SURAKARTA – Karaton Surakarta Hadiningrat akan secara resmi membuka rangkaian Sekaten Tahun Be 1960/2026 pada Minggu, 2 Agustus 2026, pukul 15.30 WIB di Kompleks Pakelaran Karaton Surakarta Hadiningrat. Pembukaan diawali dengan prosesi selamatan sebagai ungkapan rasa syukur, kemudian dilanjutkan dengan seremoni pembukaan sebagai penanda dimulainya seluruh rangkaian Sekaten yang akan berlangsung sepanjang bulan Agustus.
Sekaten merupakan salah satu tradisi paling sakral dan bersejarah di Karaton Surakarta Hadiningrat yang diwariskan secara turun-temurun sebagai media syiar Islam melalui pendekatan budaya. Tradisi ini tidak hanya mempertahankan prosesi adat Keraton, tetapi juga menjadi ruang pelestarian seni budaya, penguatan identitas bangsa, pemberdayaan ekonomi kreatif, serta destinasi wisata budaya yang terus hidup di tengah masyarakat.
Penyelenggaraan Sekaten Surakarta 2026 merupakan pelaksanaan atas dawuh Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana XIV, yang sebelum dinobatkan sebagai Raja Karaton Surakarta Hadiningrat pernah bergelar GPH Mangkubumi dan selanjutnya menerima gelar KGPH Hangabehi pada tahun 2022.
Ketua Harian Lembaga Dewan Adat (LDA) Karaton Surakarta Hadiningrat, KPH Dr. Eddy Wirabhumi, menjelaskan bahwa pembukaan Sekaten menjadi awal dari rangkaian tradisi yang memiliki makna religius, historis, sekaligus kultural.
"Pembukaan Sekaten dilaksanakan hari Minggu pukul 15.30 WIB di Pakelaran. Diawali dengan selamatan, kemudian dilanjutkan seremoni pembukaan sebagai tanda dimulainya rangkaian Sekaten," ujar KPH Dr. Eddy Wirabhumi.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa Sekaten bukan hanya identik dengan pasar malam ataupun hiburan rakyat, melainkan memiliki inti pelaksanaan berupa prosesi adat yang telah diwariskan selama berabad-abad.
"Sekaten itu mesti dipahami, tidak hanya perayaan Sekaten, tetapi juga ada acara inti berupa Miyos Gangsa Sekaten, termasuk rangkaian Gunungan Sekaten," katanya.
Ia menambahkan, nilai utama Sekaten terletak pada keberlanjutan tradisi yang memadukan ajaran Islam, budaya Jawa, dan kehidupan masyarakat dalam satu kesatuan yang harmonis. Karena itu, seluruh prosesi adat tetap dijalankan sesuai pakem sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus menjaga keluhuran budaya bangsa.
Rangkaian Prosesi Adat Sekaten 2026
Rangkaian Sekaten Tahun Be 1960/2026 akan berlangsung selama satu bulan dengan tahapan prosesi adat sebagai berikut:
2 Agustus 2026
Pembukaan resmi Sekaten di Kompleks Pakelaran Karaton Surakarta Hadiningrat yang diawali prosesi selamatan dan seremoni pembukaan.
12 Agustus 2026
Jamasan Kyai Guntursari dan Kyai Gunturmadu, yakni prosesi penyucian dua gamelan pusaka Sekaten sebagai persiapan rangkaian inti.
19 Agustus 2026
Miyosaken Gangsa Sekaten, prosesi mengeluarkan dan mengiring gamelan pusaka dari Karaton menuju Bangsal Pagongan Masjid Agung Surakarta.
19–25 Agustus 2026
Gangsa Sekaten dibunyikan setiap hari di Bangsal Pagongan Masjid Agung Surakarta sebagai bagian dari tradisi syiar Islam yang telah berlangsung turun-temurun.
26 Agustus 2026
Ngonduraken Gangsa Sekaten, yaitu prosesi mengembalikan gamelan pusaka ke Karaton Surakarta.
26 Agustus 2026
Hajad Dalem Grebeg Maulud (Gunungan Sekaten) menjadi puncak perayaan melalui iring-iringan gunungan dari Karaton menuju Masjid Agung Surakarta sebagai simbol rasa syukur, berkah, dan kebersamaan.
Selain prosesi adat tersebut, Pasar Malam Sekaten akan berlangsung mulai 1 hingga 30 Agustus 2026 di kawasan Alun-Alun Utara dan Halaman Masjid Agung Surakarta, menghadirkan wahana permainan, UMKM, kuliner, perdagangan tradisional, serta berbagai aktivitas ekonomi kreatif yang menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat selama penyelenggaraan Sekaten.
Festival Budaya yang Mempertemukan Seniman Nusantara
Sebagai bagian dari penguatan fungsi budaya, Karaton Surakarta Hadiningrat juga menyelenggarakan Sekaten Art Festival 2026 di kawasan Siti Hinggil Karaton Surakarta Hadiningrat.
Festival ini menjadi panggung apresiasi bagi sanggar seni, komunitas budaya, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang menampilkan beragam kesenian tradisional.
Tidak hanya berasal dari wilayah Solo Raya, peserta juga datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Jawa Timur dan Jawa Barat, sebagai bentuk kolaborasi budaya antardaerah yang memperkaya khazanah kebudayaan Nusantara.
Melalui kegiatan tersebut, Karaton Surakarta berharap Sekaten menjadi ruang dialog budaya, memperkuat jejaring antarseniman, sekaligus mengenalkan nilai-nilai sejarah, spiritualitas, filosofi, dan kearifan budaya Jawa kepada masyarakat luas. Proposal penyelenggaraan juga menempatkan kawasan Sekaten sebagai festival budaya terpadu yang mengintegrasikan ruang tradisi, hiburan, edukasi, kuliner, perdagangan, dan ekonomi kreatif dalam satu kawasan yang tertata.
Warisan Budaya yang Terus Hidup
Selama berabad-abad, Sekaten telah menjadi simbol harmoni antara agama, budaya, dan kehidupan masyarakat Jawa. Tradisi ini tidak hanya menjaga keberlangsungan prosesi adat Karaton Surakarta Hadiningrat, tetapi juga menjadi sarana pendidikan budaya bagi generasi muda sekaligus penggerak sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Melalui penyelenggaraan Sekaten 2026, Karaton Surakarta Hadiningrat mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga, menghormati, dan melestarikan warisan budaya adiluhung yang menjadi bagian penting dari identitas bangsa Indonesia.
Karaton Surakarta Hadiningrat berharap seluruh rangkaian Sekaten Tahun Be 1960/2026 dapat berlangsung dengan aman, tertib, khidmat, dan penuh keberkahan, sehingga nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur terus hidup, berkembang, serta memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara. (*)
Editor : Redaksi