BANDUNG- Alih kelola Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo ke tangan pengelola baru, PT Fauna Land Ancol, memicu atensi dari berbagai pihak. Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) secara tegas meminta pihak manajemen baru untuk menempatkan aspek konservasi, kesejahteraan satwa, dan nasib warga lokal sebagai prioritas utama.
Perubahan struktur manajemen ini dipandang sebagai momentum krusial untuk membenahi sengkarut pengelolaan yang terjadi selama ini. FK3I menilai, pembenahan menyeluruh harus mencakup perlindungan satwa hingga keberlangsungan ekonomi masyarakat yang menggantungkan hidup di destinasi wisata legendaris Kota Kembang tersebut.
Baca juga: Politikus Senior Gerindra Minta APH Usut Dasar Hukum Penggunaan APBD Untuk Bandung Zoo
Jamin Nasib Karyawan dan Cegah Pembangunan Tanpa Urgensi
Koordinator Pusat FK3I yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi Jabar), Dedi Kurniawan, menegaskan bahwa siapa pun yang ditunjuk mengelola Bandung Zoo wajib menjaga kelestarian ekosistem di dalamnya.
"Pihak manapun yang mengelola wajib mengedepankan kelestarian kawasan, baik tumbuhan maupun satwa. Selain itu, janji pemerintah untuk mempekerjakan kembali karyawan yang ada harus ditepati, tentunya melalui proses evaluasi serta pemberian pelatihan dan pendidikan tambahan jika diperlukan," ujar Dedi pada Minggu (14/6/2026).
Tak hanya soal internal kebun binatang, FK3I juga menaruh perhatian besar pada nasib para pelaku usaha mikro di sekitar kawasan konservasi tersebut. Menurut Dedi, roda ekonomi pedagang kaki lima (PKL) di halaman depan, geliat aktivitas di kawasan Kebon Seni, hingga UMKM di dalam area wisata harus tetap dilindungi.
"Pengembangan kawasan harus mengedepankan nilai-nilai peningkatan pendapatan per kapita warga sekitar," tambahnya.
FK3I berharap PT Fauna Land Ancol mampu menciptakan ekosistem bisnis yang seimbang antara profitabilitas, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat sekitar. Oleh karena itu, Dedi mewanti-wanti agar pengelola baru tidak serakah dalam membangun fasilitas fisik yang tidak memiliki urgensi terhadap fungsi konservasi.
Gandeng BKSDA Jabar untuk Perketat Pengawasan
Guna memastikan kesehatan satwa dan keamanan pengunjung terjaga, FK3I mendesak pengelola baru untuk memperkuat sistem monitoring. Langkah ini bisa ditempuh dengan menjalin sinergi yang kuat bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat serta dinas terkait di bawah Pemerintah Kota Bandung.
Salah satu pekerjaan rumah (PR) besar yang menanti PT Fauna Land Ancol adalah peningkatan kelayakan sarana fisik penunjang kesejahteraan satwa (animal welfare). Hal ini meliputi renovasi berkala pada ukuran dan kualitas kandang, pembenahan fasilitas medis hewan, sistem tata kelola lingkungan, hingga pemeliharaan habitat buatan.
Baca juga: Ir Sudarmadji : Lelang Calon Pengelolah Bandug Zoo Tidak Bermanfaat
"Kami mendorong kawasan ini menjadi ruang hidup yang aman dan nyaman bagi satwa agar mereka tetap dapat bereproduksi dengan baik, meskipun mereka berada di luar habitat aslinya," tutur Dedi.
Lebih lanjut, FK3I berharap wajah baru Bandung Zoo nantinya tidak menanggalkan identitas budaya lokal dalam setiap program edukasi lingkungannya. Dengan integrasi yang tepat, kebun binatang tertua di Bandung ini diharapkan mampu bertransformasi menjadi pusat edukasi hayati modern yang berkelanjutan.
Editor : Redaksi