Komisi C Soroti Anggaran Transportasi Publik di Surabaya, Aning: Padahal Pendapatan Retribusi Naik

Reporter : Redaksi
Wakil Ketua Komisi C DPRD Surabaya Aning Rahmawati

SURABAYA - Di tengah kebutuhan transportasi publik di Surabaya yang makin mendesak, keberpihakan anggaran untuk sektor ini masih minim. Komisi C mendapati anggaran yang tidak seberapa untuk sektor yang paling dibutuhkan publik ini.

"Semakin ke sini harga BBM terus naik. Biaya mobilitas harian warga terbebani. Transportasi publik mestinya menjadi pilihan paling masuk akal," kata Wakil Ketua Komisi C DPRD Surabaya Aning Rahmawati, Senin(8/9/2025).

Baca juga: Dukung Kebijakan Parkir Nontunai di Surabaya, Ini Alasan Ketua Komisi C DPRD

Selain lebih efisien juga saat ini transportasi publik Surabaya sudah nyaman. Semakin hari jumlah penumpang juga naik signifikan. Artinya tren dan animo untuk naik transportasi publik tinggi.

Namun hingga saat ini ketercukupan armada belum ideal. Begitu juga fasilitas, sarana dan prasarana pendukung juga belum sempurna. Meski begitu signifikansi kenaikan penumpang sangat terasa.

Bahkan keterbatasan untuk transportasi publik itu jelas tergambar dalam konstruksi APBD 2025 ini. Keberpihakan anggaran untuk transportasi publik di Surabaya tergolong minimalis.

Aning yang juga anggota Badan Anggaran dari Fraksi PKS ini menyebut bahwa Surabaya hanya mengalokasikan kisaran 0,3 - 0,7 persen total APBD. Total APBD Surabaya Rp 12,3 triliun.

"Kalau tidak salah total anggaran untuk transportasi publik di kita Rp 60 an miliar. Kota sekelas Surabaya dengan penduduk sekitar 3 juta, anggaran ini terogolong kecil," kata Aning.

Dia membandingkan dengan Kota Semarang yang konon tranportasi publiknya relatif bagus. Setelah ditelusuri, keberpihakan anggaran di kota Jateng ini mencapai 5 persen dari total APBD.

Baca juga: Titik Banjir Tak Kunjung Tuntas, DPRD Surabaya Desak SOP Penanganan Tanggul

Akibat keterbatasan anggaran itu rute transportasi publik terbatas. Jumlah armada belum optimal. Padahal dengan kondisi minimalis itu pendapatan retribusi dari transportasi publik ini naik sangat signifikan.

Pendapatan retribusi dari transportasi publik ini naik dari sebelumnya di kisarran Rp 217 juta setahun, naik hingga Rp 15 miliar. Begitu juga kenaikan penumpang juga tinggi. Setiap tahun penumpang naik 1 juta orang.

Saat ini total armada seluruh transportasi publik di Surabaya sebanyak 144 unit.  Suroboyo Bus ada 16 unit, kemudian Wirawiri ada 102 unit. Ditambah lagi 11 bus listrik dan sebanyak 15 Trans Semanggi Surabaya.

Sebagai kota Metropolitan, Surabaya sudah saatnya menyediakan transportasi publik dengan sarana dan prasarana pendukung yang memadai.

Baca juga: Libur Nataru, DPRD Surabaya Dorong Dishub Maksimalkan Transportasi Publik

"Kalau tidak fokus ke tranportasi publik ini tidak hanya makin macet, beban harian warga Surabaya berat jika ditopang dengan transportasi publik," katanya.

Begitu juga konektivitas antarmoda transportasi juga harus makin dipermudah. Selama ini Wirawiri dan Suroboyo Bus sudah hampir semua terkoneksi. Bahkan selama perjalanan tidak lebih dari 2 jam hanya berlaku satu tiket untuk dua moda ini.

Perkembangan tranportasi publik di Surabaya juga akan disempurnakan dengan kehadiran Surabaya Regional Railway Line (SRRL). Transportasi berbasis rel ini akan menambah pilihan transportasi publik yang nyaman. (dims)

Editor : Redaksi

Hukum
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru