Awas! Toxic Parenting Tidak Baik bagi Perkembangan Psikologis Anak, Cek di Sini Apakah Anda Termasuk?

author bacasaja.id

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Ilustrasi. (pexels)
Ilustrasi. (pexels)

i

BACASAJA.ID - Belakangan ini kita sering mendengar istilah tentang toxic parenting? Lalu apa arti toxic parenting? Kenapa membahayakan perkembangan psikologis anak? Ada baiknya orang tua dapat memahami tentang hal ini.

Anak merupakan suatu anugerah dan pelengkap dalam kehidupan berkeluarga, sehingga sangat pantas jika sebagai orang tua sangat menyayangi anak, memberikan pengasuhan yang tepat dan anak juga mendapatkan suatu perlakukan yang layak oleh orang tuanya.

Dari hal tersebut maka anak dapat bertumbuh dan berkembang sehat secara fisik dan mentalnya. Namun pada kenyataannya, ternyata masih sangat banyak anak yang tidak memperoleh “perlakukan layak” oleh orang tuanya sendiri, bukan hanya kekerasan fisik, namun mendapatkan tekanan secara psikis yang memberi dampak pada kesehatan mental anak tersebut.

Ironisnya, orang tua kebanyakan tidak menyadari akan hal ini. Orang tua pun masih tetap memberikan kebutuhan anak, mencintai anaknya dan menginginkan yang terbaik untuk anak.

Namun yang perlu di garis bawahi, yakni keinginan terbaik untuk anak ini adalah “keinginan versi orang tua”, yang memungkinkan memunculkan suatu pola asuh toxic pada anak.

Apa itu PARENTING?

Sebelum memahami arti toxic parenting, perlu dipahami sebelumnya arti kata parenting. Parenting adalah pola pengasuhan orang tua kepada anak.

Khol berpendapat, bahwa pola asuh adalah sikap orang tua dalam beraksi dengan anak-anaknya, yakni memberikan aturan, hadiah, hukuman atau cara orang tua dalam memberikan perhatian sekaligus fungsi otoritasnya (dalam Mualifah, 2009).

Gaya pola pengasuhan pada tiap keluarga bisa sangat bervariasi.

Menurut Hurlock (2001), ada 3 jenis gaya pola asuh:

1. POLA ASUH OTORITER. Dalam pola asuh ini orang tua cenderung menggunakan pendekatan yang bersifat diktator, menonjolkan wibawa, menghendaki ketaatan mutlak. Anak harus tunduk dan patuh terhadap kemauan orang tua.

2. POLA ASUH PERMISIF. Pola asuh ini memperlihatkan bahwa orang tua cenderung menghindari konflik dengan anak, tidak pernah ada aturan, sehingga orang tua banyak bersikap membiarkan apa saja yang dilakukan anak.

3. POLA ASUH DEMOKRATIS. Orang tua memberi kebebasan yang disertai bimbingan kepada anak. Orang tua banyak memberi masukan-masukan dan arahan terhadap apa yang dilakukan oleh anak .

Lalu seperti apa TOXIC PARENTING itu?

Toxic pada masa kini adalah sebutan bagi sesorang yang suka merugikan dan menyusahkan orang lain baik secara fisik dan psikis.

Arti toxic secara literally adalah racun. Oleh sebab itu, maka Toxic Parenting adalah salah satu jenis pola asuh yang “meracuni” anak, sehingga memberi pengaruh dengan tumbuh kembangnya dan berdampak negative pada kehidupan anak ke depannya.

Orang tua yang melakukan pola pengasuhan seperti hal tersebut disebut sebagai toxic parents.

Ciri-ciri toxic parents menurut Susan (2002):

1. Memperlakukan seperti anak bodoh, MEREMEHKAN anak

Dalam hal ini sikap orang tua adalah mengganggap anak “tidak mampu”, sehingga orang tidak mendengarkan suara anak, tidak mengganggap penting anak, dan meremehkan pendapat anak, misalnya mengambil keputusan tanpa berdiskusi dengan anak.

Contoh yang paling sering dijumpai adalah orang tua memaksa jurusan pendidikan anak, menentukan ektrakulikuler yang diikuti anak bahkan sampai mengatur cita-cita anak.

2. Selalu MENGKRITIK anak

Orang tua memang pada dasarnya ingin yang terbaik untuk anak, salah satunya adalah tentang prestasi anak atau tidak ingin anak membuat kesalahan.

Namun banyak dijumpai orang tua justru melakukan kritikan pada anak, misalnya saat anak tidak memperoleh suatu prestasi yang diharapkan oleh orang tua, atau saat prestasi anak mulai turun, dan atau saat anak melakukan kesalahan, maka hal yang dilakukan oleh orang tua tidaklah membimbing anak, namun justru mengkritik dan menyalahkan anak.

Dalam hal ini apapun usaha dan hasil yang diperoleh anak selalu dipandang kurang oleh orang tua, dan hampir tidak pernah memberikan apresiasi pada anak.

3. TERLALU MELINDUNGI anak (overprotective)

Contoh dari hal ini adalah sikap orang tua yang terlalu sangat melindungi anak, bahkan anak tidak memiliki ruang gerak serta kebebasan bertindak, termasuk mengontrol apapun yang dilakukan anak tanpa memandang hak anak.

Contoh dari ceri parenting jenis ini adalah membatasi secara berlebihan tentang bermain, mengatur siapa teman anak, baju anak yang dikenakan dan sebagainya.

4. Terlalu MEMBEBANI ANAK dengan rasa bersalah atau dengan kesalahan yang diperbuat (mengungkit kesalahan)

Contoh sikap dalam hal ini adalah orang tua yang selalu mengungkit tentang jerih payah atau tenang yang dikeluarkan orang tua untuk anak, termasuk mengungkit biaya pendidikan anak.

Misalnya orang tua berkata “mama sudah mengeluarkan banyak biaya buat sekolahmu, jadi kamu harus berprestasi dan nurut sama mama”.

5. Sering berkata KASAR dan membuat anak tidak percaya diri, merasa tidak dicintai

Orang tua yang Toxic akan tidak mau tahu tentang kesulitan anak, atau alasan anak membuat suatu kesalahan, sehingga respon yang muncul adalah kata-kata kasar.

6 Bersikap KASAR BAIK FISIK DAN VERBAL

Perilaku orang tua seperti menghukum anak secara kasar, misalnya mencubit, memukul, atau menyebut anak dengan kata yang tidak pantas, seperti “anak bodoh”, “anak nakal”, dan sebagainya.

Dapat disimpulkan bahwa toxic parenting adalah jenis pola pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua yang egois hanya memikirkan dirinya dan tidak memerhatikan perasaan anak serta hak anak.

Kondisi tersebut tentunya akan sangat memberi pengaruh dengan psikologis yang buruk pada anak. Apa saja dampaknya ?

DAMPAK toxic parenting bagi anak anak:

• Tidak percaya diri
• Mudah menyerah
• Gangguan kecemasan
• Insecure (tidak aman)
• Memiliki self esteem rendah, merasa tidak berharga
• Stress , karena anak merasa sering tertekan
• Depresi
• Muncul perilaku self harm, karena tidak memiliki kemampuan menyelesaikan masalah
• Bunuh diri
• Dan resiko kesehatan lainnya

Hal –hal diatas adalah beberapa dampak buruk akibat dari pola pengasuhan orang tua yang toxic. Oleh sebab itu, sebelum terlambat, kita sebagai orang tua perlu untuk melakukan refleksi kembali dan mengkroscek bagaimana perilaku kita terhadap buah hati tercinta.

Salah satu hal penting yang perlu diketahui orang tua adalah bahwa keluarga yakni orang tua adalah lingkungan hidup pertama bagi anak untuk tumbuh dan berkembang, dan keluarga sangat penting bagi pembentukan pribadi anak.

Jika orang tua merasa kesulitan dan memerlukan bantuan bagaimana cara mengasuh anak yang tepat, tidak ada salahnya untuk segera berkonsultasi pada professional.

BE GOOD PARENTS.

