SURABAYA- Pembangunan infrastruktur masih menjadi fokus utama arah pembangunan Kota Surabaya dalam beberapa tahun ke depan. Selain proyek jalan lingkar yang menjadi prioritas, DPRD Surabaya juga mendorong percepatan pembangunan rumah sakit di kawasan Surabaya Selatan dan Surabaya Utara guna mewujudkan pemerataan layanan kesehatan bagi masyarakat.
Ketua DPRD Surabaya, Syaifuddin Zuhri, menilai perkembangan infrastruktur di Kota Pahlawan dalam beberapa tahun terakhir berjalan cukup signifikan dan terukur. Menurutnya, pembangunan kini diarahkan secara lebih terintegrasi dan berkelanjutan sesuai arah kebijakan dalam RPJMD Surabaya 2025–2029.
“Dalam RPJMD Surabaya 2025–2029, sejumlah proyek strategis diprioritaskan mulai pembangunan Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB), Jalan Lingkar Luar Timur (JLLT), peningkatan drainase, hingga pengembangan transportasi perkotaan,” ujar pria yang akrab disapa Kaji Ipuk, Rabu (3/6/2026).
Ia menyebut, capaian pembangunan yang paling dirasakan masyarakat saat ini adalah penanganan banjir dan pembangunan infrastruktur lingkungan. Pemkot bersama DPRD terus mendorong normalisasi saluran, pembangunan box culvert, rumah pompa, hingga peningkatan drainase di berbagai wilayah.
Selain itu, perbaikan jalan lingkungan, penerangan jalan umum (PJU), dan penataan ruang publik dinilai memberikan dampak langsung terhadap mobilitas dan kenyamanan warga.
Kaji Ipuk menegaskan, DPRD memiliki peran penting untuk memastikan pembangunan tidak hanya berorientasi pada proyek-proyek besar, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
“DPRD menjalankan fungsi pengawasan, penganggaran, dan penyerapan aspirasi masyarakat melalui reses, musrenbang, hingga pembahasan APBD,” katanya.
Menurutnya, sinergi antara legislatif dan Pemerintah Kota Surabaya selama ini berjalan melalui proses perencanaan dan penganggaran bersama. Kesepakatan arah pembangunan dalam RPJMD menjadi bukti komitmen bersama untuk memperkuat infrastruktur dan pelayanan publik.
Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fathoni, menilai pembangunan infrastruktur strategis akan menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi Surabaya ke depan.
Menurut Fathoni, pembangunan JLLB, JLLT, maupun kawasan permukiman akan memperkuat konektivitas kota sekaligus memunculkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
“Jika infrastruktur sudah terhubung satu sama lain, maka akan memudahkan distribusi barang dan jasa, sekaligus menciptakan klaster pertumbuhan ekonomi baru yang menyerap lapangan pekerjaan,” ujarnya.
Tak hanya itu, Fathoni juga mendorong percepatan pembangunan rumah sakit di kawasan Surabaya Selatan dan Surabaya Utara melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). Menurutnya, pemerataan akses layanan kesehatan merupakan kebutuhan mendesak seiring pertumbuhan penduduk dan perkembangan wilayah.
“Surabaya pusat ada RS Soewandhie, timur ada RS EC, barat ada RS BDH. Maka masyarakat Surabaya selatan dan utara juga harus mendapatkan layanan kesehatan yang dekat dengan tempat tinggal mereka,” tegasnya.
Selain proyek strategis tersebut, Fathoni mengaku masih banyak menerima aspirasi warga terkait saluran air kampung yang belum terkoneksi secara merata. Karena itu, pembangunan saluran lingkungan dan paving kampung akan menjadi perhatian dalam penyusunan APBD 2027 dan 2028 sebagai bagian dari upaya pengendalian banjir.
Ia juga menyoroti perlunya peningkatan akses jalan menuju kawasan tambak di pesisir timur Surabaya. Menurutnya, kawasan tersebut memiliki potensi besar sebagai penopang ketahanan pangan daerah apabila didukung infrastruktur yang memadai.
“Saya berharap kawasan timur Surabaya bisa menjadi role model ketahanan pangan, dengan dukungan jalan yang layak dan pembangunan cold storage agar hasil tambak memiliki nilai tambah,” pungkasnya. (*)
Editor : Redaksi