Ironi Prioritas MBG: Gaji Petugas Dapur Rp.7 Juta vs Guru Honorer Rp.300 Ribu

author Redaksi

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Ironi MBG
Ironi MBG

i

Oleh : Malika Dwi Ana

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memang punya niat mulia: mengatasi stunting, memperbaiki gizi anak sekolah, dan investasi SDM untuk Indonesia Emas 2045. Secara konsep, ini bisa jadi langkah positif – seperti program serupa di Brasil yang sukses menjangkau 47 juta orang. Di Indonesia, MBG sudah mencapai 30-60 juta penerima, dan pemerintah klaim ini meningkatkan prestasi siswa serta menciptakan lapangan kerja. Namun jika diamati, pemotongan anggaran pendidikan massal buat MBG bikin orang curiga – ini beneran program kesejahteraan, atau proyek cari untung buat segelintir orang? Karena namanya proyek, di mana-mana urusannya ya duit, keuntungan, dan potensi korupsi tentunya.

Bayangin APBN 2026 mengalokasikan Rp757,8–769,1 triliun buat pendidikan – terbesar sepanjang sejarah, katanya. Tapi, Rp223–335 triliun dari itu “disunat” buat MBG, alias hampir 44%nya! Mengakibatkan, porsi efektif untuk pendidikan turun jadi sekitar 14�ri APBN, padahal UUD 1945 wajib minimal 20�ri APBN. Ini bukan cuma angka – ini pelanggaran konstitusi yang bikin prioritas pendidikan ambyar. JPPI bilang MBG “menjarah” anggaran, merusak mutu sekolah, bebanin guru, dan mengabaikan putusan MK soal pendidikan gratis.

Realitas di lapangan. MBG banyak kontroversi: Ribuan kasus keracunan (lebih dari 6.000 siswa), menu ala kadarnya, dan dugaan korupsi. BBC mengungkap seratusan yayasan mitra MBG afiliasi orang dekat pejabat, dapur tak melibatkan warga lokal, dan upah relawan tak transparan. CELIOS perkirakan kerugian negara Rp8,5 triliun karena inefisiensi dan markup 30%. Publik menyebut MBG “proyek korupsi politisi” yang memotong 44% anggaran pendidikan buat kroni presiden – bahkan gadis 20 tahun anak wakil ketua DPRD Sulsel mengelola 41 dapur! Ini bukan program, tapi ladang cuan – menciptakan korupsi berjamaah, inflasi, dan risiko keselamatan anak.

Bayangkan kalau dana itu dialihkan ke pendidikan murni? Pemerintah bisa gratiskan biaya sekolah mahal buat anak kurang mampu- termasuk SD/SMP swasta yang butuh Rp183,4 triliun/tahun, sesuai putusan MK. Naikkan gaji guru honorer yang masih Rp300–400 ribu/bulan (bahkan di bawah Rp500 ribu buat 20% guru) – digaji ala kadarnya. Selain itu bisa meingkatkan kualitas pendidikan: dengn lebih banyak BOS, beasiswa KIP/PIP, riset, infrastruktur – bikin IQ rakyat naik, bukan setara gorila. Ini investasi nyata buat masa depan, bukan sekadar bagi-bagi makan yang berisiko dan boros anggaran.

Apalagi MBG (dengan anggaran raksasa) memberikan gaji lebih tinggi ke staf operasional daripada guru honorer yang ngajar langsung. Kontras antara gaji guru honorer dengan gaji petugas SPPG(Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) mencolok sekali.

Dari data resmi BGN dan laporan:

Kepala Dapur SPPG: Rp6,4–7 juta/bulan (gaji pokok Rp3,7 juta + tunjangan kinerja Rp3 juta + uang makan).

Akuntan & Ahli Gizi: Rp3,5–6 juta (bisa Rp5 juta rata-rata, tergantung daerah).

Tukang Cuci Piring / Tenaga Dapur Lain: Rp1,8–2,7 juta (rata-rata Rp2 juta bersih, tanpa potongan; bisa naik kalau PPPK).

Pengantar/Sopir: Rp2,5–4,5 juta (serupa tenaga lapangan).

Pemerintah bilang MBG investasi SDM jangka panjang (anti-stunting), namun ini prioritas yang salah – kenapa bukan naikin gaji guru dulu? Bisa jadi ini bagian dari “politik perut”, di mana program sosial bisa bikin pemilih jadi loyal. Di banyak negara, hal serupa terjadi – seperti food stamps di AS atau subsidi makanan di India yang sering dikaitkan dengan dukungan elektoral. Di Indonesia, MBG memang jadi ikon legacy Prabowo, dan nampaknya ini sebagai cara jangka panjang buat nge-boost popularitas. Meskipun dibantah oleh Prabowo, bahwa MBG cuma buat galang suara 2029. Tapi ya gak bisa dipungkiri, program seperti ini emang punya potensi nge-bind pemilih lewat manfaat langsung.

Setelah setahun berjalan, evaluasi sepertinya nihil. Gak peduli kritik pedas dan betapa frustasinya publik, MBG terus lanjut dengan anggaran Rp1,2 triliun/hari, sementara pendidikan dikorbankan. Kok seperti sengaja memelihara kemiskinan dan kebodohan? Biar rakyat gampang dikendalikan, nggak berani kritis, dan terus bergantung?

Kalau beneran mau maju, prioritasin pendidikan – bukan proyek yang untungnya buat segelintir orang, dan merugikan rakyat. Waktu yang akan buktikan, tapi kritik ini harus didengar sebelum terlambat.

Penulis : Pengamat Sosial Politik

 

Tag :

Berita Terbaru

Digitalisasi Parkir Surabaya Capai 1.541 Titik, Dishub Tertibkan Jukir Tak Ber-KTA

Digitalisasi Parkir Surabaya Capai 1.541 Titik, Dishub Tertibkan Jukir Tak Ber-KTA

Sabtu, 19 Sep 2026 16:04 WIB

Sabtu, 19 Sep 2026 16:04 WIB

SURABAYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperluas penerapan digitalisasi layanan parkir di seluruh wilayah Kota Pahlawan. Dinas Perhubungan…

Jaga Akuntabilitas Penindakan Pelanggaran, Ditlantas Polda Sulbar Turun Langsung Bimbing Satlantas Mamuju Tengah

Jaga Akuntabilitas Penindakan Pelanggaran, Ditlantas Polda Sulbar Turun Langsung Bimbing Satlantas Mamuju Tengah

Sabtu, 19 Sep 2026 15:06 WIB

Sabtu, 19 Sep 2026 15:06 WIB

POLDA SULBAR - Untuk menjaga akuntabilitas dan memastikan penanganan kasus kecelakaan lalu lintas berjalan profesional, transparan dan sesuai prosedur, Subdit…

Prof. Dr. Tjandra Sridjaya Terpilih Jadi Ketua Umum Asosiasi Advokat Indonesia (AAI)

Prof. Dr. Tjandra Sridjaya Terpilih Jadi Ketua Umum Asosiasi Advokat Indonesia (AAI)

Sabtu, 19 Sep 2026 11:07 WIB

Sabtu, 19 Sep 2026 11:07 WIB

SURABAYA — Pembenahan profesi advokat tidak cukup hanya dengan memperkuat organisasi. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), komunikasi antarsesama a…

Berakhir di Rutan Kejati Jatim! Tersangka Dugaan Pungli ESDM Jatim Oni Setiawan Meninggal Kena Serangan Jantung

Berakhir di Rutan Kejati Jatim! Tersangka Dugaan Pungli ESDM Jatim Oni Setiawan Meninggal Kena Serangan Jantung

Sabtu, 19 Sep 2026 11:02 WIB

Sabtu, 19 Sep 2026 11:02 WIB

SURABAYA — Kabar duka datang dari penanganan perkara dugaan tindak pidana korupsi berupa pungutan liar (pungli) di lingkungan Dinas Energi dan Sumber Daya M…

Pemkot Surabaya Perkuat Nilai Pancasila Lewat Gerakan di Tingkat Kampung

Pemkot Surabaya Perkuat Nilai Pancasila Lewat Gerakan di Tingkat Kampung

Sabtu, 19 Sep 2026 10:57 WIB

Sabtu, 19 Sep 2026 10:57 WIB

SURABAYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari masyarakat melalui Kampung Pancasila.…

Dugaan Kekerasan Terhadap Jurnalis di Pasangkayu, Kapolres Pastikan Penanganan Objektif 

Dugaan Kekerasan Terhadap Jurnalis di Pasangkayu, Kapolres Pastikan Penanganan Objektif 

Sabtu, 19 Sep 2026 10:37 WIB

Sabtu, 19 Sep 2026 10:37 WIB

PASANGKAYU-   Reporter Tribun Sulbar, Taufan, resmi melaporkan dugaan pemukulan dan ancaman yang dialaminya saat menghadiri undangan klarifikasi di SMA Negeri 1…