SURABAYA - Direktur Utama Perumda Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya, Fajar Arifianto Isnugroho, merespons penolakan sejumlah mitra jagal Pegirian terkait rencana pemindahan aktivitas pemotongan ke RPH Tambak Oso Wilangon (TOW). Ia menegaskan komitmen bahwa setiap keputusan akan mengedepankan kepentingan para mitra dan diambil tanpa merugikan pihak mana pun.
“Prinsipnya, RPH berupaya semaksimal mungkin mengakomodasi kepentingan para mitra jagal Pegirian,” ujar Fajar, Jumat (21/11/2025).
Baca juga: Dugaan TPPO di Surabaya, Gion Spa Masih Bungkam, Wartawan Hanya Ditemui Satpam
Fajar menjelaskan bahwa proses komunikasi lintas sektor telah dilakukan bersama Komisi B DPRD Surabaya, Bagian Perekonomian dan Sumber Daya, DKPP, serta perwakilan mitra jagal. Pertemuan tersebut membahas proyeksi pemanfaatan jangka panjang RPH TOW, termasuk kebutuhan sarana, kesiapan fasilitas, dan alur operasional yang memungkinkan.
“Pemkot Surabaya bersama RPH, Komisi B, dan perwakilan mitra sedang menyusun skema pemanfaatan TOW dengan merinci apa saja kebutuhannya,” ujarnya.
Baca juga: DJ Panti Pijat GION SPA Surabaya Terseret Kasus TPPO Anak di Bawah Umur
Ia menambahkan, pembahasan masih berlangsung dan akan dilanjutkan dengan peninjauan lapangan untuk memastikan kondisi terkini RPH TOW. Pihaknya diminta menjelaskan terkait kelengkapan alat, kesiapan sarana prasarana pemotongan, serta hambatan-hambatan yang masih perlu diselesaikan.
Salah satu persoalan yang disorot adalah jarak tempuh dari RPH TOW menuju titik distribusi di Jalan Arimbi yang selama ini menjadi pusat pergerakan daging ke berbagai pasar. “Masalah jarak ini sedang dipecahkan. Bagaimana hasil pemotongan dari TOW bisa terdistribusi ke pasar Arimbi secara efektif?” terang Fajar.
Ia memastikan RPH fokus menyiapkan skema distribusi yang efisien dan tidak menambah beban bagi mitra jagal. Seluruh keberatan dan kekhawatiran mitra, kata Fajar, akan ditampung dan dicarikan solusi bersama apabila pemindahan operasional nantinya diberlakukan. (dims)
Editor : Redaksi