Pembentukkan Holding Pabrik Gula, Komisi VI DPR RI: Pergulaan Nasional masih Rapuh

Redaksi


Pembentukkan Holding Pabrik Gula, Komisi VI DPR RI: Pergulaan Nasional masih Rapuh

Pabrik gula milik PTPN. (Foto: Dok Kementerian BUMN).

BACASAJA.ID - Dalam Pembahasan tentang pembentukan Holding Gula Sugar Company (SugarCo) antara Komisi VI DPR RI dengan BUMN gula, Anggota Komisi VI DPR RI Nevi Zuairina mendorong agar perusahaan gula pelat merah mampu meningkatkan kemajuan industri pergulaan nasional.

Dari informasi yang ia dapat, hingga saat ini, bila seluruh industri pergulaan Indonesia di gabungkan, produksinya masih kalah dari beberapa negara luar.

"Pergulaan nasional kita masih agak rapuh. Dimana, ditengarai sering terjadi gangguan pasokan akibat cuaca, dan gangguan harga akibat kenaikan harga gula dunia yang dipicu dari naiknya penguatan negara penghasil gula terbesar seperti Brazil," tutur Nevi dikutip pada Rabu (22/9/2021).

Nevi melanjutkan, rapuhnya pergulaan nasional ini, paling utamanya ketergantungan importasi gula terutama untuk keperluan gula industri makanan dan minuman. Bahkan di tahun 2013, kemudian di tahun 2017 dan 2018, Indonesia pernah menjadi importir gula terbesar nasional mengalahkan Tiongkok dan Amerika .

"Sesuai dengan keputusan rapat Komisi VI dengan BUMN Gula, yang hadir Dirut PTPN III, PTPN II, PTPN VII, PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, PTPN XII, PTPN XIV, dan PT Sinergi Gula Nusantara, di masa depan BUMN gula harus melakukan upaya pemenuhan pasokan gula dalam negeri agar Indonesia tidak berhantung pada impor dan mewujudkan kemandirian gula konsumsi, meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga stabilitas harga gula ritel melalui pembentukan Sinergi Guka Nusantara," urai Nevi.

Legislator dapil Sumbar II ini berharap, Indonesia 5-6 tahun kedepan bukan lagi negara yang mengimpor gula konsumsi lagi. Diharapkan pada tahun 2025 Indonesia sudah dapat melakukan swasembada gula untuk konsumsi dengan memproduksi 2,8 juta ton.

Politisi PKS itu juga mengatakan, salah satu persoalan internal lemahnya produksi gula nasional sehingga tidak efisien adalah adanya pabrik-pabrik gula existing yang sudah berumur tua, bahkan sebagian besar buatan Belanda era kolonial dan pabrik-pabriknya sudah tutup.

"Harus ada gebrakan modernisasi pabrik-pabrik gula yang ada sehingga Pabrik-pabrik gula sejak zaman Belanda tahun 1800an dapat diganti semua.Pemerintah mesti punya komitmen untuk mengganti ‘pabrik tua’ sehingga produksi gula kita dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri," imbuhnya.

Sebelumnya, Direktur Utama PTPN III Muhammad Abdul Ghani mengatakan, pihaknya akan menggabungkan 35 Pabrik Gula (PG) dari tujuh PTPN Group menjadi milik SugarCo, yang telah didirikan pada 17 Agustus 2021 sebagai entitas tunggal (single entity). Adapun tujuh anak usaha itu meliputi PTPN II, PTPN VII (PT BCAN), PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, PTPN XII (PT IGG), dan PTPN XIV.

Abdul Ghani menjelaskan, tujuan dibentuknya SugarCo antara lain untuk memenuhi gula konsumsi, mengurangi impor gula, dan menghemat devisa negara.

“Termasuk di dalamnya untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan menjaga stabilitas harga gula ritel,” ujar Abdul Ghani dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR, di Jakarta, Senin (20/9). (*/RG4)