BACASAJA.ID - Untuk mengungkap penyebab kematian Jeminten (48) warga Dusun Boro Desa Tuliskriyo Kecamatan Sanankulon, Satreskrim Polres Tulungagung melakukan otopsi pada jasadnya.
Hasilnya, dugaan penyebab kematian Jeminten ada 2. Selain luka sayatan sepanjang 20 cm pada perut, terdapat penyebab lainya.
Kasat Reskrim Polres Tulungagung, AKP Agung Kurnia Putra menjelaskan proses otopsi berjalan selama sekitar 2 jam.
Otopsi dilakukan oleh Dokter Forensik RS Bhayangkara Kediri, dr. Tutik Purwanti di RSUD dr. Iskak Tulungagung.
“Mulai pukul 09.00 – 11.00 WIB,” jelas Agung, Selasa (5/4/22).
Dari otopsi itu didapati luka sepanjang 20 cm yang diduga sebagai salah satu penyebab kematiannya.
Penyebab lainya adalah korban meninggal akibat tenggelam.
“Ada indikasi korban masih hidup saat dibuang ke Sungai Brantas,” terangnya.
Dugaan ini muncul lantaran dari hasil otopsi ditemukan air di saluran pernafasannya.
Juga ditemukan luka bekas jeratan pada kedua tangan korban. Sebab saat ditemukan, tangan Jeminten dalam kondisi terikat tali plastik.
Tali plastik ini diduga sebagai pemberat mayat agar tetap tenggelam. Pada tubuh Jeminten ditemukan beberapa lebam.
“Lebam ini diduga akibat benturan batu saat korban tenggelam,” jelasnya.
Dengan hasil itu, kuat dugaan sebelum meninggal korban sempat alami kekerasan.
Petugas juga mengambil sampel cairan irigasi kemaluan korban.
Sampel ini untuk mengetahui apakah korban juga mengalami kekerasan seksual.
Polisi juga memeriksa beberapa saksi, termasuk suami korban yang sudah pisah ranjang sejak 3 tahun lalu.
Rumah korban pun tak luput diperiksa. Hasilnya sepeda motor Honda Beat milik korban serta HP korban tidak ditemukan.
“Kami menemukan dompet korban di belakang rumah, uangnya sudah enggak ada,” jelas Kasat.
Rumah korban hanya berjarak sekitar 20 meter dari Sungai Brantas, dan merupakan rumah terakhir menuju Sungai Brantas.
Pihaknya terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab kematian korban.
Sementara itu keponakan korban, Rinda Hernanda (26) menceritakan korban selama ini hidup sendiri.
Korban sudah menikah 3 kali dan semuanya tidak dikaruniai anak.
Sehari-hari korban bekerja di sebuah warung makan di Blitar.
“Kerjanya di warung makan, tapi sejak Rabu (30/3/22) sudah tidak bekerja,” jelasnya.
Hubungan korban dengan keluarga lainya tidak ada masalah. Korban terakhir berkomunikasi dengan keluarga lainya pada Jum’at (1/4/22) malam.
“Esoknya sudah tidak bisa dihubungi lagi,” jelasnya.
Meski begitu keluarga tidak menaruh curiga, lantaran berpikir korban sedang sibuk bekerja.
Keluarga baru sadar setelah ada tetangga korban yang mengatakan sudah 2 hari tak melihat korban.
“Lalu pada Minggu (3/4/22) keluarga mengunggah di media sosial terkait hilangnya korban,” katanya.
Keluarga juga melakukan laporan ke Polsek Sanankulon sekitar pukul 13.00.
Sorenya keluarga mendapat kabar penemuan mayat yang ciri-cirinya mirip dengan korban.
“Setelah dilihat keluarga, ternyata benar itu adalah Jeminten,” jelasnya.
Keluarga mengenali korban dari rambut korban, serta ciri fisik lainya.
Sebelumnya, warga digemparkan dengan penemuan mayat wanita tanpa identitas di Sungai Brantas pada Minggu (3/4/22) sore di Desa Kates Kecamatan Rejotangan.
Saat ditemukan, mayat hampir telanjang, dengan memakai celana dalam dan bra, serta kaos warna hitam yang tersingkap.
Kedua tangan korban terikat, diduga untuk pemberat, agar mayat korban tidak mengapung.
Pada perut korban terdapat luka sayatan sepanjang 25 cm. Identitas korban terungkap setelah petugas melakukan identifikasi.
Korban diketahui bernama Jeminten warga Dusun Boro Desa Tuliskriyo Kecamatan Sanankulon Kabupaten Blitar (JP/t.ag/RG4)
Editor : Redaksi