SURABAYA — Dalam pantauan langsung di kawasan Kota Surabaya hari ini, Anggota Komisi C DPRD Surabaya, Achmad Nurdjayanto, menegaskan bahwa persoalan banjir di Kota Pahlawan sebenarnya sudah tertangani hingga 80 persen. Namun, lemahnya perawatan saluran dinilai menjadi penyebab munculnya kembali genangan di titik-titik tertentu.
Ditemui usai melakukan pengecekan kondisi drainase di salah satu ruas jalan, Achmad menyampaikan bahwa pembangunan jaringan drainase yang dilakukan Pemkot Surabaya selama ini telah memberikan hasil signifikan.
“Banjir di Surabaya itu sebenarnya sudah selesai sekitar 80 persen. Ini sudah cukup untuk mengatasi banjir kalau Pemkot mengoptimalkan perawatannya,” ujarnya saat diwawancarai di lapangan.
Politisi Partai Golkar itu menjelaskan bahwa persoalan banjir beberapa tahun lalu disebabkan oleh saluran air yang tidak saling terhubung. Namun kini, sekitar 80 persen jaringan drainase sudah terkoneksi berkat pembangunan bertahap yang dilakukan Pemkot.
“Dulu masalahnya saluran tidak tersambung. Sekarang sudah 80 persen terhubung dan ini capaian besar,” tegasnya.
Meski begitu, Achmad menyoroti kondisi sejumlah titik yang kembali terjadi pengendapan. Menurutnya, usia teknis drainase hanya dua hingga tiga tahun, sehingga tanpa perawatan rutin, genangan akan kembali muncul.
“Setelah melewati masa itu, beberapa lokasi mulai muncul banjir lagi. Artinya perawatan ini harus intens,” jelasnya.
Sebagai Wakil Ketua DPD Partai Golkar Kota Surabaya, Achmad menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan pemeliharaan agar hasil pembangunan tidak terbuang sia-sia.
“Jangan sampai pekerjaan yang sudah dilakukan dengan biaya besar harus diulang hanya karena perawatan tidak maksimal,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa optimalisasi perawatan akan sulit berjalan tanpa dukungan anggaran memadai. Karena itu, ia mendorong agar Pemkot Surabaya mengalokasikan anggaran khusus pada APBD 2026.
“Kami berharap tahun 2026 Pemkot menyediakan anggaran yang cukup untuk optimalisasi perawatan,” tutupnya. (dims)
Editor : Redaksi