SURABAYA – Kenyamanan transportasi publik di Kota Surabaya ternyata bukan hanya soal ketersediaan armada. Kondisi halte yang masih minim fasilitas juga menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Wakil Ketua DPRD Surabaya, Laila Mufidah, menyoroti masih banyaknya titik pemberhentian angkutan umum yang belum memenuhi standar kelayakan. Bahkan, sejumlah lokasi hanya dilengkapi bus stop sederhana tanpa fasilitas memadai untuk melindungi penumpang.
Menurut Laila, kondisi tersebut perlu segera mendapat perhatian. Sebab, halte menjadi tempat pertama yang bersentuhan langsung dengan masyarakat sebelum menggunakan transportasi umum.
Ia menyebut, beberapa halte yang sudah cukup representatif di antaranya berada di kawasan Jalan Basuki Rahmat, Jalan Darmo, dan Kaliasin. Namun, masih banyak titik lainnya yang membutuhkan pembenahan.
"Hanya beberapa halte yang dinilai sudah cukup representatif. Sementara itu, masih banyak titik pemberhentian angkutan umum yang kondisinya sekadar berupa bus stop tanpa dilengkapi fasilitas memadai," katanya di Surabaya, Selasa (3/11/2026).
Laila menegaskan, halte seharusnya tidak sekadar menjadi tempat naik dan turun penumpang. Fasilitas tersebut harus mampu memberikan perlindungan dari panas matahari maupun hujan, sekaligus menyediakan tempat duduk agar masyarakat nyaman saat menunggu bus.
Selain fasilitas fisik, ia juga meminta setiap halte dilengkapi papan informasi yang memuat jadwal kedatangan bus, rute perjalanan, hingga informasi armada yang beroperasi.
Menurutnya, keberadaan aplikasi Gobis memang membantu masyarakat mengakses informasi transportasi publik. Namun, informasi secara langsung di halte tetap diperlukan agar pengguna angkutan umum tidak bergantung sepenuhnya pada aplikasi.
"Meski sudah ada aplikasi untuk angkutan publik di Surabaya (Gobis), informasi seputar jadwal kedatangan bus dan jalur harus ditampilkan di setiap halte," tegasnya.
Laila menilai, pembenahan fasilitas halte semakin mendesak seiring berkembangnya layanan transportasi publik di Surabaya, mulai dari Suroboyo Bus hingga angkutan pengumpan Wira Wiri.
Ia mengingatkan, peningkatan jumlah armada tidak akan memberikan hasil maksimal apabila tidak diikuti kesiapan infrastruktur pendukung. Penambahan bus, minibus, maupun Hiace harus berjalan seiring dengan penyediaan halte yang layak dan kondisi jalan yang memadai.
"Kualitas layanan transportasi publik tidak hanya ditentukan oleh jumlah kendaraan, tetapi juga kenyamanan penumpang sejak berangkat, saat menunggu, hingga mencapai tujuan," ujarnya.
Karena itu, Laila berharap Pemkot Surabaya tidak hanya berorientasi pada pengembangan armada, tetapi juga serius membenahi fasilitas yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan penumpang.
Menurutnya, ajakan kepada masyarakat untuk meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih menggunakan transportasi publik harus dibarengi pelayanan yang nyaman dan layak.
Jangan sampai masyarakat didorong menggunakan angkutan umum, tetapi fasilitas dasar seperti halte untuk menunggu bus justru belum mendapatkan perhatian maksimal. (Dim)
Editor : Redaksi