SURABAYA, Bacasaja.id - Proses pemindahan aktivitas penjagalan ke RPH Tambak Osowilangun (TOW) sempat diwarnai kekhawatiran publik. Namun, lewat pendekatan persuasif, jajaran Direksi RPH (PERSERODA) Surabaya berhasil memboyong seluruh mitra jagal tanpa memicu gejolak sosial maupun kelangkaan komoditas.
"RPH dan mitra jagal adalah satu kesatuan. Tanpa mereka, kami tidak ada apa-apanya," ujar Direktur Utama RPH (PERSERODA) Surabaya, H. Fajar Arifianto Isnugroho.
Sikap terbuka ini membuat para jagal sukarela memajukan jam operasional demi menjamin Pasar Arimbi tetap mendapat pasokan subuh.
Saat ini, fluktuasi harga daging di pasar (naik sekitar Rp10.000 dari harga normal) dipastikan murni karena siklus pasca-Iduladha di tingkat peternak nasional. RPH Surabaya kini fokus memastikan fasilitas modern di TOW dapat terus mendukung higienitas daging yang dikonsumsi warga Kota Surabaya.
Meski operasional berjalan mulus, tantangan justru muncul dari bantuan fasilitas Pemkot Surabaya. Beberapa diantara jagal sempat sedikit mengeluh terkait armada truk gratis yang disiapkan pemerintah karena dinilai kaku secara birokrasi dan tidak sesuai dengan ritme distribusi pedagang yang dinamis.
Keberhasilan RPH Surabaya menjembatani tradisi kerja para mitra jagal dengan standar fasilitas modern di Tambak Osowilangun menjadi potret ideal kolaborasi yang humanis.
Kini, tantangan berikutnya adalah menyelaraskan ritme birokrasi pendukung agar seirama dengan denyut nadi pasar yang dinamis.
Pada akhirnya, komitmen bersama ini bukan sekadar tentang memindahkan tempat pemotongan hewan, melainkan tentang menjaga urat nadi pangan warga Surabaya tetap higienis, aman, dan berkelanjutan. (Wied)
Editor : Redaksi