MANAJEMEN ALIBI DAN SOSIALISASI ASAL BAPAK SENANG: Mengapa Gianto Sulistyono Layak Dievaluasi Total?

bacasaja.id
PT Pasar Surya terus menjadi sorotan publik

Surabaya, Bacasaja.id -Kebijakan penataan Sentral Pemotongan Unggas (SPU) dan Rumah Potong Unggas (RPU) di pasar tradisional Kota Pahlawan kini resmi menjelma menjadi bara dalam sekam.

Gelombang perlawanan hebat yang dimotori oleh Paguyuban Pedagang Unggas Pasar Surabaya bukan lagi sekadar riak protes biasa, melainkan tamparan keras bagi jajaran direksi PT Pasar Surya (Perseroda).

Baca juga: MENGULITI HABIS ALIBI BUSUK GIANTO: Dalih Keliling Surabaya Cari Kayu, Direksi Pasar Surya Makin Jadi Bahan Tertawaan!

Di titik episentrum konflik—Pasar Baba'an Baru—kegagalan komunikasi publik yang dipertontonkan oleh jajaran internal korporasi plat merah ini kian membuka tabir ketidakbecusan tata kelola birokrasi pasar modern. 

Sorotan tajam publik kini tertuju lurus pada Direktur Pembinaan Pedagang PT Pasar Surya, Gianto Sulistyono. Alih-alih bertindak sebagai jembatan solutif yang andal, Gianto dinilai gagal total dalam mengeksekusi sosialisasi penataan pedagang unggas.

Ketidakmampuannya meredam gejolak serta merangkul aspirasi akar rumput memicu lahirnya lembar "Pernyataan Sikap & Tuntutan" yang kini terpampang masif di area pasar, menegaskan mosi tidak percaya pedagang kepada kepemimpinannya. 

MOSI TIDAK PERCAYA

9 Tuntutan Pedagang yang Menyengat

Melalui spanduk raksasa yang terbentang di area pasar, Paguyuban Pedagang Unggas Surabaya melayangkan 9 poin tuntutan krusial. Lembar tuntutan ini menjadi bukti otentik bahwa sosialisasi yang selama ini diklaim "berjalan lancar" oleh internal PD Pasar Surya hanyalah sebuah narasi sepihak di atas kertas. 

Adapun poin-poin gugatan keras pedagang meliputi:

Menagih Janji Sosialisasi Beradab 

Pedagang bersikeras menuntut kehadiran Ibu Vykka (perwakilan Pemkot/dinas terkait) secara langsung ke pasar-pasar untuk melakukan sosialisasi mekanisme SPU yang transparan, sesuai arahan awal Bapak Gianto Sulistyono selaku Direktur Pembinaan Pedagang. 

Fasilitas SPU Merata

Menuntut dibangunnya infrastruktur SPU (Sentral Pemotongan Unggas) di setiap pasar tanpa tebang pilih.

Kejelasan Status Kerja

Meminta jaminan hitam di atas putih bahwa seluruh karyawan pedagang eksisting wajib direkrut sebagai tenaga kerja RPU resmi.

Logistik Terintegrasi

Menuntut penyediaan area loading armada yang layak di tiap pasar.

Hak Hidup Unggas di Pasar

Mendesak agar unggas hidup tetap diperbolehkan masuk ke area pasar tradisional sebelum diproses. 

Pengembalian Hak Sampingan

Menuntut pengembalian jeroan (usus, ampela, hati) serta bulu unggas secara utuh tanpa potongan sepihak kepada pedagang.

Baca juga: Pedagang Sudah Jengkel, Abu Nawas Desak Wali Kota Eri Evaluasi Direktur Pembinaan Pedagang PT Pasar Surya

Standarisasi Ongkos Potong

Meminta tarif jasa pemotongan di RPU tidak dipatok mencekik dan terlalu mahal.

 

Karantina Mandiri

Menuntut pembangunan kandang karantina unggas khusus yang disembelih di area RPU. 

 

Ganti Rugi Kematian Komoditas

Mendesak pemenuhan ganti rugi sesuai harga pasar pabrik/peternak apabila unggas mati sebelum sempat dipotong akibat kelalaian sistem logistik RPU.

Sembari menuntut haknya, para pedagang juga membentangkan jargon perlawanan.

 "TOLAK RPU MAHAL, SPU UNTUK PEDAGANG, UNGGAS HIDUP TETAP MASUK PASAR!" 

GAYA KEPEMIMPINAN LEMPAR HANDUK, MELEMPEM DI LAPANGAN 

Kemarahan pedagang tidak lahir dari ruang hampa. Hal ini dipicu oleh lemahnya kepemimpinan Gianto Sulistyono yang dinilai kerap mencari jalan aman. Alih-alih menghadapi badai protes dengan solusi konkret dan diskresi yang berani, Gianto kerap dituding berlindung di balik ketiak Direktur Utama maupun Pemerintah Kota Surabaya setiap kali situasi lapangan memanas. 

"Pedagang sudah jengkel. Setiap ada persoalan, beliau (Gianto) tidak bisa mengambil keputusan. Selalu dilempar ke Direktur Utama atau bahkan ke Pemerintah Kota Surabaya. Padahal, sebagai Direktur Pembinaan Pedagang seharusnya memiliki kewenangan dan keberanian mengambil langkah sesuai tugas dan fungsinya," ketus Gus Hafidz, Koordinator Pedagang Pasar Surabaya, dalam rilis resminya kepada publik. 

Gaya komunikasi birokratis defensif ini dinilai sangat usang untuk iklim jurnalisme dan keterbukaan publik modern.

Ketika dikonfirmasi oleh awak media mengenai persoalan transparansi tata kelola internal, tanggapan yang keluar dari mulut sang direktur pembinaan terkesan sangat menghindari substansi: "Iya mas, saya ini gk ngerti, dan saya paranoid" ujarnya lirih tanpa ada respons tindak lanjut yang nyata hingga tenggat berita diturunkan. 

KANTOR PUSAT PASAR SURYA, KRISIS KEPERCAYAAN!

Krisis komunikasi di Pasar Baba'an kini resmi merembet menjadi krisis kepemimpinan di Kantor Pusat PT Pasar Surya Perseroda. Kegagalan internal dalam mengelola skema transisi dari pemotongan konvensional ke RPU higienis menunjukkan adanya distorsi tajam antara kebijakan di tingkat atas dengan realitas perut rakyat di bawah. 

Publik kini mendesak Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, untuk segera turun tangan dan tidak menutup mata atas raport merah kepemimpinan sektor pembinaan pedagang ini. 

Di tengah upaya kota menggenjot status badan hukum menjadi Perseroda demi efisiensi bisnis, keberadaan pejabat yang gagap berkomunikasi dengan rakyat justru menjadi batu sandungan yang merusak citra tata kelola BUMD Surabaya. 

Jika PT Pasar Surya tetap mempertahankan pola sosialisasi sepihak ala "Asal Bapak Senang" tanpa ada keberanian dari Gianto Sulistyono untuk duduk bersama membedah 9 tuntutan pedagang, maka penataan RPU ini tidak akan pernah mencapai titik temu. Yang tersisa hanyalah pasar tradisional yang lumpuh dan gelombang boikot yang siap meledak kapan saja. 

(Wied)

Editor : Redaksi

Hukum
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru