SURABAYA – DPRD Kota Surabaya mendorong agar kegiatan positif bagi siswa diperbanyak menyusul diterbitkannya Surat Edaran (SE) Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi terkait pembatasan penggunaan gawai di lingkungan pendidikan.
Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Kota Surabaya, Ajeng Wira Wati, menilai kebijakan tersebut sebagai langkah preventif yang tepat untuk melindungi kesehatan mental dan fisik anak. Menurutnya, pembatasan gawai tidak hanya berdampak pada disiplin belajar, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas tumbuh kembang siswa.
“Bukan berarti teknologi dilarang, tetapi penggunaannya harus proporsional. Pembatasan ini justru membawa dampak positif karena anak-anak kembali difokuskan pada aktivitas belajar dan kegiatan fisik,” ujar Ajeng.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data Kesehatan Surabaya 2024, sejumlah masalah kesehatan pada anak seperti gangguan penglihatan, gangguan emosional, hingga masalah mental banyak dipicu oleh penggunaan gawai yang berlebihan. Karena itu, kebijakan pembatasan dinilai menjadi salah satu solusi penanganan jangka panjang.
Baca juga: DPRD: Jangan Cuma JLLT dan JLLB, Pemkot Perlu Bangun RSUD di Surabaya Selatan dan Utara
Ajeng juga menekankan pentingnya peran sekolah dan pemerintah kota untuk menindaklanjuti kebijakan tersebut dengan memperbanyak kegiatan non-gawai, seperti olahraga, seni, literasi, dan aktivitas sosial yang melibatkan siswa secara langsung.
“Jika tidak diimbangi dengan kegiatan yang menarik, pembatasan gawai akan kurang efektif. Pemerintah perlu memfasilitasi lebih banyak ruang dan program bagi anak-anak agar mereka tetap aktif, sehat, dan produktif,” tegasnya.
Baca juga: DPRD Surabaya Soroti SPMB SMA/SMK yang Masih Bebani Warga Miskin
Menurutnya, langkah yang diambil Pemkot Surabaya ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam upaya menjaga kesehatan mental dan fisik anak di tengah tantangan era digital.
“Kebijakan ini membawa banyak dampak positif karena difokuskan pada aktivitas belajar dan kegiatan fisik. Sehingga langkah ini menjadi solusi penuntasan masalah kesehatan mental dan fisik anak,” pungkas Ajeng. (dims)
Editor : Redaksi