Banjir, Petani Bawang Merah di Tulungagung Merugi

author bacasaja.id

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Sanik saat mebersihkan bawang merah hasil panennya.
Sanik saat mebersihkan bawang merah hasil panennya.

i

BACASAJA.ID - Petani bawang merah di Kabupaten Tulungagung mengobral hasil panenya. Bawang merah yang dijual dihargai dibawah harga pasaran.

Jika biasanya satu kilo bawang merah dibeli dengan harga 15 ribu rupiah per kilo, kini bawang merah itu dijual dengan harga 5-6 ribu perkilo dari petani.

Padahal biaya produksi dan tenaga menanam dan mengolah bawang merah itu alami kenaikan.

Seperti disampaikan oleh Sanik (60) warga Dusun Kedung Njalin Desa Junjung Kecamatan Sumbergempol.

Menurut wanita paruh baya ini, dari tanah seluas 60 kali 14 meter persegi miliknya pernah ditawar oleh pengepul 2 juta Rupiah. Padahal biasanya bisa mencapai 23-25 juta rupiah.

“Alasan pembeli itu daripada busuk terkena banjir, mending dibeli dengan harga 2 juta Rupiah,” ujar Sanik.

Tentu Sanik menolak tawaran dari pengepul bawang merah asal Kabupaten Nganjuk tersebut. Jumlah itu jauh dari modal tanam bawang merah.

Untuk biaya tanam dirinya membutuhkan biaya sekitar 7 juta Rupiah. Uang itu untuk pembelian benih, perawatan dan pembelian pupuk.

Sanik lebih beruntung, dengan luasan yang sama, bawang merah milik tetangganya hanya ditawar 800 ribu rupiah. Sama dengan Sanik, tetangganya itu juga menolak tawaran dari pengepul.

“Kalau harga segitu mending saya buang saja bawangnya,” ujar Sanik menirukan tetangganya.

Menjual bawang merah sekarang lebih sulit dibandingkan tahun kemarin. Tahun kemarin, bawang merah yang baru dipanen langsung diborong oleh pengepul. Sedang tahun ini bawang merah setelah dipanen dibawa pulang dulu untuk dibersihkan. D

engan dibantu oleh anak dan cucunya, Sanik “mritil” bawang merah yang sudah dipanen dan dijemur. Mritil ini untuk membersihkan daun bawang, kotoran dan akar yang masih menempel pada bawang merah.

Sebelum di pritil, bawang merah harus dijemur terlebih dahulu. Musim hujan seperti sekarang, tak membuat bawang merah mendapat cukup panas, sehingga bawang merah tak benar-benar kering.

Jika cuaca panas, bawang merah cukup membutuhkan waktu 3 hari untuk kering. Sedang sekarang seminggu pun bawang merah masih “mamel” atau setengah kering.

Beberapa bawang merah terlihat busuk, lantaran tak cukup kering, semakin kering bawang merah, harganya akan semakin mahal dan bisa disimpan lebih lama.

“Sekarang tambah biaya jemur, biaya mritil, jadi tambah biaya tambah tenaga, tapi harga turun,” jelas Sanik.

Musim hujan ini juga membuat petani bawang merah harus memanen lebih awal tanamanya. Seperti diungkapkan oleh Indro, yang masih kerabat Sanik.

Menurut Indro, musim hujan ini membuat lahan bawang merah kebanjiran. Sehingga dirinya harus memanen lebih awal, atau resikonya bawang merah menjadi busuk.

“Paling tidak 5 hari lagi dicabut, karena kebanjiran ya dicabut (dipanen),” ujar Indro.

Menurutnya, banjir sudah merendam tanamanya selama 2 minggu. Lantaran dipanen lebih awal, hasil panenya menurun drastis.

Dari tanah seluas 100 ru (100 kali 14 meter) hasilnya tak ada 1 ton. Padahal jikan normal bisa mencapai 4 ton.

