Mengapa Sriwijaya Air SJ-182 Jatuh? Begini Analisis Pakar Penerbangan

bacasaja.id
Tubin pesawat Sriwijaya Air yang ditemukan di laut Kepulauan Seribu

BACASAJA.ID - Tim Basarnas dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), hari ini (11/1/2021), akan melakukan pencarian black box pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang jatuh di Kepulauan Seribu. Namun di tenga upaya itu, publik pun mempertanyakan apa penyebab pesawat Boing 737-500 itu hilang kontak dan jatuh. Apa karena faktor cuaca, human error atau karena hal teknis seperti pemeliharaan mesin pesawat?

Mengutip dari BBC News, pengamat penerbangan, Gerry Soejatman, mengatakan ada tiga faktor penyebab sebuah pesawat mengalami kecelakaan fatal yakni performa kru, cuaca, dan teknis.

Baca juga: Operasi SAR Sriwijaya Air SJ-182 Resmi Dihentikan

Dalam kasus jatuhnya Sriwijaya Air Boeing 737-500 dengan nomor penerbangan SJ182 di Perairan Kepulauan Seribu, ia berkata ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Sehingga publik sebaiknya menunggu hasil penyelidikan dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Kendati demikian, ia berharap KNKT ikut menelisik persoalan pemeliharaan pesawat yang membelit Sriwijaya Air. Pasalnya maskapai tersebut disebut memiliki utang hingga Rp800 miliar kepada Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia.

GMF merupakan perusahaan penyedia layanan perawatan pesawat yang merupakan anak usaha Garuda Indonesia. Karena sudah tak dilayani GMF, armada milik Sriwijaya dirawat oleh para teknisi sendiri dengan ketersediaan suku cadang mesin yang terbatas. Akibat keterbatasan itu, kondisi perusahaan berada di level Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA) 4A.

"Jadi ini sudah jadi pertanyaan, apakah mereka cukup dana untuk melakukan maintenance? Apakah maintenance sejak lepas dari kerja sama itu masih oke atau tidak. Itu yang nanti akan dilihat oleh KNKT," ujar Gerry Soejatman.

"Sebab ini sudah pasti sudah jadi salah satu concern dari kejadian ini," sambung Gerry. Sepanjang pengamatannya, selama pandemi pesawat milik Sriwijaya Air yang terparkir "tidak sedikit, tapi tidak mayoritas".

Pesawat SJ182 pun, katanya, sudah mulai terbang lagi pada Oktober 2019 sejak terakhir kali mengangkasa pada Maret tahun lalu.

SISTEM KENDALI

Pakar penerbangan lainnya, Alvin Lie menyatakan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 hanya membutuhkan waktu sekitar 20 detik terhempas dari ketinggian 10.000 kaki sampai ke permukaan laut.

Dari grafik dan data penerbangan, kata Alvin, pesawat sempat mengalami kehilangan ketinggian secara drastis pada posisi 10.000 kaki di atas permukaan laut. Pesawat terakhir terlihat di ketinggian 250 kaki.

"Kecepatan vertikalnya itu mendekati 30.000 kaki per menit. Jadi kalau pada ketinggian 10.000 kaki, terhempas ke permukaan (laut) itu hanya butuh 1/3 menit atau 20 detik," kata Alvin kepada CNNIndonesia TV.

Alvin menduga Sriwijaya SJ 182 kehilangan sistem kendali sebagaimana dialami oleh Air Asia QZ 8501 pada 2014. Menurutnya, dalam kasus tersebut, elevator mengalami masalah yang membuat pesawat menghujam ke bawah. Alvin menjelaskan salah satu fungsi sistem kendali yang berupa sayap horizontal pada bagian belakang pesawat adalah mengontrol derajat kemiringan naik turunnya badan pesawat.

Baca juga: Sriwijaya Air Serahkan Total Santunan Rp1,5 Miliar di Hadapan Presiden

"Bisa juga pesawat ini belum stabil kemudian mengalami high speed stall," ujarnya.

Stall merupakan kondisi di mana pesawat kehilangan daya angkat. Kondisi ini bisa terjadi ketika pesawat melaju dengan bagian hidung miring ke atas lebih dari 15 derajat.

Kehilangan daya angkat ini bisa terjadi pada pesawat dengan laju kecepatan tinggi (high speed) dan kecepatan rendah (low speed).

BLACK BOX

Juru bicara Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Indriantono, mengatakan pihaknya sedang mengumpulkan informasi mengenai pemeliharaan pesawat SJ182 untuk dicocokkan dengan Flight Data Recorder (FDR) dan Voice Data Recorder (VDR).

Untuk itu, KNKT akan memeriksa sejumlah pihak dalam waktu dekat mulai dari teknisi hingga pilot yang sebelumnya menerbangkan pesawat SJ182.

Baca juga: Lima Jenazah Kembali Dikenali, Total 29 Korban Teridentifikasi

Sementara itu, Basarnas akan mulai fokus mencari black box Sriwijaya Air SJ 182 pada hari ini. KNKT juga telah menurunkan alat pinger finder dan sudah ada di KM Rigel dan segera akan dilaksanakan pencarian oleh para penyelam dengan menggunakan portable pinger finder.

Kotak hitam atau black box akan menjadi salah satu kunci untuk mengungkap penyebab jatuhnya pesawat. Black box berisi data-data penting mengenai penerbangan.

Black box merupakan dua kotak (box) yang menjadi bagian tak terpisahkan dari pesawat terbang. Dua kotak itu masing-masing Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR).

Kedua boks itu menyimpan informasi penerbangan dan membantu dalam rekonstruksi berbagai peristiwa yang terjadi di pesawat termasuk kecelakaan pesawat terbang.

Black box menjadi salah satu kunci untuk mengungkap penyebab jatuhnya pesawat karena CVR merekam transmisi radio dan suara lain di kokpit, misalnya percakapan pilot.

Sementara FDR saat bekerja mencatat lebih dari 80 jenis informasi seperti ketinggian, kecepatan udara, arah penerbangan, percepatan vertikal, pitch, roll, status autopilot dan lain-lain. (nt)

Editor : Redaksi

Hukum
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru