Kota Surabaya: Dapur Nasionalisme dan Jejak Gemblengan Sang Proklamator, Ir Soekarno

author Redaksi

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Rumah lahir dan masa kecil Presiden RI pertama Soekarno di Jalan Pandean IV Nomor 40
Rumah lahir dan masa kecil Presiden RI pertama Soekarno di Jalan Pandean IV Nomor 40

i

SURABAYA - Kota Surabaya, yang dikenal dengan julukan "Kota Pahlawan," tidak hanya menjadi saksi bisu perjuangan kemerdekaan, tetapi juga diakui sebagai "dapur nasionalisme" yang melahirkan tokoh-tokoh besar bangsa, termasuk di antaranya Bapak Proklamator Indonesia Ir Soekarno.

Sejarahwan sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Purnawan Basundoro menegaskan bahwa Soekarno sendiri mengakui peran penting Surabaya dalam pembentukan karakternya.

Lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901, Soekarno menghabiskan masa remajanya di beberapa kota dan akhirnya kembali lagi ke Kota Surabaya saat usia sekolah.

“Meskipun sempat berpindah ke beberapa kota lain di Jawa Timur seperti Jombang, Mojokerto, Tulungagung, dan Sidoarjo, Soekarno kembali ke Surabaya untuk menempuh pendidikan di Hogere Burgerschool (HBS) pada usia 15 tahun,” ujar Prof. Purnawan, Jumat (13/6/2025).

Masa-masa inilah tersebut yang menjadi periode keemasan bagi Soekarno untuk menyerap berbagai pemikiran dari para tokoh pergerakan asal Surabaya seperti, H.O.S Tjokroaminoto, Dr Soetomo dan lainnya.

Prof. Purnawan menjelaskan bahwa kepribadian Soekarno sangat ditentukan oleh lima hal, salah satunya adalah kondisi Kota Surabaya pada awal abad ke-20. Surabaya kala itu merupakan kota industri terbesar di Hindia Belanda, dengan kaum buruh yang kerap diperlakukan semena-mena oleh pemerintah kolonial. Kondisi ini membentuk kepedulian Soekarno terhadap rakyat kecil dan mendorongnya untuk melawan ketidakadilan.

Salah satu faktor terpenting dalam pembentukan pemikiran Soekarno ialah ketika Bung Karno muda tinggal di rumah H.O.S Tjokroaminoto di Peneleh, yang kini telah resmi menjadi museum. Kala itu, Rumah Tjokroaminoto menjadi pusat berkumpulnya para tokoh pergerakan dari berbagai kota dengan ideologi yang beragam, mulai dari Semaun, Musso, hingga Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo.

Setiap malam, Soekarno diajak Cokroaminoto untuk menemui masyarakat dan berdiskusi. Ia juga mendapatkan pelatihan menulis melalui surat kabar Utusan Hindia yang dipimpin Tjokroaminoto.

“Selama di Surabaya, Soekarno mengaku telah menulis 500 artikel yang dimuat di berbagai surat kabar. "Lingkungan Surabaya itu benar-benar membawa pengaruh pada pembentukan karakter seorang Soekarno," ujar dia.

Cerita menarik tentang perjalanan pendidikan Soekarno di Surabaya juga diungkapkan oleh Prof Purnawan. Soekarno pernah tidak naik kelas di Europeesche Lagere School (ELS) karena kemampuan bahasa Belandanya yang dinilai kurang. Tetapi, hal itu tidak menyurutkan semangat Soekarno.

“Karena Ayah Soekarno, Soekemi Sosrodiharjo rela mengurangi usia Soekarno satu tahun agar putranya tidak minder dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk bersaing dengan teman-teman Belandanya,” terangnya.

Kritis sejak remaja yang dialami Soekarno, salah satunya saat tidak ragu berkelahi dengan teman-teman Belanda yang memperlakukannya tidak adil membentuk fondasi kepribadiannya yang rasional dan anti-perundungan.

Sementara itu, pegiat sejarah Begandring Surabaya Kuncarsono Prasetyo juga menegaskan, kontribusi besar Surabaya pada pemikiran dan pola perjuangan Soekarno. “Betul dalam beberapa buku Soekarno mengakui bahwa sebagai dapurnya nasionalisme Indonesia," tegasnya.

Di samping itu, Kuncar melanjutkan bahwa napak tilas perjuangan Soekarno di Surabaya bisa dilihat dan ditelusuri di kawasan Peneleh. Di sana terdapat Rumah Kelahiran Soekarno, tepatnya Gang Pandean IV Nomor 40. Selain itu, juga ada jejak Soekarno sebagai pelajar di HBS yang tinggal atau kos di peneleh, Rumah H.O.S Tjokroaminoto.