  • Sumber :
    Forward, Susan. 2002. Toxic Prents : Overcoming Their Hurtful Legacy and Reclaiming Your Life. New York Toronto London Sydney Auckland : Bantam Books.
  • Gunarsa, 1995. Psikologi Untuk Keluarga. Jakarta : BPK Gunung Mulia
  • Hurlock, E. (2001). Psikologi perkembangan. Edisi5. Jakarta: Erlangga
  • https://www.brainacademy.id/blog/kenali-toxic-parenting-dan-tanda-tanda-yang-membahayakan-anak
  • https://www.sehatq.com/artikel/inilah-ciri-ciri-toxic-parents-jangan-sampai-anda-melakukannya
  • https://media.neliti.com/media/publications/121261-ID-pola-asuh-orang-tua-dan-implikasinya-ter.pdf

oleh :
Elok Kartika Sari., M.Psi., Psikolog
Psikolog klinis RSUD Sidoarjo
Founder PG-TK Mutiara Cita Hati Sidoarjo

Berita Terbaru

Jemput Bola! Gerai Samsat Keliling Ditlantas Polda Sulbar Mudahkan Urusan Pajak Kendaraan Masyarakat

Jemput Bola! Gerai Samsat Keliling Ditlantas Polda Sulbar Mudahkan Urusan Pajak Kendaraan Masyarakat

Sabtu, 15 Agu 2026 14:30 WIB

Sabtu, 15 Agu 2026 14:30 WIB

Polda Sulbar - Memberikan kemudahan dan pelayanan prima bagi masyarakat menjadi prioritas utama Ditlantas Polda Sulawesi Barat.  Melalui inovasi layanan …

Sambut HUT RI ke-81, Personel Polda Sulbar Tetap Siaga Jaga Keamanan dan Pelayanan Masyarakat

Sambut HUT RI ke-81, Personel Polda Sulbar Tetap Siaga Jaga Keamanan dan Pelayanan Masyarakat

Sabtu, 15 Agu 2026 14:28 WIB

Sabtu, 15 Agu 2026 14:28 WIB

Mamuju — Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, semangat pengabdian personel Polda Sulawesi Barat tetap terjaga. Meski s…

Polres Mateng Bagikan Bendera Merah Putih, Kobarkan Semangat Nasionalisme Menjelang HUT RI ke-81

Polres Mateng Bagikan Bendera Merah Putih, Kobarkan Semangat Nasionalisme Menjelang HUT RI ke-81

Sabtu, 15 Agu 2026 14:26 WIB

Sabtu, 15 Agu 2026 14:26 WIB

Mamuju Tengah — Menyambut dan memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Polres Mamuju Tengah membagikan bendera Merah Putih kepada p…

Warga Banyuanyar Sampang Adu Cepat di Sungai, Lomba Dayung Berhadiah Rp10 Juta

Warga Banyuanyar Sampang Adu Cepat di Sungai, Lomba Dayung Berhadiah Rp10 Juta

Sabtu, 15 Agu 2026 14:18 WIB

Sabtu, 15 Agu 2026 14:18 WIB

SAMPANG - Warga Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Sampang, Kabupaten Sampang, bakal punya cara unik merayakan HUT ke-81 Republik Indonesia. Mereka akan adu cepat…

Commander Wish Kapolres Mamberamo Tengah: Hadir untuk Melayani, Bersama Menjaga Kedamaian

Commander Wish Kapolres Mamberamo Tengah: Hadir untuk Melayani, Bersama Menjaga Kedamaian

Sabtu, 15 Agu 2026 08:08 WIB

Sabtu, 15 Agu 2026 08:08 WIB

Kapolres Mamberamo Tengah, Kompol Sigit Susanto menekankan program unggulan Commander Wish "Honai Papeda" sebagai pedoman bagi seluruh personel.…

Pemkot dan DPRD Surabaya Siapkan Lebih dari Rp1 Triliun untuk Penanganan Genangan 2027

Pemkot dan DPRD Surabaya Siapkan Lebih dari Rp1 Triliun untuk Penanganan Genangan 2027

Sabtu, 15 Agu 2026 07:02 WIB

Sabtu, 15 Agu 2026 07:02 WIB

SURABAYA- Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bersama DPRD Kota Surabaya menyepakati Rancangan Kebijakan Umum APBD (KUA) serta Prioritas dan Plafon Anggaran…