BACASAJA.ID - Dalam kurun waktu dua hari belakangan, jagad maya dihebohkan dengan viralnya video yang menampilkan perdebatan antara orangtua murid dan pihak sekolah. Masalahnya, sang orangtua murid tidak berkenan putrinya yang nonmusilim diwajibkan untuk mengenakan jilbab.
Adalah Eliana Hia dan guru sekolah SMK Negeri 2 Padang yang berdebat akan hal itu. Jeni Cahyani Hia--putri Eliana--yang duduk di Kelas IX pada Jurusan Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran (OTKP), tidak mengenakan jilbab ketika mengikuti pelajaran di sekolah.
Diberitakan sebelumnya, viral di media sosial video yang memperlihatkan percakapan antara orang tua murid Eliana Hia dan pihak SMK Negeri 2 Padang pada Kamis (21/1/2021). Eliana dipanggil pihak sekolah karena anaknya, Jeni Cahyani Hia, tidak mengenakan jilbab.
"Bagaimana sikap dan rasanya, kalau anak Anda dipaksa wajib untuk ikut aturan yayasan. Kalau yayasan tidak apa, ini kan (sekolah) negeri," tegas Eliana ngotot.
Terkait protes Eliana itu, pihak sekolah mengatakan, mengenakan jilbab di sekolah sudah menjadi aturan sekolah yang telah disepakati. Jadi, menjadi aneh kalau tiba-tiba ada yang memprotesnya.
"Menjadi janggal pihak sekolah, kalau ada siswa yang tidak patuh aturan sekolah. Lha, kan di awal sudah sepakati," kata pihak sekolah dalam video itu.
Lain guru lain kepala sekolah
Dikonfirmasi terpisah, Kepala SMK Negeri 2 Padang Rusmadi mengakui, memang ada 46 siswi nonmuslim yang mengenakan jilbab saat bersekolah. Dari semua itu, cuma Jeni Hia saja yang tidak mengenakan. Belakangan, terjadilah 'ribut-ribut' siswi nonmuslin yang 'dipaksa' berjilbab itu.
"Selaku Kepsek, saya menyampaikan permohonan maaf atas segala kesalahan dari jajaran staf Bidang Kesiswaan dan Bimbingan Konseling dalam penerapan aturan dan tata cara berpakaian bagi siswi," ucap Rusmadi, Sabtu (23/1/2021).
Kepsek Rusmadi menegaskan, pihak sekolah tidak pernah memaksa dalam bentuk apapun mengenai seragam untuk nonmuslim. Bahkan, Rusmadi mengklaim, para siswi nonmuslim itulah yang mengenakan jilbab atas keinginan sendiri.
"Selama itu tidak ada gejolak. Tidak ada paksaan. Itu keinginan sendiri. Kami pernah bertanya apakah mereka nyaman atau tidak. Mereka menjawab nyaman saja. Ketika ada kegiatan agama Islam, mereka nonmuslim juga sudah kami beri dispensasi untuk tidak datang. Tapi, mereka tetap datang juga," ungkap Rusmadi.
Sementara itu, politikus PDI Perjuangan (PDIP) Andreas Hugo Pareira menegaskan, harus diberikan peringatan dan sanksi tegas kepada sekolah dan guru yang diduga memaksakan atribut keagamaan terhadap siswi tersebut.
"Terhadap lembaga pendidikan yang melakukan peserta didik untuk berkeyakinan atau menggunakan simbol yang tidak sesuai dengan keyakinan agamanya harus diberikan peringatan keras," ujar Andreas. (tdk/rga)
Editor : Redaksi