BACASAJA.ID - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau agar masyarakat mewaspadai dampak anomali cuaca maupun La Nina yang diperkirakan terjadi hingga akhir tahun.
Saat ini beberapa wilayah di Jatim sudah memasuki musim hujan, namun sebagian besar masih berada di masa peralihan atau pancaroba hingga November mendatang.
"Memang perlu diwaspadai beberapa daerah yang rawan bencana, seperti banjir dan tanah longsor itu merupakan wilayah wilayah yang perlu menjadi konsep utama bagi masyarakat untuk berhati-hati," kata Koordinator Bidang Observasi Stasiun Meteorologi Klas I Juanda, Rendy Irawadi dikutip dari laman Kominfo Jatim, Selasa (26/10/2021).
Dikatakannya, wilayah-wilayah yang perlu diwaspadai dengan curah hujan tinggi dan berpotensi rawan banjir yaitu:
1. Kediri,
2. Blitar dan
3. Tulungagung
Kemudian untuk yang lain biasanya ketika musim hujan disertai dengan peningkatan kecepatan angin yang cukup tinggi tiba-tiba, juga perlu di waspadai potensi angin puting beliung yang meningkat. Selain itu juga hujan es di beberapa wilayah akan terjadi, terutama ketika terjadi kilat antara awan yang terbentuk akan cukup tinggi dan rendah.
Untuk wilayah daerah rawan longsor terutama di sepanjang dataran tinggi juga perlu diwaspadai, terutama untuk saat ini beberapa wilayah sudah tidak terjadi hujan cukup lama sehingga kondisi tanahnya bila terkena hujan dengan intensitas cukup tinggi akan terpuruk rapuh dan mudah terjadi longsor.
Lebih lanjut dikatakannya, ketika terjadi la Nina atau El nino itu berarti ada anomali atau ada perubahan dari sirkulasi normal yang seharusnya, ada hambatan atau ada keterlambatan pergerakan, pergeseran dari suhu muka laut menyebabkan terjadi perubahan kondisi cuaca yang berada di wilayah tersebut.
Jadi anomali cuaca itu terjadi disebabkan oleh beberapa faktor, ada la Nina, El Nino, selain itu merupakan anomali-anomali cuaca yang ada di wilayah Indonesia dan dunia pada umumnya.
Menurutnya, penyebab La Nina itu sebenarnya adanya peningkatan suhu udara di wilayah samudra Pasifik, yang seharusnya ketika musim penghujan, kondisi suhu panas atau suhu muka laut yang cukup tinggi, sudah mulai bergeser ke wilayah Afrika, tetapi karena adanya tekanan suhu dingin dari wilayah Afrika menuju wilayah samudra Pasifik Timur dari Indonesia, menyebabkan akumulasi suhu tinggi atau yang hangat terkonsentrasi di wilayah Indonesia.
"Kondisi tersebut mengakibatkan pertumbuhan atau potensi untuk pertumbuhan awan awan hujan lebih tinggi daripada kondisi normal, sehingga curah hujan yang terjadi ataupun potensi kondisi cuaca ekstrem semakin meningkatkan," katanya.
Ketua Peminatan Data Analistik Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Dr Ira Puspitasari ST MT Ph D mengatakan, wilayah Indonesia yang rawan terhadap bencana karena lokasi geografis di daerah ring of fire, juga karena adanya anomali cuaca yang diperparah dengan adanya kerusakan lingkungan.
Dikatakannya, masyarakat perlu menguasai tentang manajemen bencana terutama pada saat bencana, salah satu hal sederhana yang bisa dilakukan adalah perajin memantau informasi cuaca ataupun potensi terjadinya bencana di daerah kota atau kabupaten tempat tinggal.
"Kita lihat dari website atau media sosial seperti BMKG, kemudian kita juga bisa melakukan persiapan seperti menyiapkan makanan yang diperlukan pada saat terjadi bencana, kita bisa segera menggunakannya dan kita juga harus tahu bagaimana rute evakuasi jika terjadi," kata Dr Ira.
"Kemudian juga kedaruratan ketika terjadi bencana, dan apa yang harus dilakukan pasca bencana. Hal-hal semacam itu perlu disadari untuk meningkatkan kapasitas kita semuanya pada saat terjadi bencana, dan harapannya bisa meminimalisir resiko baik risiko kerugian material maupun dari sisi korban yang sakit," tambahnya. (*/RG4)
Editor : Redaksi