SURABAYA- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan pentingnya pemetaan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) secara presisi, untuk menjaga keseimbangan ketahanan pangan. Pernyataan tersebut disampaikan saat menerima audiensi Kepala Kanwil BPN Jawa Timur, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin, 30 Maret 2026.
Menurut Khofifah, kejelasan tata ruang sangat penting bagi pembangunan daerah. Pemetaan LSD dibutuhkan agar industri berkembang tanpa mengorbankan lahan pertanian produktif.
Ia menilai posisi strategis Jawa Timur sebagai penopang industri nasional perlu diimbangi pengaturan ruang. Pengaturan tersebut harus jelas, terukur, dan berkelanjutan.
"Target nasional 2045 sektor manufaktur 30%, Jawa Timur sudah 35%," ujarnya. "Potensi besar ini harus didukung pemetaan lahan yang jelas."
Khofifah menegaskan kepastian tata ruang penting untuk menarik investasi. Selain itu, memberi ruang bagi usaha yang sudah berjalan.
"Jangan sampai investor ingin masuk tapi tidak tersedia lahan pasti," ujarnya. "Atau usaha eksisting ingin berkembang namun terhambat."
"Kalau pemetaan jelas, kawasan industri dan LSD bisa dikunci," ujarnya. "Dengan begitu tidak ada lagi pergeseran fungsi lahan."
Kanwil BPN Jatim menargetkan LSD minimal 87�ri Lahan Baku Sawah. Target tersebut tersebar di 38 kabupaten dan kota.
Sejumlah daerah telah melampaui target minimal nasional tersebut. Jember 87,65%, Lumajang 87,82%, Bangkalan 92%, Magetan dan Pamekasan 93%.
Namun, masih ada daerah yang belum mencapai target. Karena itu diperlukan percepatan pemetaan secara menyeluruh.
Khofifah juga menekankan percepatan sertifikasi tanah untuk kepastian hukum. Langkah ini penting melindungi hak masyarakat.
"Masih ada sekitar 5,2 juta bidang tanah belum bersertifikat," katanya. "Ini harus menjadi perhatian serius kita bersama."
Menurutnya, penataan pertanahan membutuhkan kerja lintas sektor dan daerah. Koordinasi intensif dengan bupati dan wali kota sangat diperlukan.
"Kita perlu segera rakor bersama kepala daerah," ucapnya. "Agar langkah percepatan bisa seiring dan saling menguatkan." (*)
Editor : Redaksi