OPINI: Krisis Mental Mereduksi Ekonomi

Redaksi


OPINI: Krisis Mental Mereduksi Ekonomi

Hendro Puspito, SE, M.PSDM, pengusaha/mahasiswa Program Doktor Pengembangan Sumber Daya Manusia Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga.

Krisis Mental Mereduksi  Ekonomi

Oleh: Hendro Puspito, SE, M.PSDM.

UPAYA preventif dalam mempercepat penanganan covid-19 terus digencarkan oleh pemerintah terutama vaksinasi nasional.

Dampak kesehatan fisik akan menjadi lebih baik dengan program vaksin akan tetapi kesehatan mental sulit diatasi akibat pandemi yang tidak tahu kapan berakhir.

Vaksin untuk virus sudah ada, akan tetapi vaksin untuk kesehatan mental belum pernah ditemukan. Merujuk dari Survey Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan bahwa 27,3 juta orang Indonesia mengalami masalah kejiwaan.

Indonesia jadi negara dengan jumlah pengidap gangguan jiwa tertinggi di Asia Tenggara. Gangguan jiwa yang paling tinggi adalah kecemasan (anxiety disorder) dengan jumlah pengidap lebih dari 8,4 juta jiwa. Selain itu ada sekitar 6,6 juta orang mengalami depresi serta 2,1 juta mengalami gangguan perilaku.

Dampak pandemi berkepanjangan menguras tenaga dan pikiran baik pemerintah maupun masyarakat. Himbauan pemerintah untuk social distancing bertujuan untuk memutus rantai penularan covid-19, akan tetapi hal ini dapat menimbulkan krisis indentitas yang dapat mempengaruhi kesehatan mental.

Dengan menghindari kerumuman, belajar secara daring, ibadah dan bekerja semua dilakukan dari rumah dapat membatasi aktualisasi diri dan berpotensi memicu depresi berkelanjutan.

Sisi lain dari penderita yang dinyatakan positif covid-19 dengan bayangan yang takut meninggal, jika isolasi ataupun di rawat di RS tidak ada yang menjenguk, sulitnya mencari obat ataupun oksigen, dapat memicu gangguan kesehatan mental.

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang terus berlanjut seiring Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) baik mikro ataupun darurat menambah jumlah pengangguran.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 8,75 juta orang pada februari 2021. Jumlah tersebut meningkat 26,6% dibandingkan periode yag sama tahun lalu sebesar 6,93 juta orang.

Kondisi seperti ini sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental yang berdampak pada penurunan daya tahan tubuh (imun) sehingga mudah terpapar virus covid-19 yang dapat memperbanyak kematian.

Situasi pandemi seperti ini yang memaksa kita harus di rumah, ada beberapa kegiatan yang dapat meningkatkan hormon bahagia untuk merangsang mood menjadi lebih baik.

Hormon bahagia adalah senyawa kimia yang membuat seseorang merasa senang sehingga dapat meningkatkan kekebalan tubuh.

Beberapa hormon bahagia yang dapat meningkatkan mood adalah dopamine (mengkonsumsi makanan enak dan tidur cukup), oksitosin (berkomunikasi dengan orang yang di sayangi dan melakukan kebaikan), endorphin (mendengarkan musik, menonton film, dan berolahraga) dan serotonin (berjemur dan berdoa).

Pemerintah perlu memberikan pendampingan dari psikiater, ahli psikologi ataupun tokoh agama yang bisa dilakukan secara daring untuk perawatan holistik. Hal ini akan menambah rasa percaya diri bagi penderita dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh untuk mempercepat penyembuhan.

Gangguan kesehatan mental berdampak terhadap kerugian ekonomi. Ada biaya langsung yang harus dikeluarkan untuk terapi dan itu tidak murah. Sedangkan kerugian ekonomi tidak langsung adalah menurunnya tingkat pendidikan, kesejahteraan sosial dan hilangnya produktivitas.

Sementara itu, produktivitas merupakan syarat utama bagi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Pertumbuhan ekonomi nasional akan berkelanjutan seiring dengan meningkatnya produktivitas nasional.

Jika produktivitas menurun bahkan hilang, maka perlu langkah konkret dari pemerintah untuk mengatasinya. Oleh karena itu pemerintah melalui kementerian keuangan harus mengeluarkan tambahan anggaran melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tahun 2021 senilai Rp 225,4 triliun.

PEN dialokasikan untuk kesehatan sebesar Rp 120,72 triliun, perlindungan sosial Rp 28,7 triliun, dukungan UMKM Rp 50,04 triliun, serta insentif usaha Rp 15,1 triliun.

Tantangan ke depan adalah bagaimana mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang lebih produktif, inovatif, kreatif dan berdaya saing.

Salah satu cara bisa dilakukan ketika dirumah dengan membuat energi tersalurkan secara efektif untuk meningkatkan produktivitas. Kemajuan teknologi dengan didukung infrastruktur dan kemudahan regulasi, telah mendorong pertumbuhan usaha secara digital.

Merubah kebiasaan menggunakan internet tak hanya sekedar mencari informasi dan komunikasi, melainkan dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi.

Transaksi jual beli mudah dilakukan dengan berbasis digital melalui metode E-commerce. Pemerintah pun memberikan akses dan pengamanan dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 80 tahun 2019 tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) yang mengatur tentang pihak-pihak yang melakukan, persyaratan, penyelenggaraan, kewajiban pelaku usaha, iklim, penawaran, penerimaan, konfirmasi, kontrak, pembayaran, pengiriman barang, penukaran barang dalam perdagangan dengan system elektronik, perlindungan data pribadi, penyelesaian sengketa PMSE hingga pengawasan dan pembinaan PMSE.

Penjualan online mudah dilakukan tanpa memiliki toko, modal kecil dan cakupan penjualan seluas- luasnya. Penjualan makan dan minum dan barang retail lainnya mudah dilakukan secara online, bahkan penjual bunga pun meraup keuntungan besar di saat pandemi.

Di saat kondisi yang kurang baik, selalu ada solusi untuk kreatif agar produktif. Merubah krisis mental dan menjadikannya energi positif bagi kemajuan bangsa.

Dengan menciptakan regulasi-regulasi lokal, sebuah masyarakat mampu menyebarkan energi positif baik untuk individu didalam lingkungan, sehingga tidak mudah terpengaruh dengan informasi yang negatif atau berita hoaks.

Tanpa perilaku positif, negara tidak akan maju jika terus menebarkan energi kebencian.Berbagai kebijakan dari pemerintah bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat, mengurangi laju penyebaran covid-19 dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Penulis adalah pengusaha dan mahasiswa program doktor Pengembangan Sumber Daya Manusia Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga. (*)