Gawat! Ditemukan Ikan Predator di Sungai Brantas

Redaksi


Gawat! Ditemukan Ikan Predator di Sungai Brantas

Ikan predator jenis ikan pari air tawar yang ditemukan oleh warga di Sungai Brantas. (istimewa)

BACASAJA.ID - Seekor ikan predator ditemukan terkait pancing warga. Ikan jenis pari air tawar ini bukan spesies asli Sungai Brantas, sehingga dianggap mengancam ekosistem Sungai Brantas.

Ikan pari air tawar ini terpancing oleh warga di bawah jembatan Nguri, aliran Sungai Brantas antara Blitar-Tulungagung.

Temuan ini cukup memprihatinkan pemerhati lingkungan, WWI (world Wide Indonesia). Pasalnya ikan pari air tawar dikenal sebagai salah satu ikan predator.

Satu relawan WWI Region Tulungagung, Alimi, menyebut ikan pari air tawar ini bukan ikan asli Sungai Brantas.

Ikan ini berasal dari Amerika Selatan dan bersifat invasive, sehingga membahayakan spesies asli Sungai Brantas.

“Ikan ini seharusnya tidak ada di Sungai Brantas. Karena bisa membahayakan ikan-ikan asli Sungai Brantas,” keluh Salim, panggilan akran Alimi, dikutip pada Jumat (26/11/2021).

Ikan yang ditemukan masih berukuran kecil. Sebelumnya pemancing lainya di wilayah Serut Blitar juga menemukan ikan serupa dengan ukuran lebih kecil.

Dengan temuan 2 ikan ini, Salim khawatir populasi ikan ini di Sungai Brantas jauh lebih besar.

“Dia makanannya ikan-ikan kecil serta udang. Bisa habis kalau ukurannya sudah besar,” sambung Salim.

Selain mengancam ekosistem Sungai Brantas, ikan ini juga berbahaya bagi manusia, lantaran pada ekornya terdapat duri beracun.

Dikhawatirkan saat dilakukan flushing atau pladu, warga yang mencari ikan secara tak sengaja menemukan ikan ini dan terkena duri ekornya.

Dirinya menduga keberadaan ikan ini akibat pelepasan yang dilakukan warga. Dugaan awal ikan dilepas oleh warga dengan ritual melepas sial.

Sayangnya ikan yang dilepas jenis ikan yang membahayakan kehidupan ikan asli di Brantas.

“Jangan asal melepas ikan, pastikan ikan yang dilepas adalah ikan asli perairan setempat. Jangan ikan invasif,” tegas Salim.

Pihaknya menghormati kebiasaan ritual membuang sial dengan melepas hewan yang hidup di air, namun dirinya menghimbau agar hewan yang dilepas merupaka hewan asli daerah tersebut.

Sebab jika sembarang melepas binatang, akan akibatkan kerusakan ekosistem.

“Ikan yang invasif akan memakan ikan asli. Kehidupan air yang tadinya seimbang, akhirnya ada kemungkinan jenis hewan yang punah,” paparnya.

Salah satunya dalah pelepasan ikan red devil atau iblis merah, ikan yang hampir menyerupai ikan mujair ini biasa dilepas di Waduk Wonorejo sebagai sarana melepas sial.

Sayang pelepasan ikan yang tidak terkontrol ini akibatkan bencana ekosistem di Waduk Wonorejo.

Selain ikan pari, WWI juga menemukan ikan jaguar di Sungai Brantas. Ikan ini biasanya dimiliki oleh penghobi yang melepas ikanya di Sungai Brantas.

Dirinya meminta penghobi tak melepas ikan sembarangan di Sungai Brantas. Jika memang sudah bosan atau tidak bisa memberi makan, lebih baik dimusnahkan.

“Kelihatannya lebih manusiawi, dari pada dimusnahkan lebih baik dilepas. Padahal itu jauh lebih berbahaya, karena merusak ikan asli Indonesia,” ucapnya.

Atau jika tak tega memusnahkan ikan itu, aktivis lingkungan siap membantu penghobi. Hal itu dilakukan untuk melindungi spesies asli Indonesia. (JP/t.ag/RG4)