan abdi dalem Karaton Surakarta Hadiningrat.
Kehadiran jajaran keluarga dan perangkat adat Karaton tersebut memperlihatkan bahwa kepedulian terhadap masyarakat menjadi bagian dari gerak bersama Karaton Surakarta Hadiningrat.
Bantuan air bersih disalurkan sebagai respons terhadap krisis air yang mulai dirasakan masyarakat akibat musim kemarau. Penyaluran dilakukan melalui koordinasi antara Karaton Surakarta Hadiningrat dan Pemerintah Kabupaten Wonogiri.
PB XIV Hangabehi mengatakan, kondisi kekeringan di Gunung Kukusan menunjukkan bahwa persoalan air bersih masih menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat di sejumlah wilayah.
“Kita lihat di Gunung Kukusan ini warga terdampak kekeringan. Dan ternyata tidak hanya di sini saja, wilayah lain juga terdampak kekeringan,” ujar PB XIV Hangabehi.
Menurut dia, bantuan air bersih tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air selama musim kemarau.
Ia menegaskan, Karaton Surakarta juga berkoordinasi dengan Pemkab Wonogiri agar bantuan dapat disalurkan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.
“Diharapkan bantuan ini bisa bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.
Bupati: 14 Kecamatan di Wonogiri Berpotensi Kekeringan
Sementara itu, Bupati Wonogiri Setyo Sukarno menyampaikan apresiasi kepada Karaton Surakarta atas bantuan air bersih yang diberikan kepada masyarakat.
Menurut Setyo, wilayah Gunung Kukusan merupakan salah satu kawasan yang telah dipetakan rawan mengalami kekurangan air saat musim kemarau.
“Ini salah satu lokasi rawan kekurangan air. Di Wonogiri dari 25 kecamatan, 14 kecamatan berpotensi terdampak kekeringan,” kata Setyo.
Ia berharap bantuan tersebut dapat meringankan beban masyarakat yang mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
“Sekali lagi kami matur nuwun (terima kasih). Tentu bantuan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.
Tiga Hari Sebelumnya, PB XIV Bantu Korban Kebakaran TPA Putri Cempo
Aksi sosial di Wonogiri tersebut menjadi kelanjutan dari langkah PB XIV Hangabehi setelah menyelesaikan rangkaian Jumenengan.
Pada Selasa (8/9/2026), PB XIV Hangabehi bersama Yayasan Royal Nata Nusantara menyalurkan sekitar 1.300 paket makanan kepada masyarakat terdampak kebakaran TPA Putri Cempo.
Bantuan tersebut disalurkan di wilayah Kelurahan Mojosongo, Kota Surakarta, sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak bencana.
“Keraton dengan Yayasan Royal Nata hadir untuk memberikan bantuan dampak bencana kebakaran di TPA Putri Cempo. Harapannya, Keraton bisa ikut andil dalam memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak,” kata PB XIV Hangabehi.
Ia berharap masyarakat terdampak kebakaran tetap kuat dan tidak patah semangat menghadapi kondisi tersebut.
“Kepada masyarakat yang terdampak tetap kuat, jangan patah semangat. Pasti bisa dilalui bersama-sama. Kita berdoa bersama-sama supaya segera pulih kondisional dari bencana seperti ini,” ujarnya.
PB XIV mengatakan bantuan tersebut masih berupa makanan yang diberikan secara bertahap sesuai kebutuhan masyarakat. Bantuan lanjutan akan dipertimbangkan pada tahap berikutnya.
“Ini baru berupa makanan yang bisa kita berikan langsung untuk dikonsumsi masyarakat. Mungkin nanti tahapan selanjutnya kita pikirkan lagi, insyaallah bertahap demi tahap,” ucapnya.
Dari Jumenengan ke Aksi Nyata
PB XIV Hangabehi memiliki nama kecil Suryo Suharto, lahir 5 Februari 1985, dan merupakan putra laki-laki tertua SISKS Pakubuwono XIII.
Setelah ayahnya menjadi PB XIII pada 2004, Suryo Suharto bergelar GRM Mangkubumi dan mendapat amanah sebagai putra mahkota melalui tata adat Karaton Surakarta. Pada 2022, gelarnya berganti menjadi KGPH Hangabehi melalui musyawarah adat Karaton Surakarta.
Pada 13 November 2025, KGPH Hangabehi mendeklarasikan diri sebagai PB XIV di Sasana Handrawina Karaton Surakarta. Deklarasi tersebut disaksikan para sentana, abdi dalem Karaton Surakarta, serta KGPH PA Tedjowulan.
Rangkaian tersebut kemudian dilengkapi melalui upacara adat Jumenengan PB XIV pada 5 September 2026, yang berlangsung di Bangsal Pengrawit Pagelaran dan Bangsal Manguntur Tangkil, Siti Hinggil Karaton Surakarta.
Bangsal Manguntur Tangkil merupakan salah satu bangunan sakral di kompleks Siti Hinggil yang secara historis berkaitan dengan singgasana raja, upacara penobatan raja, dan pisowanan agung.
Kini, setelah rangkaian Jumenengan tersebut, PB XIV Hangabehi mulai memperlihatkan gerak yang lebih konkret di tengah masyarakat.
Hanya dalam hitungan hari, dua persoalan berbeda langsung disentuh: bantuan pangan bagi masyarakat terdampak kebakaran TPA Putri Cempo dan bantuan 75 ribu liter air bersih bagi warga terdampak kekeringan di Wonogiri.
Kehadiran Gusti Moeng, GRAy Putri Purnaningrum, BRA Lung Ayu, para sentono dalem dan abdi dalem dalam kegiatan di Wonogiri juga memberikan gambaran bahwa aksi tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan melibatkan unsur keluarga dan perangkat adat Karaton Surakarta Hadiningrat.
Dengan demikian, kiprah PB XIV pasca-Jumenengan mulai diarahkan pada satu pesan penting: tahta bukan hanya tentang upacara dan simbol, tetapi juga tentang amanah, kepedulian, serta kehadiran nyata ketika masyarakat membutuhkan.
Dari Karaton Surakarta ke Wonogiri, pesan itu diterjemahkan dalam bentuk yang sederhana namun sangat dibutuhkan warga: air bersih untuk kehidupan. (*)
Editor : Redaksi