PONOROGO – Kabupaten Ponorogo memiliki keistimewaan tersendiri dalam implementasi Pengarusutamaan Gender (PUG). Di tengah catatan bahwa hanya ada 36 bupati perempuan dari total 481 daerah di Indonesia, Ponorogo menunjukkan langkah progresif di bawah kepemimpinan Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Lisdyarita.
Plt Bupati yang akrab disapa Bunda Lis ini getol mendorong kesetaraan bagi perempuan di berbagai sektor pembangunan, termasuk memperluas ruang keterwakilan perempuan dalam struktur jabatan di lingkup pemerintahan.
"Termasuk meningkatkan keterwakilan perempuan dalam struktur jabatan pemerintahan," ujar Bunda Lis saat Evaluasi Penyelenggaraan PUG Tahun 2024 dan 2025 (PPE 2026) di ruang rapat Bapperida Ponorogo, Senin (2/11/2026).
Bunda Lis menegaskan, Pemkab Ponorogo membuka akses dan partisipasi seluas-luasnya agar perempuan tidak sekadar menjadi penerima manfaat, melainkan motor penggerak hingga pemimpin dalam masyarakat.
"Kita ingin perempuan berdaya dengan menjadi pelaku dan penggerak bahkan pemimpin pembangunan masyarakat," tegasnya.
Peningkatan Indeks Pembangunan Gender (IPG) Ponorogo
Komitmen kuat pemerintah daerah turut didukung oleh jajaran birokrasi. Sekretaris Daerah (Sekda) Ponorogo, Agus Sugiarto, mengungkapkan bahwa capaian pembangunan gender di Ponorogo menunjukkan tren yang kian menggembirakan.
Berdasarkan data, Indeks Pembangunan Gender (IPG) Ponorogo terus merangkak naik dari 94,40 pada 2023, menjadi 94,60 pada 2024, hingga menyentuh angka 95,45 pada 2025. Di sisi lain, proporsi anggaran untuk mendukung PUG juga mengalami kenaikan dari 2,03 persen di tahun 2024 menjadi 2,73 persen pada 2025.
Dasar hukum pelaksanaan program ini pun telah diperkuat melalui Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2023 tentang Pengarusutamaan Gender, yang diimplementasikan oleh Kelompok Kerja (Pokja) PUG melibatkan 41 perangkat daerah.
Inovasi Layanan Publik Berperspektif Gender
Guna mengoptimalkan pelaksanaan PUG, Pemkab Ponorogo menggandeng berbagai pemangku kepentingan seperti organisasi masyarakat dan akademisi. Sejumlah inovasi layanan turut dikembangkan, di antaranya:
- Simple Kombine: Sistem konsultasi dan bimbingan secara daring.
- Rumah Latih Adiku: Layanan terapi bicara, terapi okupasi, dan fisioterapi bagi anak dari keluarga prasejahtera (desil 1 hingga 5).
- BESTI PREN: Program pendampingan khusus bagi ibu hamil dan keluarga berisiko stunting yang melibatkan kader serta ormas setempat.
Editor : Redaksi