“Banyak sekali jejak sejarah Bung Karno di Kota Surabaya, tentunya kita harus bangga sebagai “Arek Suroboyo”,” tandasnya.

Perbincangan mengenai Soekarno dan Surabaya ini semakin relevan di "Bulan Bung Karno" yang diperingati setiap Juni. Kisah-kisah tersebut menegaskan pentingnya memahami sejarah dan jejak langkah para pahlawan bangsa.

Untuk diketahui, sebagai komitmen Kota Surabaya untuk merawat ingatan sejarah jejak Bung Karno di Surabaya, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meresmikan rumah lahir dan masa kecil Presiden RI pertama Soekarno di Jalan Pandean IV Nomor 40 pada (6/5/2023).

Menurut Wali Kota Eri Cahyadi, Bung Karno dan Surabaya tidak bisa dipisahkan, seperti dua sisi mata uang. Ia ingin sejarah Bung Karno melekat dengan Arek-Arek Surabaya dan karakternya.

“Sejarah Kota Pahlawan tidak bisa dilepaskan dari Bung Karno. Maka dari itu, kami ingin sejarah Bung Karno terus melekat dengan Kota Pahlawan," kata Wali Kota Eri Cahyadi waktu itu. (*)

Berita Terbaru

Dr. Ketut Abid Halimi Raih Penghargaan atas Kontribusinya dalam Pembangunan SDM Polri

Dr. Ketut Abid Halimi Raih Penghargaan atas Kontribusinya dalam Pembangunan SDM Polri

Jumat, 23 Okt 2026 08:56 WIB

Jumat, 23 Okt 2026 08:56 WIB

BATU - Selama lebih dari 17 tahun bersama lembaga Thanks Institute Indonesia, Dr. Ketut Abid Halimi telah mendedikasikan dirinya untuk mengembangkan sumber…

Wujud Cinta terhadap Alam, Polda Sulbar Gelar Green Policing di Perbukitan Desa Bambu untuk Antisipasi Longsor

Wujud Cinta terhadap Alam, Polda Sulbar Gelar Green Policing di Perbukitan Desa Bambu untuk Antisipasi Longsor

Jumat, 23 Okt 2026 08:52 WIB

Jumat, 23 Okt 2026 08:52 WIB

MAMUJU — Polda Sulawesi Barat melaksanakan kegiatan Green Policing di kawasan perbukitan Desa Bambu, Kabupaten Mamuju, Jumat (23/10/2026). Kegiatan ini m…

Bareskrim Polri Bongkar Judi Online Situs Boxkia.com, 4 Orang Ditangkap

Bareskrim Polri Bongkar Judi Online Situs Boxkia.com, 4 Orang Ditangkap

Kamis, 22 Okt 2026 22:48 WIB

Kamis, 22 Okt 2026 22:48 WIB

JAKARTA- Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri mengungkap praktik perjudian online (judol) yang beroperasi melalui situs Boxkia.com.…

Peringatan Satu Tahun Wafat PB XIII, PB XIV Pimpin Doa Bersama 350 Abdi Dalem di Keraton Surakarta

Peringatan Satu Tahun Wafat PB XIII, PB XIV Pimpin Doa Bersama 350 Abdi Dalem di Keraton Surakarta

Kamis, 22 Okt 2026 19:41 WIB

Kamis, 22 Okt 2026 19:41 WIB

Sinuhun Pakubuwono XIV memimpin peringatan satu tahun wafatnya PB XIII di Siti Hinggil Utara, dihadiri sekitar 350 Abdi Dalem.…

Pagar Pengaman Dipasang, Revitalisasi Keraton Surakarta Prioritaskan Pelindungan Cagar Budaya

Pagar Pengaman Dipasang, Revitalisasi Keraton Surakarta Prioritaskan Pelindungan Cagar Budaya

Kamis, 22 Okt 2026 19:29 WIB

Kamis, 22 Okt 2026 19:29 WIB

Jamin keselamatan dan perlindungan cagar budaya, Tim Pelaksana mulai pasang pagar pengaman revitalisasi Keraton Surakarta…

Dengar Persoalan Lahan Warga Pasangkayu, Kapolda Sulbar Kedepankan Dialog dan Kepastian Hukum

Dengar Persoalan Lahan Warga Pasangkayu, Kapolda Sulbar Kedepankan Dialog dan Kepastian Hukum

Kamis, 22 Okt 2026 18:47 WIB

Kamis, 22 Okt 2026 18:47 WIB

MAMUJU – Persoalan lahan dan keamanan masyarakat Pasangkayu menjadi perhatian dalam audiensi Kapolda Sulawesi Barat bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH) T…