Gemerlap Fiktif Surabaya:  Saat Hiburan Rakyat Surabaya Kembali Dibayar Air Mata Kemacetan!

Reporter : Redaksi
Ilustrasi

Oleh: Tri Widayanto 
Kordinator Liputan 
Bacasaja.id

Di bawah gemerlap lampu pedestrian yang estetik dan deretan piala Adipura Kencana yang dipajang rapi layaknya piala turnamen game online di Balai Kota, Kota Pahlawan tampaknya sedang mengidap penyakit modern yang sangat menggelitik yaitu delusi prioritas akut stadium akhir.

Baca juga: Suroboyo Bus Masih Ugal-ugalan, Anggota DPRD Surabaya: Operatornya Tidak Becus

KERJASAMA ATAU TERSANDERA PEMBERITAAN?

Di bawah sorot lampu festival fashion yang digelar megah Minggu besok, (21 Juni 2026), Surabaya kembali mencoba menampilkan wajah terbaiknya. Namun di balik layar, acara ini tidak lebih dari sekadar kosmetik untuk menutup riak pemborosan anggaran yang kian nyata. Pemerintah Kota Surabaya besok akan tampil begitu jemawa, berdiri kokoh di balik benteng perlindungan mediia besar ternama.

Ketika jurnalisme beralih fungsi menjadi pelindung kebijakan, otokritik pun mati, dan pemborosan anggaran bertopeng kerjasama dalam festival mode ini sukses melenggang tanpa koreksi.

Di saat dompet rakyat jelata di akar rumput sudah megap-megap mirip ikan kekurangan oksigen akibat himpitan ekonomi, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya justru makin hobi menggelar "teatrikal" kemewahan kosmetik. Sebuah selebrasi yang sangat miskin substansi, namun luar biasa kaya dalam urusan membakar Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Belum juga publik sembuh dari trauma "neraka dunia" akibat kemacetan total parade Surabaya Vaganza Mei lalu, ego kekuasaan kini kembali bersiap menghentak aspal Jalan Tunjungan. Melalui gelaran Surabaya Fashion Festival (SFF) 2026 pada Minggu, 21 Juni 2026, Pemkot siap menyulap jalanan menjadi panggung catwalk.

Pertanyaannya sangat sederhana, apakah gelaran ini bisa digoreng untuk mengenyangkan perut rakyat, atau sekadar memuaskan syahwat panggung politik sang penguasa agar terlihat aman dari pemberitaan beberapa kasus yang mendera? Atau agar terlihat trendy dan aesthetic di FYP TikTok dan Reels Instagram?

Baca juga: Jangan Lewatkan! Pemkot Surabaya Beri Tarif Promo Suroboyo Bus dan Parkir Rp79 di HUT ke-79 RI

HURA-HURA ANGGARAN DI TENGAH DEFISIT EMPATI 

Sungguh sebuah ironi yang dikemas secara jenaka namun sebetulnya menyayat hati. Saat pos anggaran perbaikan infrastruktur kampung pinggiran harus diketatkan sampai kering, dengan skema kontrak payungnya, Pemkot malah dengan ringannya menggelontorkan dana miliaran demi model yang melenggang beberapa menit dengan tatapan kosong. 

Manfaat ekonominya? Menguap secepat bensin eceran begitu lampu dekorasi dimatikan.
Lucunya, drama bedak kosmetik ini terjadi di tengah badai isu lokal yang jauh lebih seksi, menyengat, dan berbau amis. Sebut saja teka-teki aliran dana hibah Al-Ibrohimi yang sidangnya sedang memanas di PN Surabaya—sebuah opera sabun korporasi anggaran yang setingkat lebih seru daripada drakor terbaru.

Belum lagi aroma tak sedap dari pasar tumpah Banyu Urip dan Petemon Barat, di mana isu "upeti" darah ayam berbalut bisnis berdarah memaksa Asisten I Muhammad Fikser menggelar rapat darurat demi menyapu bersih bangunan liar.

Baca juga: Dibantu Kemenhub, Wali Kota Eri Luncurkan Teman Bus Trans Semanggi Suroboyo

Hebatnya, Pemkot tampak begitu garang, perkasa, dan tanpa ampun melakukan penertiban PKL kecil di satu tempat, namun mendadak amnesia, impoten, dan pura-pura buta di tempat lain. Sungguh sebuah standar ganda yang sangat mengocok perut.

TAMBAHAN MENU
Proyek Mangkrak dan Janji Manis Pengurai Macet

Kalau Anda pikir penderitaan warga Surabaya cuma sampai di situ, Anda kurang piknik ke pinggiran kota. Di saat model-model bersiap melenggang elegan di Jalan Tunjungan, warga di kawasan Benowo, Lakarsantri, hingga Sukolilo justru sedang asyik bermain wahana "wisata air dadakan" alias banjir akibat proyek saluran air (box culvert) yang pengerjaannya lebih lambat daripada siput yang sedang magang.

Sungguh sebuah sinkronisasi yang luar biasa, di pusat kota sibuk pamer baju, di pinggiran kota sibuk jemur kasur kebanjiran.
Jangan lupakan juga proyek transportasi publik yang katanya revolusioner.

Editor : Redaksi

Hukum
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru