Ribuan Warga Padati Solo, Kirab Malam 1 Suro Karaton Surakarta Hadiningrat Berlangsung Khidmat

Reporter : Redaksi
Kirab Malam 1 Suro Karaton Surakarta Hadiningrat

SOLO – Ribuan masyarakat memadati kawasan Karaton Surakarta Hadiningrat dan sejumlah ruas jalan utama di Kota Solo pada Selasa malam (16/6/2026) hingga Rabu dini hari (17/6/2026) untuk menyaksikan pelaksanaan Kirab Pusaka Malam 1 Suro yang menjadi tradisi tahunan dalam menyambut Tahun Baru Jawa 1960 Be.

Prosesi sakral tersebut berlangsung khidmat dengan melibatkan ribuan peserta yang terdiri atas sentana dalem, abdi dalem, anggota Paguyuban Kawula Karaton Surakarta (PAKASA), serta masyarakat dari berbagai daerah. Selain menjadi agenda budaya yang selalu dinantikan, Kirab Malam 1 Suro juga menjadi simbol pelestarian tradisi Jawa yang telah diwariskan secara turun-temurun selama berabad-abad.

Baca juga: Dipimpin Langsung PB XIV, Kirab Malam 1 Suro Karaton Surakarta Diikuti Lebih dari 5.000 Peserta

Pelaksanaan kirab tahun ini dipimpin langsung oleh Sinuhun Paku Buwono XIV dari lingkungan Karaton Surakarta Hadiningrat. Tepat pukul 00.00 WIB, rombongan kirab mulai bergerak dari kawasan Kamandungan Karaton Surakarta menuju sejumlah ruas jalan utama Kota Solo sebelum kembali memasuki kompleks karaton menjelang dini hari.

Sejak sore hari, masyarakat sudah mulai berdatangan ke kawasan Baluwarti dan Alun-Alun Utara untuk mendapatkan posisi terbaik menyaksikan jalannya prosesi. Antusiasme warga terlihat begitu tinggi. Tidak hanya masyarakat Solo Raya, banyak pengunjung dari luar daerah yang sengaja datang untuk menyaksikan tradisi yang menjadi salah satu ikon budaya Jawa tersebut.

Suasana semakin terasa sakral ketika ratusan lampu petromaks dan obor tradisional mulai dinyalakan di lingkungan karaton. Cahaya temaram yang menerangi jalannya kirab menghadirkan nuansa khas yang sulit ditemukan dalam kegiatan budaya lainnya.

Dalam pelaksanaan kirab tahun ini, sebanyak 14 pusaka Karaton Surakarta Hadiningrat turut diarak mengelilingi kota. Pusaka-pusaka tersebut dibawa oleh para sentana dalem dan keluarga besar karaton dengan penuh penghormatan. Masing-masing pusaka juga dilengkapi songsong atau payung kebesaran sebagai simbol penghormatan terhadap warisan budaya yang dijaga secara turun-temurun.

Di belakang rombongan pusaka, para abdi dalem berjalan dengan tertib mengikuti jalannya kirab. Seluruh peserta menjalankan tradisi tapa bisu, yaitu berjalan tanpa berbicara sepanjang perjalanan. Tradisi ini dimaknai sebagai bentuk pengendalian diri, introspeksi, serta perenungan dalam menyambut datangnya tahun baru.

Salah satu bagian yang paling menarik perhatian masyarakat adalah kehadiran tiga ekor Kebo Bule keturunan Kiai Slamet yang kembali memimpin jalannya kirab. Kehadiran Kebo Bule selalu menjadi daya tarik tersendiri dalam setiap pelaksanaan Kirab Malam 1 Suro.

Ribuan warga tampak antusias menunggu kemunculan ketiga kerbau tersebut. Banyak masyarakat yang mengabadikan momen saat Kebo Bule melintas di sepanjang rute kirab.

Dalam tradisi Karaton Surakarta Hadiningrat, Kebo Bule Kiai Slamet merupakan bagian penting dari simbol budaya yang telah melekat dalam sejarah panjang karaton. Kehadirannya tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan Kirab Malam 1 Suro yang selama ini menjadi salah satu tradisi paling dikenal oleh masyarakat luas.

Adapun rute kirab tahun ini dimulai dari Kamandungan Karaton Surakarta menuju Alun-Alun Utara, Gapura Gladag, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Mayor Kusmanto, Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Veteran, Jalan Yos Sudarso, Jalan Slamet Riyadi, kemudian kembali memasuki kawasan karaton melalui Jalan Pakoe Boewono.

Meski melibatkan ribuan peserta dan disaksikan oleh lautan masyarakat, jalannya kirab berlangsung tertib dan lancar hingga dini hari. Pengamanan dilakukan oleh berbagai unsur yang bekerja sama untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan aman.

Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta, KPH Eddy Wirabhumi, mengatakan jumlah pusaka yang dikirab tahun ini berjumlah 14 sesuai dengan pelaksanaan yang telah direncanakan sebelumnya.

“Pusaka yang dikirab ada 14 dan peserta kirab diperkirakan mendekati 5.000 orang,” ujarnya.

Menurutnya, tingginya antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa tradisi Karaton Surakarta masih mendapat tempat yang kuat di tengah kehidupan masyarakat modern.

Baca juga: Kirab Malam 1 Suro Karaton Surakarta Digelar 16 Juni 2026, Kebo Bule Kiai Slamet Siap Pimpin Prosesi Sakral

Sementara itu, Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat Karaton Surakarta Hadiningrat, G.K.R. Koes Moertiyah Wandansari, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran pelaksanaan Kirab Malam 1 Suro tahun ini.

Menurutnya, seluruh rangkaian kegiatan telah dipersiapkan sejak jauh hari, termasuk koordinasi internal, persiapan jalur kirab, hingga pelaksanaan ritual jamasan pusaka yang dilakukan sebelum prosesi berlangsung.

“Alhamdulillah seluruh rangkaian kirab berjalan dengan baik. Kami berterima kasih atas dukungan masyarakat yang ikut menjaga ketertiban dan mendoakan kelancaran kegiatan ini,” ujarnya.

Ia menilai antusiasme masyarakat yang terus hadir dan mengikuti jalannya kirab menjadi bukti bahwa Karaton Surakarta masih memiliki ikatan yang kuat dengan masyarakat.

Selain menjadi agenda budaya tahunan, Kirab Malam 1 Suro juga memiliki makna spiritual yang mendalam. Tradisi ini menjadi momentum untuk melakukan introspeksi, memperbaiki diri, dan memanjatkan doa agar tahun yang akan datang membawa kebaikan bagi masyarakat.

Pelaksanaan kirab tahun ini juga mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI, Restu Gunawan, memberikan apresiasi atas terselenggaranya Kirab Malam 1 Muharam 2026 yang berlangsung aman, tertib, dan penuh antusiasme masyarakat.

Menurutnya, Kirab Malam 1 Suro memiliki arti penting karena telah menjadi bagian dari Warisan Budaya Takbenda Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan bersama.

Baca juga: Sentana Dalem Trah Pakubuwono II hingga XIII Bersatu, Dorong Peneguhan PB XIV Hangabehi

“Tradisi ini bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Surakarta, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia,” katanya.

Ia menambahkan bahwa keberadaan Karaton Surakarta sebagai cagar budaya nasional tidak hanya ditentukan oleh bangunan fisiknya, tetapi juga oleh kehidupan budaya yang terus berlangsung melalui berbagai tradisi dan ritual yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Kirab Malam 1 Suro menjadi salah satu contoh nyata bagaimana warisan budaya tersebut tetap hidup dan mampu menarik partisipasi masyarakat dalam jumlah besar.

Antusiasme masyarakat yang memadati jalur kirab hingga dini hari, menurutnya, menunjukkan bahwa budaya tradisional masih memiliki daya tarik kuat di tengah perkembangan zaman.

Pelaksanaan Kirab Malam 1 Suro 2026 akhirnya berakhir sekitar pukul 03.00 WIB. Seluruh peserta, pusaka, dan rombongan Kebo Bule kembali memasuki lingkungan Karaton Surakarta Hadiningrat dengan tertib.

Berakhirnya prosesi tersebut menandai dimulainya Tahun Baru Jawa 1960 Be sekaligus menjadi pengingat bahwa tradisi dan nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur masih tetap hidup di tengah masyarakat.

Melalui Kirab Malam 1 Suro, Karaton Surakarta Hadiningrat kembali menunjukkan perannya sebagai salah satu pusat pelestarian budaya Jawa yang terus menjaga warisan sejarah, adat istiadat, dan tradisi yang menjadi bagian penting dari identitas bangsa Indonesia. (*)

Editor : Redaksi

Hukum
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru