BACASAJA.ID - Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, meminta pemerintah menunda rencana pembelajaran tatap muka (PTM) pada tahun ajaran baru, seiring dengan kenaikan kasus COVID-19.
“Saya sebagai Ketua DPD RI meminta kepada pemerintah, dalam hal ini Kemendikbudristek untuk menunda rencana sekolah tatap muka,” ujar LaNyalla dalam keterangan tertulisnya, Rabu (23/6/2013).
Baca juga: Inilah 6 Fakta KPK Geledah Rumah Anggota DPD RI La Nyalla di Surabaya
Senator asal Jawa Timur itu juga meminta pemerintah mempertimbangkan rencana sekolah tatap muka yang akan dilakukan secara terbatas dengan protokol kesehatan karena risiko terpaparnya anak dari COVID-19 masih sangat besar.
Apalagi, anak-anak masih sulit menerapkan protokol kesehatan seperti orang dewasa.
“Satgas COVID-19 menyatakan data per 10 Juni 2021, tren kasus pada anak cukup tinggi. Padahal kita tahu saat ini sebagian besar anak masih melakukan sekolah jarak jauh dari rumah tetapi ternyata kasus pada anak juga cukup tinggi,” tambah dia.
Baca juga: KPK Geledah Rumah Tokoh Pemuda Pancasila La Nyalla Mattalitti, Terkait Korupsi Dana Hibah Jatim
Berdasarkan data Satgas COVID-19 itu, terdapat 64.690 kasus positif pada anak dengan rentang usia 7-12 tahun. Sebanyak 60.642 sembuh, sementara ada 120 kasus kematian.
Kemudian pada anak usia 16-18 tahun yang positif COVID-19 sebanyak 58.858 sedangkan yang sembuh 55.159 dengan jumlah kematian 130. Lalu 46.706 kasus untuk usia 13-15 tahun dengan jumlah anak meninggal dunia 68 orang.
“Ini menunjukkan angka kasus COVID-19 untuk anak usia sekolah sangat tinggi. Untuk kategori SD dan SMA ini termasuk kelompok yang terpapar kasusnya tinggi dan harus jadi perhatian bersama. Dari data ini dapat disimpulkan peta risiko penularan COVID-19 di satuan pendidikan cukup besar,” kata LaNyalla.
Baca juga: Proyek Surabaya Waterfront Land Rp72 Triliun Diadukan ke Anggota DPD RI La Nyalla
Sebagai ganti penundaan sekolah tatap muka, LaNyalla meminta agar pemerintah memaksimalkan sistem pembelajaran jarak jauh. Meski kurang ideal, kondisi COVID-19 yang sudah mengkhawatirkan menjadikan sekolah jarak jauh sebagai solusi terbaik.
“Maksimalkan pembelajaran jarak jauh dengan melibatkan pihak-pihak yang memiliki korelasi dengan pendidikan dan anak, seperti NGO dan relawan-relawan pemerhati anak yang fokus terhadap kegiatan mengajar agar pembelajaran lebih intensif,” ucap LaNyalla. (rga)
Editor : Redaksi