BACASAJA.ID - Alunan gamelan terus mengiringi pembacaan kitab suci Al-Qur’an. Asap kemenyan pun tak putus mengebul, menguap memenuhi udara, iringi prosesi jamasan tombak Kyai Upas.
Rangkaian janur dan sesajen tertata rapi disebuah panggung berukuran sekitar 3 x 4 meter.
4 tandan pisang raja bergantung di 4 pojok panggung, beserta kelapa dan Cok bakal (sesajen).
Baca juga: Heru Tjahjono: Program Makan Bergizi Gratis Jadi Fondasi Generasi Sehat Menuju Indonesia Emas 2045
Di ujung timur panggung terdapat meja yang diatasnya terdapat tempayan berisi air, serutan kayu Cendana, jeruk nipis dan minyak wangi untuk mencuci tombak Kyai Upas.
Jamasan ini rutin digelar setahun sekali pada Bulan Suro penanggalan Jawa. Biasanya dilakukan pada hari Jum’at.
Tombak Kyai Upas disimpan di ruangan yang berada di kompleks perkantoran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Tulungagung, di Jalan Jalan Oerip Soemoharjo nomor 4.
Sebelum dijamas, tombak akan dikeluarkan terlebih dahulu dari tempatnya. Tombak bergagang kayu sepanjang hampir 5 meter itu diangkat oleh pejabat Bupati Tulungagung dan Forkopimda Kabupaten Tulungagung.
Lalu, tombak diletakan diatas tatakan, dan secara perlahan kain pembungkus berlapis 2 itu dilepas. Perlahan, penjamas mencuci tombak dengan bahan yang sudah disiapkan.
Air untuk mencuci berasal dari 9 mata air berbeda. Setelah dicuci, tombak kembali dibawa ke tempat penyimpanannya.
Baca juga: Siswi SMA di Tulungagung Melahirkan di Kamar Mandi, Bayinya Bernasib Tragis
Bupati Tulungagung, Maryoto Birowo selepas acara jamasan mengatakan jamasan ini dilakukan rutin tiap tahun di bulan suro.
“Sejak dulu ketika Bupati Tulungagung awal, Raden Mas Pringgokusumo membawa pusaka Kanjeng Kyai Upas,” ujar Maryoto.
Maryoto melanjutkan, keberadaan pusaka ini memperkuat spirit dan mental masyarakat Tulungagung pada masa itu.
Pelaksanaan jamasan biasanya menjadi daya tarik bagi masyarakat yang penasaran, sehingga menimbulkan kerumunan.
Baca juga: Ratusan Milenial dan Tim Pemenangan Muda Tulungagung Siap Menangkan Ganjar-Mahfud
Saat pandemi ini, pelaksanaan jamasan dibatasi untuk Wadya Wimbasara (penjaga Kyai Upas), penjamas dan tamu undangan. Masyarakat umum tak diperbolehkan mendekat.
“Kalau dulu diarak dari luar dengan pasukan sak bregodo (satu kompi), karena pandemi hanya 5 meter saja diaraknya,” jelasnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tulungagung, Bambang Ermawan jelaskan acara jamasan merupakan bentuk pelestarian budaya.
“Seperti hari ini merupakan budaya pelestarian budaya adiluhung di Tulungagung,” katanya. (t.ag/JP/rg4).
Editor : Redaksi