BATAM- Jaringan judi online (judol) dan love scamming yang diduga beroperasi dari Batam ternyata menggunakan cara baru untuk menjaring korban. Modusnya bukan lagi melalui situs judi konvensional, melainkan melalui aplikasi kencan dan platform
pertemanan yang dioperasikan oleh anak-anak muda dari generasi milenial hingga Gen Z.
Penelusuran Batamnews menemukan, para operator di balik layar sebagian besar adalah pekerja muda berusia 20 hingga 30 tahun.
Mereka direkrut untuk menjalankan berbagai tugas, mulai dari mencari members atau korban, membangun komunikasi, hingga mengarahkan target ke platform judi online.
Tugas para pekerja itu beragam, mulai dari marketing, admin, hingga host live. Untuk urusan deposit, dipegang admin, sedangkan penarikan atau withdrawal diberesin host aplikasi
Para pekerja ini ditempatkan di sejumlah kantor yang dari luar tampak seperti perusahaan biasa. Aktivitas di dalamnya juga terlihat seperti pekerjaan administrasi atau layanan digital
Namun sebenarnya, sebagian dari mereka bertugas menjalankan operasi perekrutan anggota untuk aplikasi judol.
Menyamar Lewat Aplikasi Kencan
Sumber Batamnews mengungkapkan, salah satu metode yang digunakan adalah memanfaatkan aplikasi kencan. Operator membuat akun palsu dengan identitas menarik untuk memancing percakapan dengan calon korban.
Setelah komunikasi terjalin, korban secara perlahan diarahkan untuk mencoba permainan tertentu yang terhubung dengan platform judi online
Awalnya ngobrol biasa seperti di aplikasi kencan. Lama-lama diarahkan ke aplikasi permainan yang ternyata judi,” kata sumber tersebut.
Targetnya bukan hanya warga Indonesia. Dalam beberapa kasus, korban berasal dari luar negeri. Pola ini mirip dengan modus love scamming, di mana pelaku membangun kedekatan emosional sebelum mengarahkan korban ke aktivitas finansial.
Target Perekrutan Ribuan Anggota
Dalam satu perusahaan, jumlah pekerja bisa mencapai 150 hingga 200 orang. Mereka bekerja dalam tiga shift selama 24 jam. Tugas utama sebagian dari mereka adalah mencari anggota baru
Setiap pekerja ditargetkan merekrut sekitar 10 anggota baru per hari. Jika target ini terpenuhi, maka satu perusahaan bisa mendatangkan: sekitar 1.500 anggota baru setiap hari, 45 ribu anggota setiap bulan, dan lebih dari 600 ribu anggota dalam setahun
Para pekerja ini digaji setara Upah Minimum Kota (UMK) Batam. Banyak di antara mereka yang menganggap pekerjaan tersebut sebagai pekerjaan digital biasa
"Sebagian besar yang kerja anak muda. Banyak yang tidak tahu kalau itu sebenarnya jaringan judol,” ujar sumber.
Kantor Disamarkan Seperti Perusahaan Digital
Operasional jaringan ini berlangsung di sejumlah kantor yang telah dikamuflasekan. Dari luar, bangunan tersebut tampak seperti kantor startup, perusahaan digital marketing, atau layanan teknologi.
Di dalamnya terdapat komputer, ruang kerja, dan sistem kerja berbasis shift seperti perusahaan teknologi pada umumnya.
Namun aktivitas yang berlangsung di balik layar berkaitan dengan perekrutan anggota untuk aplikasi judol dan operasi love scamming.
Bagian dari Jaringan Internasional
Investigasi Batamnews sebelumnya menemukan bahwa aktivitas ini diduga merupakan bagian dari jaringan yang lebih besar. Dana hasil operasi tersebut kemudian dialirkan ke berbagai perusahaan formal, seperti hotel, travel, money changer, hingga bisnis hiburan malam.
Perusahaan-perusahaan tersebut diduga digunakan untuk memutar dan mencuci uang hasil kejahatan digital tersebut. Jaringan ini disebut melibatkan
pengusaha lokal dan investor asing yang mengendalikan bisnis dari balik layar.
Batam Jadi Target Operasi
Letak geografis Batam yang dekat dengan Singapura dan Malaysia membuat kota ini dianggap strategis untuk menjalankan operasi lintas negara. Selain itu, ketersediaan tenaga kerja muda dan ekosistem bisnis digital juga menjadi faktor yang dimanfaatkan oleh jaringan tersebut.
Hingga kini Batamnews masih menelusuri berbagai informasi terkait perusahaan, lokasi operasional, serta pihak-pihak yang diduga terlibat dalam jaringan judol dan love scamming yang beroperasi dari Batam. (Sumber: Batamnews.co.id)
Editor : Redaksi