SURABAYA, Bacasaja.id – Program “Dandan Omah” yang dijalankan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kembali menjadi perhatian DPRD. Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya, Eri Irawan, menegaskan komitmennya untuk terus mengawal agar ribuan rumah tidak layak huni (Rutilahu) di Surabaya segera mendapatkan perbaikan.
Tahun ini, sebanyak 2.069 rumah telah direnovasi melalui program tersebut. Sejak pertama kali diluncurkan pada 2021 oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, total sudah 9.500 rumah warga miskin yang diperbaiki. Namun, Eri Irawan mengingatkan bahwa angka itu belum cukup untuk menjawab seluruh kebutuhan warga.
“Kita tidak boleh hanya berhenti pada capaian kuantitas. Masih banyak warga yang menunggu giliran. DPRD mendorong agar program ini diperluas dan dipercepat, karena rumah layak adalah hak dasar yang harus dipenuhi,” tegasnya saat meninjau salah satu rumah penerima manfaat di kawasan Mulyorejo, Selasa (30/9/2025).
Dalam tinjauannya, Eri Irawan menyaksikan langsung kondisi rumah Sumardi, seorang pengayuh becak yang kini bernapas lega karena rumahnya direnovasi. Dulu, Sumardi tinggal di hunian berdinding rapuh dan atap bocor. Kini, ia bersama keluarga bisa beristirahat dengan tenang di rumah yang lebih kokoh dan sehat.
Menurut Eri, kisah Sumardi hanyalah satu dari ribuan cerita warga kecil yang kehidupannya berubah berkat Dandan Omah. Oleh karena itu, ia menegaskan DPRD akan terus mengawal kebijakan anggaran agar program ini tidak hanya sekadar berjalan, tetapi juga benar-benar menjangkau semua lapisan masyarakat miskin kota.
Selain menyoroti pentingnya aspek pemerataan, Komisi C juga menekankan sisi pemberdayaan ekonomi dari program ini. Dengan pola padat karya melalui Kelompok Teknis Perbaikan Rumah (KTPR), warga sekitar ikut terlibat langsung dalam proses renovasi. Hal ini dinilai mampu menciptakan efek ganda, bukan hanya memperbaiki rumah, tetapi juga memberikan lapangan kerja sementara.
“Prinsipnya, pembangunan di Surabaya harus menghadirkan keadilan sosial. DPRD tidak ingin ada warga yang tertinggal, apalagi sampai tinggal di rumah yang membahayakan kesehatan dan keselamatan. Ini bukan sekadar renovasi fisik, melainkan upaya mengangkat harkat dan martabat warga,” lanjut Eri.
Ia pun mengajak semua pihak, baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat luas untuk bersama-sama memperkuat dukungan terhadap Dandan Omah. Menurutnya, program ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah kota, melainkan tanggung jawab kolektif dalam membangun Surabaya yang lebih manusiawi.
“Di balik peluh pengayuh becak seperti Pak Sumardi, ada pesan kuat bahwa setiap warga berhak bermimpi lebih tinggi. Dan mimpi itu butuh tempat yang layak untuk bertumbuh. DPRD akan terus berdiri di garis depan mengawal program ini agar tidak berhenti di tengah jalan,” pungkasnya. (dims)
Editor : Redaksi