“Mungkin sekitar 6 kuintal per 100 ru,” jelasnya.

Dirinya berharap mendapat perhatian pemerintah, untuk membantu petani bawang merah, terutana menurunkan harga pupuk dan pestisida. (JP/t.ag/RG4)

Berita Terbaru

DPRD Surabaya Soroti Polemik Lahan Padel Golden City, Investasi dan Aset Daerah Diminta Sama-sama Terlindungi

DPRD Surabaya Soroti Polemik Lahan Padel Golden City, Investasi dan Aset Daerah Diminta Sama-sama Terlindungi

Kamis, 04 Jun 2026 21:48 WIB

Kamis, 04 Jun 2026 21:48 WIB

SURABAYA – Polemik proyek lapangan padel di kawasan Golden City (Goci) Surabaya menjadi perhatian DPRD Surabaya setelah muncul dugaan sebagian lahan yang d…

PROYEK MARGOREJO DISOROT TAJAM: Pekerjaan Yang Amburadul, Hingga "Buta-Tulinya" Para Birokrat serta APH

PROYEK MARGOREJO DISOROT TAJAM: Pekerjaan Yang Amburadul, Hingga "Buta-Tulinya" Para Birokrat serta APH

Kamis, 04 Jun 2026 19:53 WIB

Kamis, 04 Jun 2026 19:53 WIB

SURABAYA, Bacasaja.id- Proyek saluran U-Ditch di Jalan Margorejo kini berubah menjadi bom waktu. Alih-alih menyembuhkan banjir, proyek miliaran rupiah ini…

Mayor Jenderal TNI Dr. Agus Dhani Mandaladikari, S.H., M.Hum : Klaim Pemkot Atas Lahan Bandung Zoo Penuh Kejanggalan

Mayor Jenderal TNI Dr. Agus Dhani Mandaladikari, S.H., M.Hum : Klaim Pemkot Atas Lahan Bandung Zoo Penuh Kejanggalan

Kamis, 04 Jun 2026 19:14 WIB

Kamis, 04 Jun 2026 19:14 WIB

BANDUNG- Sengketa kepemilikan lahan Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo) terus berguir. Konflik yang melibatkan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung dan pihak…

Petinggi PLN Kasak Kusuk Lobi Kejati DKI Jakarta Soal Dugaan Mark-Up Rp13,5 M, ‘Tangkap Yusuf Didi dan Kroninya

Petinggi PLN Kasak Kusuk Lobi Kejati DKI Jakarta Soal Dugaan Mark-Up Rp13,5 M, ‘Tangkap Yusuf Didi dan Kroninya

Kamis, 04 Jun 2026 18:30 WIB

Kamis, 04 Jun 2026 18:30 WIB

JAKARTA - Penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta tampaknya tidak main-main dalam mengusut kasus dugaan Mark-Up anggaran Kontrak…

Anggota DPR RI Dukung Penyegaran Pimpinan BGN, Minta Program MBG Lebih Akuntabel

Anggota DPR RI Dukung Penyegaran Pimpinan BGN, Minta Program MBG Lebih Akuntabel

Kamis, 04 Jun 2026 14:37 WIB

Kamis, 04 Jun 2026 14:37 WIB

JAKARTA– Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, menghormati keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan evaluasi dan penyegaran kepemimpinan di Badan Gizi N…

DPRD: Jangan Cuma JLLT dan JLLB, Pemkot Perlu Bangun RSUD di Surabaya Selatan dan Utara

DPRD: Jangan Cuma JLLT dan JLLB, Pemkot Perlu Bangun RSUD di Surabaya Selatan dan Utara

Kamis, 04 Jun 2026 14:31 WIB

Kamis, 04 Jun 2026 14:31 WIB

SURABAYA-  Pembangunan infrastruktur masih menjadi fokus utama arah pembangunan Kota Surabaya dalam beberapa tahun ke depan. Selain proyek jalan lingkar yang …