SURABAYA, Bacasaja.id – Presiden RI Prabowo Subianto resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Penganugerahan tersebut diserahkan kepada istri almarhum, Sinta Nuriyah Wahid, di Istana Negara, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta Pusat, Senin (10/11/2025).
Ketua Komisi B DPRD Kota Surabaya, Mohammad Faridz Afif, menyebut semangat pengorbanan dan keberanian moral Gus Dur merupakan inspirasi abadi bagi rakyat Indonesia, khususnya generasi muda.
“Kita semua mewarisi tetesan darah perjuangan itu. Tugas kita adalah meneruskan nilai-nilai Gus Dur: membela kebenaran, menghargai perbedaan, dan menjaga kemanusiaan,” ujar Faridz, Rabu (12/11/2025).
Menurut politisi dari Fraksi PKB ini, Gus Dur adalah sosok yang mewarisi semangat kepahlawanan sejati. Ia menyebut, perjuangan Gus Dur bukan sekadar dalam konteks politik, melainkan perjuangan moral dan kemanusiaan yang menembus batas zaman.
“Dalam dirinya mengalir semangat perjuangan yang diwariskan para pendahulu bangsa, namun diwujudkan dalam bentuk perjuangan kemanusiaan dan kebangsaan,” imbuhnya.
Faridz menegaskan, kepahlawanan Gus Dur tidak hanya diukur dari pengakuan negara melalui gelar Pahlawan Nasional, tetapi dari ketulusan dan keberaniannya memperjuangkan keadilan serta keberagaman, bahkan ketika harus kehilangan kekuasaan.
Ia juga menyinggung momen menjelang pelengseran Gus Dur pada 2001, ketika ribuan kader Ansor dan Banser bersiap ke Jakarta untuk menjaga presiden ke-4 RI itu.
“Saat itu, pasukan Ansor sudah siap bergerak ke Jakarta untuk menjaga Gus Dur. Tapi Gus Dur justru memerintahkan mereka kembali ke rumah masing-masing. Beliau tidak ingin setetes darah rakyat tumpah hanya demi mempertahankan jabatannya,” tutur mantan Ketua GP Ansor Surabaya ini.
Menurutnya, sikap tersebut menjadi bukti nyata bahwa Gus Dur memegang teguh prinsip kemanusiaan di atas kepentingan pribadi atau politik.
“Itulah Gus Dur, seorang pemimpin yang lebih memilih kehilangan kekuasaan daripada mengorbankan rakyatnya. Itulah mengapa saya katakan, beliau adalah tetesan darah pahlawan sejati,” ujarnya.
Faridz menambahkan, gelar Pahlawan Nasional hanyalah simbol formal dari perjuangan besar yang telah diakui rakyat sejak lama.
“Bagi rakyat, Gus Dur sudah lama menjadi pahlawan mereka — pahlawan yang hidup dalam nilai, bukan hanya dalam nama,” pungkasnya. (dims)
Editor : Redaksi