SURABAYA, Bacasaja.id – Menjelang peringatan Hari Santri Nasional 2025, politisi Partai Demokrat sekaligus aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Muhammad Saifuddin, menyuarakan keprihatinannya atas tayangan di televisi nasional yang dinilai melecehkan dunia pesantren.
Saifuddin menilai tayangan dengan guyonan bernuansa pesantren tersebut mencerminkan ketidakpekaan terhadap nilai dan martabat kaum santri.
Baca juga: DJ Panti Pijat GION SPA Surabaya Terseret Kasus TPPO Anak di Bawah Umur
“Kejadian itu sangat disayangkan. Santri dan pesantren adalah pilar moral bangsa, bukan bahan olok-olok untuk hiburan,” tegasnya, Senin (20/10/2025).
Menurutnya, momentum Hari Santri Nasional seharusnya menjadi ajang penguatan penghargaan terhadap kontribusi pesantren bagi bangsa, bukan justru menodainya dengan konten yang tidak mendidik.
“Pesantren telah melahirkan banyak tokoh bangsa. Mereka berjuang untuk kemerdekaan dan mencerdaskan masyarakat. Jadi, sudah seharusnya lembaga penyiaran lebih berhati-hati dan menghormati nilai-nilai yang dijaga oleh para kiai dan santri,” ujar Saifuddin.
Ia juga menekankan pentingnya edukasi media agar lebih memahami kultur pesantren yang sarat dengan nilai kesederhanaan, keikhlasan, dan cinta tanah air.
“Kita boleh kreatif, boleh membuat hiburan, tapi jangan sampai melukai perasaan umat dan merendahkan dunia pesantren. Ini bukan soal sensitif, tapi soal marwah,” lanjutnya.
Lebih jauh, Saifuddin mengajak para santri agar tampil sebagai benteng moral sekaligus agen perubahan di era digital.
“Santri hari ini harus cerdas bermedia, aktif menyebarkan konten positif dan menepis narasi yang menyesatkan. Jadilah santri yang adaptif, tapi tetap berprinsip,” pesannya.
Baca juga: Penuh Kehangatan, Peringatan Hari Lansia di Kapas Madya Baru Diwarnai Aksi Sosial
Menutup pernyataannya, Saifuddin menyerukan agar momentum Hari Santri 2025 dijadikan refleksi bersama untuk memperkuat sinergi antara pesantren, pemerintah, dan media.
“Mari kita jadikan Hari Santri sebagai pengingat bahwa moralitas dan intelektualitas harus berjalan seiring. Santri bukan sekadar simbol, tapi sumber kekuatan bangsa,” pungkasnya. (dims)
Editor : Redaksi