TULUNGAGUNG - Produksi susu di Tulungagung mulai menurun, imbas semakin meluasnya PMK (Penyakit mulut dan kuku).
Sebab, penyakit yang menyerang sapi ini sebabkan ternak enggan makan dan menurunkan produksi susu.
Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo jelaskan penurunan produksi susu terjadi di 2 Kecamatan sentra susu, yaitu Kecamatan Pagerwojo dan Kecamatan Sendang.
“Kecamatan Pagerwojo tiap hari itu 60 ribu liter, karena PMK turun jadi 40 ribu liter, termasuk Kecamatan Sendang,” Jelasnya, Selasa (5/7/22).
Dari data harian PMK Pemkab Tulungagung pernah tanggal 4/7/22 tercatat sudah ada 1.614 kasus PMK. Dari jumlah itu 701 sembuh, 878 masih diobati, potong paksa 17 ekor dan mati 18 ekor.
Padahal Pemkab Tulungagung sudah melakukan berbagai upaya untuk mencegah meluasnya PMK.
Salah satunya dengan melakukan vaksinasi terhadap sapi sehat.
Akhir bulan laluTulungagung mendapat 40 ribu dosis vaksin PMK. Lalu bulan ini mendapat tambahan 82 ribu dosis vaksin PMK.
“Sudah kita distribusikan,” jelas Bupati.
Sayangnya upaya itu tak mampu mencegah PMK menyerang ternak warga.
Seperti diungkapkan oleh salah satu warga Desa Penjor Kecamatan Pagerwojo, Oni mempunyai 15 sapi dan 13 diantaranya alami gejala PMK.
Dirinya bingung, sebab obat untuk PMK saat ini langka.
“Saat PMK ini justru obat langka,” kata Oni.
Oni juga mengkritisi harga obat yang melambung tinggi saat PMK.
“Obat penurun panas yang biasanya 75 ribu menjadi 200 ribu lebih,” katanya. (JP/t.ag)
Editor : Redaksi